Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap

Ada dua sumber teks yang bisa dibaca untuk mengetahui cerita Calon Arang. Sumber pertama adalah prosa, sumber kedua berupa geguritan [puisi].

Keduanya bisa dibaca sebagai hasil study dari I Made Suastika yang diterbitkan oleh Duta Wacana University Press pada tahun 1997. Dalam tulisan ini, yang digunakan sebagai sumber bacaan adalah teks Calon Arang Prosa. Begini isinya.

Mpu Baradah berasrama di Lemah Tulis. Konon dia adalah Mpu yang sangat sakti dan telah berhasil merasakan rasa Dharma. Entah bagaimana rasa Dharma itu, kita tidak tahu. Barangkali rasanya lebih nikmat dari ayam betutu. Saya curiga, yang dimaksud Dharma dalam teks Calonarang bukanlah ‘kebaikan’, bukan pula ‘kewajiban’ sebagaimana kata itu diterjemahkan kini. Lalu apa? Mari kita baca pelan-pelan.

Dharma konon tidak pernah mati. Contohnya dalam cerita setelah perang Bharata, hanya Dharma Wangsa yang berhasil mencapai surga dengan tubuh kasarnya. Artinya, Dharma itu tidak mati, dia abadi. Dharma tidak mati, karena Dharma selalu menang. Mati dalam bahasa Jawa Kuno adalah Merta. Yang tidak mati disebut Amerta. Amerta adalah salah satu jenis air suci [tirtha] yang diperebutkan oleh Raksasa dan Dewa karena bisa membuat abadi. Dalam teks-teks kuna, Amerta sering dianalogikan seperti air yang turun dari atas. Air itu turun setelah seseorang mempraktikkan Yoga Dhyatmika.

Ada banyak teks yang bisa dibaca untuk mendapatkan penjelasan tentang Yoga Dhyatmika ini. Semua teks-teks itu bertebaran seperti bunga-bunga jepun yang berserakan. Hanya pemungut yang sabar bisa mendapatkan jepun spesial. Contoh spesialnya ajaran dalam teks-teks itu adalah perihal penjelasan tentang amerta. Barangkali, karena telah berhasil mendapatkan sari-sari ajaran Yoga dan amerta itulah, Mpu Baradah disebut telah merasakan rasa Dharma. Dharma dalam konteks ini adalah amerta. Rasa Dharma berarti rasa amerta. Merasakan amerta berarti merasakan sari-sari Yoga.

Spesialnya Mpu Baradah tidak hanya sampai disana. Menurut ceritanya, Mpu Baradah juga menguasai cara-cara untuk keluar-masuk dunia [pasuk wetu bhuwanatah]. Apa maksudnya? Ada dua Bhuwana [baca: dunia] yang dikenal secara kolektif dalam tradisi Bali. Dua dunia itu adalah dunia kecil dan dunia besar. Dunia besar adalah semesta, dunia kecil adalah tubuh. Dari dan ke dua dunia itulah Mpu Baradah keluar masuk. Bagaimana caranya untuk keluar masuk ke kedua dunia itu? Dimana gerbang tempat keluar masuknya? Kita belum tahu jawabannya, karena belum dijelaskan oleh teks Calon Arang. Mari kita bersabar dulu, siapa tahu pada bagian-bagian tertentu, ada petunjuk yang bisa kita manfaatkan.

Putri satu-satunya Mpu Baradah bernama Wedawati. Wati berarti mahir, terampil, mampu. Wedawati berarti ia yang mahir dalam Weda. Sebagaimana kebanyakan cerita, Wedawati konon sangat cantik. Sayangnya, Wedawati harus menerima kenyataan pilu, ibunya meninggal karena sakit. Sakit yang diderita oleh ibunya tidak dijelaskan oleh pengarang Calon Arang. Wedawati sangat sedih, dia memeluk tubuh ibunya. Tubuh itu juga yang diupacarai dan dibakar di Sema. Sema berarti kuburan. Singkat cerita, semua upacara pembakaran selesai. Entah apa alasannya, Mpu Baradah yang kehilangan istri, menikah lagi. Dari perkawinan itu, lahirlah satu orang anak laki-laki. Jadi, Wedawati punya adik tiri laki-laki.

