• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, April 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya

I Made Argawa by I Made Argawa
2 December 2019
in Berita Utama, Kesehatan
0
0
Sebelum penggerebakan, LSM lebih mudah mengontrol pekerja seks dan pelanggannya. Foto Astarini Ditha.

Bagaimana penjaja cinta bergulat dengan isu kesehatannya?

Di sudut dekat gerbong
Yang tak terpakai
Perempuan ber-make up tebal
Dengan rokok di tangan
Menunggu tamunya datang
Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal
Dan segumpal harapan
Kapankah datang
Tuan berkantong tebal?

Potongan lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Doa Pengobral Dosa mungkin menjadi gambaran keseharian Sinta (bukan nama sebenarnya), 42 tahun yang menjadi pekerja seks sekaligus sebagai penyuluh lapangan di Yayasan Kerti Praja (YKP), Denpasar.

“Di Bali kerja seks sudah tidak tabu,” katanya pada April 2019 lalu. Dengan kondisi itu kesadaran para pekerja seks untuk memeriksakan kesehatannya jadi lebih tinggi. “Kalau di Jawa, datang ngecek ke Puskesmas aja sudah dituduh HIV/AIDS,”

Perempuan asal Bandung ini diminta menjadi penyuluh lapangan oleh YKP karena rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengajak teman satu profesinya.

Menjadi penyuluh lapangan, kadang Sinta absen melakukan pekerjaan sebagai penjaja cinta sesaat. “Utamakan pelanggan saja, saat ini enggan mencari yang baru,” ujarnya. Ia juga lebih sering bertransaksi melalui internet atau online.

Sinta merinci setidaknya memiliki 20 orang pelanggan yang aktif diajaknya berhubungan melalui dunia maya. Umumnya, pelanggan perempuan bertindik di hidung ini adalah pebisnis yang datang ke Bali.

“Ada dari Jakarta, Jogja, Manado dan Makasar,” katanya.

Kadang Sinta menemukan rekan satu profesi yang masih enggan diajak untuk melakukan pengecekan HIV terutama yang ‘bermain’ di online. “Alasanya karena sudah punya dokter pribadi,” ujaranya. “Saya yakin itu ngk ada,”

Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya, Susan mengutamakan kenyamanan dan kesehatan. Menurutnya hal itu yang membuat para pria ketagihan dengan servisnya. “Saya buat nyaman,” ujarnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah kesehatan pelanggan yang dilayani oleh Sinta. Hal pertama yang menjadi acuanya adalah kebersihan organ intim. “Jika rambut kelaminnya lebat, saya cek dulu,” katanya.

Ia pernah menemukan pelangganya yang terkena penyakit herpes pada organ intim. Setelah mengetahui hal itu, Sinta memberitahu dan meminta melakukan pemeriksaan ke dokter.

“Katanya malu, akhirnya saya yang konsultasi ke apotek dan mencarikan obat,” ujarnya.

Bonus Uang

Setelah pelanggan Sinta tersebut sembuh karena pengobatan rutin, akhirnya Sinta mendapatkan bonus berupa uang. “Saya sempat diajak ‘main’ tapi tak tolak,” katanya sembari tertawa. Selain itu, Sinta pernah menemukan calon pelanggannya terkena kutil kelamin.

“Kebersihan organ itim itu penting untuk mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS),” ujarnya.

Perempuan yang bercerai dan akhirnya memutuskan menjadi pekerja seks karena tuntutan ekonomi ini menyebutkan, sebagai penyuluh lapangan kadang ada rekan satu profesi yang sudah melakukan pengobatan HIV dan kondisinya mulai membaik tidak konsisten melakukan pengobatan.

“Kalau sudah makin parah jadi repot,” katanya.

Saat ini di Yayasan Kerti Praja ada 11 orang pekerja seks termasuk kordinatornya menjadi penyuluh lapangan.

Puspa Reni, 52 tahun mantan pekerja seks yang saat ini menjadi penyuluh lapangan di Yayasan Kerti Praja menyebutkan dirinya sempat down mengetahui terjangkit HIV. “Dua bulan setelah menjadi PS (pekerja seks), itu terjadi,” ujarnya.

Reni akhirnya diajak ke Yayasan Kerti Praja oleh koordinator petugas lapangan bernama Pak Dewa. Dari perkenalannya itu Reni mulai membuka diri dan rutin melakukan pengobatan.

“Saat ini berat saya 65 kilogram, turun 3 kilo karena begadang nonton televisi,” katanya.

Setelah mengetahui menjadi seorang ODHA saat aktif menjadi pekerja seks, Reni mewajibkan pelanggannya menggunkan kondom. “Jika tidak mau, saya juga tidak melayani,” ujarnya.

Sejak 2009 hingga kini Reni mengalami banyak perubahan terutama pada kepercayaan dirinya sebagai orang dengan HIV AIDS (ODHA) setelah mulai terbuka. “Saya bangga karena menjadi pembicara dibanyak tempat soal masalah saya,” ujarnya.

Pada masa kampanye pemilihan legislatif perempuan dengan rambut sebahu ini sempat diajak oleh calon anggota dewan untuk penyuluhan di banjar-banjar. “Saya sudah biasa tampil di publik,” kata Reni. [b]

kampungbet
Tags: Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Made Argawa

I Made Argawa

berusaha santai ditengah dunia yang semakin cepat

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Next Post
Menyelami Magic di Pulau Dewata

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap [1]

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia