• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Papua dalam Timbang Pandang Budaya

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
11 July 2017
in Buku, Kabar Baru
0
1
Diskusi buku Papua dalam Timbang Pandang Budaya di Bentara Budaya Bali.

Bentangan wilayah Papua sedemikian luas.

Oleh karena itu, persoalan sosial kutural di Papua tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan parsial. Perlu kebijakan yang bersifat holistik. Demikian menurut para pembicara Pustaka Bentara ‘Papua Dalam Timbang Pandang Budaya’ di Bentara Budaya Bali (BBB), Ketewel, Gianyar, Senin kemarin.

Diskusi buku kumpulan esai terkini karya I Ngurah Suryawan bertajuk “Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya” itu menghadirkan I Ngurah Suryawan, Nazrina Suryani, dan I Wayan ‘Gendo’ Suardana.

I Ngurah Suryawan, doktor lulusan Universitas Gadjah Mada yang kini Dosen Universitas Negeri Papua, menguraikan 3 pokok utama gagasannya.

Pertama tentang peta sosiokultural studi-studi kebudayaan Papua dan produksi kuasanya. Kedua, mengulas tentang kondisi Papua kontemporer yang berhubungan dengan pemekaran daerah berikut pembagian kekuasaan yang terjadi. Ketiga, menggambarkan siasat orang-orang Papua menghadapi kerasnya kehidupan keseharian selama ini.

Menurutnya, terdapat berbagai fenomena dan realitas sosial masyarakat Papua. Masyarakat Papua memiliki mobilitas tinggi, terinterkoneksi dengan etnik budaya lain berikut keragaman budayanya, serta relasi mereka dengan kuasa investasi global.

“Papua sangat kompleks. Masalah-masalahnya pun sangat beragam,” kata Ngurah Suryawan.

Dia menambahkan di satu sisi mereka memiliki kekayaan luar biasa tetapi di sisi yang lain, ada permasalahan soal lokalisir, seolah Papua dianggap eksotis.

“Seringkali pula muncul stigma tentang Papua tanpa diimbangi pengetahuan menyeluruh tentang konteks Papua itu sendiri,” ungkapnya.

Suryawan sendiri sempat menempuh program penelitian postdoctoral sedari tahun 2016 tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua dalam skema ELDP London dan Australian National University (ANU). Ia kini juga menjadi research fellow di KITLV dan Universitas Leiden 2017 untuk menulis penelitiannya tentang terbentuknya elit kelas menengah di pedalaman Papua.

Nazrina Suryani menilai buku Papua vs Papua memiliki bobot antropologi politik yang kuat dan ditujukan untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda. Bukan hanya yang berasal dari Papua, tetapi juga mereka yang peduli.
“Lewat buku ini saya melihat upaya penulis untuk mencermati problematik yang kerap terjadi berulang di Tanah Papua. Dampak langsung atau tidak dari pemekaran wilayah, investasi yang bersifat elitis, merebaknya HIV dan AIDS, serta masalah sehari-hari lainnya yang menjauhkan rakyat Papua untuk lebih emansipatoris dan transformatif,“ ungkap Nazrina.

Pada diskusi yang dimoderatori Gede Indra Pramana, pembicara lainnya I Wayan ‘Gendo’ Suardana, mengungkapkan bahwa buku Papua Versus Papua terdiri dari esai-esai yang tajam. Namun, buku itu perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lebih mendalam. Dengan demikian bisa mendapatkan gambaran tentang problematik Papua yang lebih holistik, tidak parsial.

Gendo juga menyoroti perihal pemekaran wilayah dan otonomi daerah yang dalam implementasinya kerap menimbulkan masalah di lapangan serta berdampak buruk bagi kehidupan sosial kultural masyarakat setempat.

“Undang-Undang tentang Desa bisa menimbulkan konflik bila tidak disertai suatu pemahaman dan pendekatan holistik dalam menetapkan kebijakan,” ujarnya.

Menurut Gendo konflik itu bisa muncul sebagai akibat perebutan batas desa, terutama terkait kepentingan ekonomi. Belum lagi ditambah adanya investor yang memiliki agenda terselubung. “Ya, sebagaimana yang terjadi di Bali dengan reklamasinya itu,” ujar aktivis yang tergabung dalam Walhi ini.

Buku Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya sendiri mendapatkan kata pengantar dari Manuel Kaisiepo, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pada Kabinet Gotong Royong yang juga pernah berkarier sebagai wartawan Kompas pada tahun 1984-2000.

Manuel Kaisiepo dalam tulisannya menilai, bahwa kajian-kajian etnografi dalam buku Papua vs Papua ini dengan sangat baik merekam dan menguraikan fenomena realitas sosial yang menjadi paradoks di Papua. [b]

Tags: Bentara Budaya BaliBukuDiskusi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

28 May 2025
Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

1 February 2021
Revolusi Hijau, Menjerat Petani dengan Racun

Saya pun Bermimpi Menjadi Raja di Pulau Mancawarna

30 October 2020
Serapan BST Mahasiswa Masih Rendah

Serapan BST Mahasiswa Masih Rendah

10 July 2020
Suara Perempuan Menghadapi Skizofrenia

“Esensi Nobelia” dan Tragisnya Nasib Pengarang

25 April 2020
“Sastra ODGJ”: Apakah Sekadar Racauan?

“Sastra ODGJ”: Apakah Sekadar Racauan?

12 April 2020
Next Post
Bhinneka Tunggal Ika dalam Sanur Mostly Jazz Festival

Bhinneka Tunggal Ika dalam Sanur Mostly Jazz Festival

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia