
“Sejarah ditulis oleh pemenang,” kalimat yang muncul lagi akhir-akhir ini dan semakin sering muncul ketika pemerintah ingin menulis ulang sejarah. Sejarah merupakan sesuatu yang sepatutnya dipertanyakan karena hanya mereka yang hidup pada masa itu yang benar-benar tahu kejadian sebenarnya,
Di masa sekolah, saya kerap kali tidak mengindahkan mata pelajaran sejarah. Pasalnya, tiap tahun polanya selalu sama, guru-guru lebih banyak bercerita kehidupan pribadinya dibandingkan isi buku sejarah. Akhirnya, mata pelajaran ini hanya mengandalkan hafalan, bukan pemahaman.
Saya lebih banyak belajar sejarah di buku fiksi dibandingkan di buku pelajaran sekolah. Umumnya, buku pelajaran sejarah hanya menjelaskan secara singkat dan umum. Sementara, fiksi sejarah menyajikan dinamika kehidupan masyarakat yang terjadi pada masa itu. Berikut beberapa buku fiksi sejarah yang bisa Anda baca.
Tetralogi Pulau Buru
Pramoedya Ananta Toer, nama yang tak asing di telinga pembaca buku. Sejumlah buku fiksi sejarah Indonesia kerap memasukkan namanya ke dalam plot cerita. Pram merupakan tahanan politik pada tahun 1965. Bersama para tapol lainnya, ia diasingkan ke Pulau Buru pada tahun 1973.
Di Pulau Buru, Pram mulai menulis Bumi Manusia, buku pertama Tetralogi Pulau Buru atau Tetralogi Bumi Manusia. Selain bumi manusia, ada tiga buku lain, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Tetralogi Pulau Buru berlatar masa peralihan antara abad ke-19 dan abad ke-20 di Indonesia. Bumi Manusia memperkenalkan Minke, seorang priyayi yang bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS), pendidikan menengah umum pada zaman kolonial untuk orang Belanda, Eropa, Tionghoa, dan elit pribumi.
Sebagai seorang priyayi yang memiliki keistimewaan, Minke justru digambarkan sebagai seorang revolusioner. Ia memiliki sikap egaliter, memandang semua orang setara tanpa perbedaan status. Buku Bumi Manusia juga memperkenalkan tokoh-tokoh yang membentuk karakter Minke pada buku selanjutnya, yaitu Nyai Ontosoroh dan Annelies Mellema. Sementara, Anak Semua Bangsa menceritakan Minke yang mulai mengenal lebih dekat kaumnya sendiri. Dilanjutkan dengan Jejak Langkah yang mengenalkan Minke pada tokoh di balik gerakan pribumi. Buku terakhir, Rumah Kaca, lebih menceritakan tentang Jacques Pangemanan, keturunan Eropa yang bekerja sebagai polisi.
Tetralogi Pulau Buru pernah dilarang peredarannya pada masa Orde Baru karena dianggap mengandung ajaran Marxisme dan Komunisme. Meski sudah tidak dilarang, Tetralogi Pulau Buru saat ini susah didapatkan karena cetakan ulang yang terbatas.
Perempuan Bersampur Merah
Tahun 1998 kental dengan Reformasi, jatuhnya pemerintahan Orde Baru. Namun, di ujung timur Pulau Jawa terjadi tragedi mengenaskan, yaitu pembantaian dukun santet. Intan Andaru merangkai latar belakang peristiwa ini melalui Perempuan Bersampur Merah.
Buku ini menceritakan tentang Sari, anak dari salah satu korban pembantaian dukun di Banyuwangi. Sari yang masih berusia sembilan tahun ingat betul peristiwa yang merenggut nyawa bapaknya. Bapaknya diseret gerombolan warga pada malam hari karena dituding sebagai dukun santet.
Sari mencari jawaban atas kematian bapaknya bersama dua sahabatnya, Rama dan Ahmad. Ia menuliskan daftar nama yang ikut mengarak bapaknya pada malam hari. Dalam misi pencariannya, Sari menjadi penari Gandrung. Ini yang memunculkan kata bersampur merah pada judul. Dalam beberapa bagian, buku ini juga memunculkan sejumlah tradisi di Jawa Timur.
Perempuan Bersampur Merah lebih banyak bercerita tentang trauma para korban dibandingkan dengan tragedinya. Bab akhir menampilkan kisah cinta segitiga antara Sari, Rama, dan Ahmad yang justru memudarkan konflik utama buku ini. Meski begitu, buku ini sangat disarankan untuk dibaca karena sangat jarang ada fiksi sejarah yang membahas tentang peristiwa pembantaian di Banyuwangi.
Cantik Itu Luka
Saat membaca bab awal, saya kira buku ini memiliki genre horor misteri. Narasi menggambarkan Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah 21 tahun kematiannya. Kebangkitan Dewi Ayu mempertemukannya dengan Cantik, anaknya yang digambarkan buruk rupa. Cantik merupakan anak terakhir Dewi Ayu yang tidak pernah diketahui siapa bapaknya. Ketika mengandung Cantik, Dewi Ayu berdoa dalam hati agar anaknya tidak lahir dengan kecantikan karena seperti judul buku ini, cantik itu luka.
Cantik Itu Luka merupakan novel pertama karya Eka Kurniawan yang diterbitkan tahun 2002. Dengan tebal sekitar 500 halaman, novel ini menyajikan latar waktu dari era kolonial Belanda, Jepang, hingga tahun 1980-an.
Buku ini banyak bercerita tentang kehidupan Dewi Ayu. Ia lahir dari pernikahan seorang Belanda dan Nyai. Di masa penjajahan Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi Jugun Ianfu, perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang.
Dalam perjalanannya, Dewi Ayu melahirkan empat anak perempuan, Alamanda, Dinda, Maya Dewi, dan Cantik. Tiga anak perempuannya memiliki paras cantik seperti Dewi Ayu, sedangkan Cantik justru berparas buruk rupa.
Meski kebanyakan cerita berpusat pada Dewi Ayu dan anak-anaknya, beberapa tokoh pendukung turut diceritakan kisahnya. Saya rasa buku ini ingin menonjolkan sosok Dewi Ayu yang kuat dan tegar di tengah nasib yang menimpanya.
Orang-orang Oetimu
Timor Timur, negeri yang asing bagi saya. Padahal, lokasinya masih ada di lingkaran negara Indonesia. Orang-orang Oetimu mengenalkan saya pada Timor Timur pada masa kolonialisme Indonesia. Novel karangan Felix K. Nesi ini disebut-sebut sebagai fiksi etnografis karena kelihaiannya menggambarkan Timor Timur di masa itu.
Seperti yang tertulis di sampulnya, buku ini memberikan perspektif baru di tengah buku-buku yang sangat Jawa-sentris. Dari sampulnya (cetakan berwarna hijau) saja sudah tampak apa saja yang dibicarakan novel ini, polisi, agama, cicak, kuda, dan sopi (minuman keras).
Ada beberapa tokoh di Oetimu yang dikenalkan oleh Felix. Porsi cerita tokoh tidak sama, tapi pada satu adegan para tokoh ini berjumpa satu sama lain. Bagian awal mengisahkan Sersan Ipi, polisi yang memperlakukan masyarakat Timor dengan semena-mena.
Ada juga Silvy, seorang siswa pintar yang dibenci oleh para guru karena saking pintarnya. Tokoh lainnya adalah Romo Yosef, seorang romo yang dipuja-puji umatnya. Membaca Orang-orang Oetimu perlu ingatan yang tajam. Pasalnya, beberapa tokoh hilang di tengah jalan, tapi tiba-tiba muncul lagi bersama tokoh utama lain.
Laut Bercerita
Buku yang satu ini masih ramai diperbincangkan hingga saat ini. Kisah Biru Laut, tokoh utama Laut Bercerita, masih terkait dengan aktivisme masa kini. Pada Agustus hingga September 2025 lalu banyak aktivis yang dikriminalisasi, bahkan terjadi penyitaan buku milik salah satu aktivis.
Momen itu mengingatkan pada masa Orde Baru, ketika kebebasan dibatasi. Pada masa itu, kebanyakan gerakan berasal dari kalangan mahasiswa, termasuk Biru Laut dan teman-temannya. Laut merupakan seorang mahasiswa sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM). Keterlibatannya dalam gerakan aktivis diawali dari pertemuannya dengan Kasih Kinanti di tempat fotokopi buku terlarang.
Laut dan tema-teman seperjuangannya membentuk gerakan akar rumput yang kerap mendiskusikan buku-buku terlarang, salah satunya buku karya Pram dan membantu konflik-konflik masyarakat kecil.
Kisah Laut dibagi menjadi dua periode, yaitu sebelum Laut dipenjara dan setelah dipenjara. Paruh kedua buku ini menceritakan sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Laut. Asmara lebih banyak bercerita tentang keluarga yang kehilangan dan masa-masa pencarian kakaknya. Bagian yang paling membuat terenyuh ketika bapak Laut selalu menyiapkan piring makan Laut, bahkan ketika Laut hilang. Konflik-konflik di buku ini dibumbui dengan kisah cinta antara Laut dan Anjani
Dari penulisan dan latar belakang ceritanya, Leila S. Chudori tampaknya melakukan riset yang begitu dalam. Laut Bercerita diadaptasi dalam film pendek berdurasi 30 menit. Fokus film ini lebih banyak pada saat Laut dipenjara dibandingkan gerakan yang dilakukannya.
Ronggeng Dukuh Paruk
Ronggeng Dukuh Paruk sebenarnya merupakan trilogi buku Ahmad Tohari dengan judul Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Ahmad Tohari mengemas novel ini dengan berbagai konflik, dari sosial, budaya, agama, hingga isu patriarki di masyarakat.
Sebagaimana judulnya, tokoh utama buku ini adalah Srintil, seorang ronggeng yang menghidupkan kembali tradisi yang telah lama hilang di Dukuh Paruk. Perjalanan Srintil sebagai ronggeng membuat hubungannya dengan Rasus, sahabatnya, menjauh.
Konflik utama buku ini berlatar belakang peristiwa 1965. Pembersihan politik besar-besaran terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Dukuh Paruk. Masyarakat Dukuh Paruk yang dekat dengan PKI ikut terkena imbas. Dukuh Paruk porak poranda, Srintil pun ditahan selama dua tahun karena dituduh dekat dengan PKI.
Melalui buku ini, Ahmad Tohari seolah menggambarkan situasi sosial dan politik pada masa itu. Pada kurun waktu tersebut, isu patriarki masih menjadi persoalan. Perempuan diobjektifikasi dan hanya dipandang sebagai pemuas nafsu seksual. Ini pun diperkuat dengan tradisi yang turun menurun diwariskan.
Selain enam buku di atas, masih ada beberapa buku fiksi sejarah yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Ada buku Pulang dengan sekuelnya Namaku Alam oleh Leila Chudori yang membahas tentang eksil politik, gerakan aktivisme 1998, dan keluarga yang kehilangan. Ada pula Entrok karya Okky Madasari yang membahas situasi perempuan dan politik pada masa Orde Baru. Tak ketinggalan karya Ratih Kumala, Gadis Kretek, menceritakan sejarah kretek di Indonesia yang tak lepas dari kehidupan budaya, sosial, dan politik di Indonesia. Buku terakhir yang saya reomendasikan adalah Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching dengan kisah yang jarang diangkat, yaitu kehidupan tak tentu keluarga Tionghoa di tengah intrik politik Indonesia.
sangkarbet








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