Suatu hari, konon Mpu Baradah berada di pertapaan bernama Wisyamuka. Disana Mpu Baradah mengadakan ritual yadnya. Tidak jelas yadnya jenis apa yang dilakukan seorang Mpu sekaliber itu dipertapaannya. Tapi menurut pencerita Calon Arang, di sanalah Mpu Baradah dilayani oleh para muridnya. Di Wisyamuka itu pula, hubungan guru-murid benar-benar terjadi. Sebab di tempat itu segala ajaran diberikan oleh Mpu Baradah, diterima oleh para murid. Memberi dan menerima ajaran adalah ciri hubungan guru-murid. Apa saja ajaran Mpu Baradah yang terkenal sakti itu? Salah satu kesaktiannya yang terkenal adalah bisa menghidupkan orang mati. 

Di dalam teks Calon Arang, adegan menghidupkan orang mati ditunjukkan pada saat Mpu Baradah akan bertemu dengan Calon Arang. Manusia yang sudah mati bisa dihidupkan oleh Mpu Baradah dengan syarat tubuh orang itu masih utuh. Tentang adegan ini, kita lanjutkan nanti.

Sekarang kita lanjutkan lagi pembacaan teks Calon Arang. Suatu ketika, dengan perasaan yang remuk redam, Wedawati pergi ke kuburan. Ia dihina oleh adik tirinya. Entah apa yang sudah dikatakan oleh anak laki-laki itu, kita tidak diberitahu oleh teks. Kita boleh menduga-duga, ucapan apa yang bisa menyakiti hati Wedawati. Tapi sebagai pembaca, kita juga harus sabar menunggu jawaban yang mungkin diselipkan di suatu tempat di pusaran teks Calon Arang. Untuk saat ini, kita lihat saja dulu, apa yang dilakukan seorang Wedawati di kuburan?

Wedawati sampai di bawah pohon beringin yang rindang. Batangnya sangat besar dan terlihat menakutkan. Di bawah pohon beringin itu, Wedawati melihat ada empat mayat yang tergeletak. Konon keempatnya mati karena terkena teluh. Dalam banyak teks yang diwarisi di Bali kini, kata teluh biasanya bersanding dengan kata desti dan terangjana. Ketiganya berkonotasi negatif karena berkenaan dengan ilmu menyakiti orang. Tidak hanya sekadar menyakiti, dalam cerita Calon Arang konon teluh bisa digunakan untuk membunuh orang.

Di samping salah satu mayat yang diceritakan tadi, seorang bayi terlihat masih menyusu pada mayat seorang wanita. Wanita itu adalah salah satu korban teluh. Keadannya sudah sangat buruk, mayat itu dikerubungi semut. Wedawati dengan perasaan sedih segera pergi dari tempat itu. Bayi tadi mungkin dibiarkannya disana. Saya tidak tahu, apa yang terjadi kemudian pada bayi tadi. Juga saya tidak paham, mengapa dalam cerita, Wedawati tidak menolong bayi itu.

Wedawati menuju tempat jasad ibunya lenyap dibasmi api. Dekat tempat itu, ia duduk di bawah pohon Kepuh sambil memanggil-manggil ibunya, “Ibu, jemputlah aku sekarang. Tidak ada lagi yang mencintaiku sepertimu Ibu”. 

Sampai disana, saya sama sekali belum menemukan sebuah nama yang menunjukkan siapa Ibu kandung Wedawati. Tidak juga saya berhasil membaca satu petunjuk apapun tentang nama Ibu dan adik tirinya. Tampaknya nama-nama itu memang tidak disebutkan sepanjang cerita Calon Arang. Kenapa? Saya belum tahu kenapa. Tapi saya meyakini, nama-nama itu penting untuk diketahui, agar kita tahu peta cerita Calon Arang secara lebih jelas. Barangkali di antara nama-nama itu, ada satu nama yang kita kenal dengan baik. 

