Penulis: Sekar Pradnyadari
“Daluwang itu nama kertasnya. Waktu digunakan sebagai upakara di upacara baru namanya Ulantaga.”
“Bukan pak! Ulantaga itu namanya, bukan Daluwang. Teman-teman lho bilangnya itu Ulantaga!”
Perdebatan ini terjadi setahun lalu dengan bapak, saat saya baru mengenal ada kertas yang bernama ulantaga. Kalau dilihat sekilas kertas ini masih memperlihatkan tekstur serat kayu dengan warna coklat muda menyerempet tua sehingga menciptakan kesan vintage dan klasik.

Sampai pada beberapa minggu lalu, Saka Museum mengadakan acara KALA yang ke-3 dan membahas tentang ulantaga. “Wah menarik nih!” pikir saya. Karena kebetulan sedang berada di daerah dekat Jimbaran, saya putuskan lah untuk datang. Diskusi ini mengingatkan kepada percakapan saya dengan bapak di awal yang berdebat apakah kertas ini bernama Daluwang atau Ulantaga. Sungguh malu rasanya, ternyata Bapak benar. Jadi, selama ini saya salah informasi.
Ternyata kata “luwang” dulunya cukup akrab didengar. Dari tutur Dewa Purwita, dirinya sering mendengar kata tersebut semasa kecil saat pembuatan ogoh-ogoh.
“Waktu kecil, biasanya masa pembuatan ogoh-ogoh dan sering mendengar luwang semen. Luwang semen itu maksudnya kertas pembungkus semen,” kata Dewa.
Karena hal tersebut, dirinya merasa ragu dengan sebutan kertas Ulantaga dan mencoba menggali lebih dalam melalui beberapa sumber lontar. Dari penjelasannya, jika ditelusuri pada kakawin Sumanasantaka Bag. X dari Empu Munaguna, terdapat satu kata “walantaga” yang diterjemahkan sebagai pita-pita. Namun walantaga juga bisa berarti jalan, bendera atau Kawasan hutan ataupun gunung. Walantaga ini kerap kali digunakan pada upacara ngaben (kematian) yang biasanya berbentuk segitiga.

Pada upacara ngaben biasanya ditemukan wadah serupa wadah berbahan terakota, biasa disebut sebagai payuk yang merupakan simbolis tubuh manusia. Di dalamnya terdapat beberapa material lain, seperti tirta, alang-alang, kertas yang ditulis aksara suci, dan sebagainya. Setelahnya, pada ujung atas terdapat walantaga yang bermakna jalan pengantar bagi sang atma menuju puncak gunung. Dapat disimpulkan bahwa walantaga merupakan produk jadinya sedangkan daluwang adalah medium untuk menyuratkan. Jadi, namanya bukan kertas ulantaga namun lebih tepatnya adalah kertas daluwang.
Daluwang, atau di Bali juga dikenal dengan istilah dlancang adalah kertas/kain yang materialnya berasal dari pohon mulberry. Sebelum digunakan sebagai kertas, Daluwang lebih dulu dikenal sebagai kain kulit kayu. Kain ini berasal dari Sulawesi Tengah yang disebut dengan Fuya dan dimanfaatkan sebagai pakaian. Hal ini berkembang sejak Bangsa Austronesia masuk ke Nusantara melalui jalur pelayaran dan diperkirakan mendarat di daerah Sulawesi. Kemudian masuk ke Bali kemungkinan pada tahun 2000 SM. Selain itu, Aryatama yang memang berfokus pada riset dan pengolahan kertas Daluwang juga menjelaskan jikalau beberapa sejarawan lokal meyakini bahwa Tiongkok juga memperkenalkan kertas dari material serupa sekitar 300 SM melalui jalur perdagangan.

Lantas, kain kulit kayu masuk ke Jawa (saya belum mengetahui tahun persisnya) dan dikenal dengan sebutan Tapa. Namun di daerah ini, kain kulit kayu lebih banyak dimanfaatkan sebagai media untuk menulis dan daluwang tertua di Jawa ditemukan pada Wayang Beber. Hal ini memperlihatkan bahwa kain kulit kayu digunakan juga sebagai material pembuatan wayang.
Proses pengolahan daluwang ini memerlukan waktu yang lama, karena masih menggunakan teknik tradisional. Hal ini lah yang membuat kertas daluwang cukup jarang ditemukan. Aryatama juga menjelaskan beberapa alat yang digunakan dan salah satunya adalah beater (pemukul). Beater yang digunakan di Indonesia sudah mengalami modifikasi dengan adanya tambahan pegangan menggunakan material rotan.
Selain digunakan sebagai sarana upacara, kertas daluwang juga dimanfaatkan sebagai media lainnya seperti kalendar (tika), rerajahan, kitiran kajang – kertas yang ditulis aksara suci, kemudian digunting membentuk pola kupu-kupu, kajang – kain/daluwang yang ditulis aksara suci yang menggambarkan badan manusia (cukup langka yang menggunakan daluwang), serta digunakan juga pada seni rupa.