Sementara Wedawati berada di kuburan, Mpu Baradah pulang ke Lemah Tulis setelah menyelesaikan yadnya di Wisyamuka. Di rumah, Wedawati tidak dilihatnya. Istrinya menceritakan apa yang sudah terjadi, sampai tragedi menghilangnya Wedawati. Dengan sigap, Mpu Baradah pergi mencari Wedawati.

Berkat bantuan seorang pengembala, Mpu Baradah tahu kalau anak perempuan satu-satunya sedang berada di kuburan. Kesanalah Mpu Baradah menuju. Saat bertemu, Mpu Baradah meminta Wedawati untuk pulang ke Lemah Tulis.

“Anakku, pulanglah. Untuk apa kau tangisi lagi kepergian ibumu? Sebab memang segala yang hidup, akan mati nanti. Pulanglah sayang”.

“Biar aku disini Ayah. Di bawah pohon Kepuh ini, aku ingin diam. Aku ingin bertemu ibu”, kata Wedawati.

“Mari Nak, dengarkan ucapan ayahmu ini. Pulanglah, pulang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari pada pulang”

Wedawati mau pulang ke Lemah Tulis. Di sana ia mendapat banyak ajaran kebenaran dari sang Ayah yang sekaligus gurunya. Disinilah pentingnya, kita tahu kemana aliran cerita kehidupan Wedawati mengalir dan bermuara. Sebab Wedawati adalah penerima ajaran Mpu Baradah yang bisa kita lacak dalam teks Calon Arang. Mengetahui kemana Wedawati mengalirkan dirinya, berarti mengetahui kemana ajaran Mpu Baradah mengalir selanjutnya. Mengetahui aliran ini penting, agar kita tidak kehilangan jejak ajaran. Jejak ajaran itu selalu ada, sayangnya jejak itu seperti jejak ikan dalam air.

Mpu Baradah kembali menggelar yadnya di Wisyamuka. Disana Mpu Baradah mengajarkan tentang Dharma dan Putusing Angaji. Ajaran Dharma dalam hal ini bisa ditafsir sebagai ajaran kebenaran dan sekaligus ajaran kehidupan. Ajaran tentang Putusing Angaji barangkali tidak jauh-jauh dari kata putus. Putus dalam hal ini berarti sebagaimana dalam bahasa Indonesia, atau pegat dalam bahasa Bali. Angaji bisa diterjemahkan belajar. Putusing Angaji bisa berarti selesainya tahapan belajar.

Putusing Angaji juga bisa diterjemahkan dengan cara lain semisal “putus dalam belajar”. Pelajaran apa yang mesti putus atau pegat? Dalam konteks ini barangkali yang dimaksud adalah pelajaran tentang Dharma. Dharma yang konon abadi itu, bukan berarti tidak bisa diakhiri. Dharma dalam pengertiannya sebagai cara, bisa diakhiri: Dharma pegat, Dharma Putus!

Dharma Putus adalah salah satu teks kakawin yang isinya tidak jauh-jauh dari Kasunyatan. Di dalamnya disajikan cara untuk mengadakan Sunya. Tentang cara mengadakan Sunya ini, tidak akan kita bahas sekarang.

Jadi, siapa sesungguhnya Mpu Baradah yang dimaksud oleh cerita Calon Arang? Baradah adalah Ayah Wedawati. Dia juga seorang guru. Sebagai ayah, ia seperti langit yang menaungi. Sebagai guru, ia seperti bumi yang menjaga. Menjadi Ayah dan menjadi guru, pastilah sama susahnya.

Sampai di sini, kita menemukan sesuatu yang jarang dipikirkan orang saat mendengar kata Calon Arang. Sesuatu itu adalah Mpu Baradah dan Wedawati. Padahal dalam teks yang dibaca sebagai suber tulisan ini menyebutkan: Iti katattwanira sira Sri Mpu Baradah [ini cerita Mpu Baradah]. Artinya, cerita ini adalah cerita Mpu Baradah. Yang kita ingat adalah Calon Arang. Apalagi yang kita lupakan dari cerita ini? Kita cari tahu lagi nanti***