Membahas penggunaannya pada seni rupa, dalam syair Kitab Sundhayana terdapat penyebutan kata “p??a” yang berasal dari kata pata dalam Bahasa Sansekerta berarti sepotong kain berlukis; lukisan. Sehingga Dewa Purwita pun juga mempertanyakan, mungkinkan pada masa lalu Daluwang umum dipergunakan sebagai medium lukis? Atau sebaliknya menjadi medium yang eksklusif? Hal ini belum dapat dipastikan dan perlu penggalian lebih dalam untuk dapat mengonfirmasinya.
Hari-hari ini dalam seni lukis kontemporer, Daluwang mulai dipergunakan kembali. Salah satunya melalui pameran peradaban Awarna Warna Bali yang mencoba mengeksplorasi efek yang dihasilkan di atas kertas tersebut. Kertas ini juga mulai dikembangkan oleh Aryatama, prosesnya memang cukup menguras waktu, dari mulai penanaman pohon murbei untuk menjadi satu kertas. Ia pun mencoba mengeksplorasi kegunaannya sebagai media seni grafis.
Menariknya, satu kekeliruan juga sempat tersampaikan pada sesi diskusi. Salah satu peserta sempat mengatakan bahwa orang tuanya berkata kalau daluwang itu berasal dari ikan. Cukup menarik sebenarnya untuk ditelusuri, kenapa akhirnya muncul pandangan seperti ini. Kekeliruan-kekeliruan serupa mungkin masih cukup sering terjadi, dan edukasi perihal ini juga masih belum luas. Padahal kertas ini adalah kertas tradisional yang masuk warisan budaya tak benda Indonesia. Saya pun mengajukan pertanyaan yang terdengar konyol rasanya. Kenapa harus kertas daluwang yang digunakan untuk sarana upacara? Padahal materialnya cukup sulit untuk dicari dan harganya mahal. Apakah akan menciptakan energi berbeda kalau menggunakan kertas lain? Kalau menurut penjelasan Dewa Purwita, jika memang terdesak seharusnya tidak kenapa menggunakan bahan kertas selain daluwang. Tapi, tetap diusahakan menggunakan kertas ini.
Bahkan, ada peserta yang mengatakan kalau dirinya sampai mengimport kertas tersebut dari China dengan harga lebih dari 1 juta rupiah sepertinya untuk ukuran 2 meter, saya lupa persisnya.

Sebenarnya saya juga bertanya-tanya dan hal ini dipertanyakan pula oleh Dewa Purwita. Jika memang kertas ini diperlukan sebagai sarana ritual dan seni, seharusnya ada banyak pohon ataupun produksinya. Tapi, kok malah sebaliknya? Sedikit sekali. Sampai sekarang pun, saya masih belum menemukan jawaban pasti dari pertanyaan ini. Apakah karena proses pengolahannya yang memakan waktu? Atau kita memang menyukai hal yang instan? Atau mungkin ada suatu kejadian yang menyebabkan pembudidayaan material ini berkurang?
Padahal menurut saya, kertasnya sangat bagus untuk bahan buku, kertas journaling ataupun untuk merangkai bunga! Saya sempat lihat beberapa ide flower arranging di Pinterest yang menggunakan material ini. Kalau boleh berandai-andai, jika banyak yang membudidayakan pohon mulberry dan paham dengan proses pengolahannya seperti yang dilakukan oleh Aryatama, mungkin perlahan kertas ini tidak akan hilang. Juga kalau digunakan sebagai sarana upacara pun tidak perlu import lagi dari luar negeri. Sekali lagi ini hanya membayangkan saja, tapi kalau kemudian jadi kenyataan dengan senang hati akan diaminkan.
kawijitu kawijitu kawijitu kawijitu







![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)