• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pengguna Napza Perlu Layanan Kesehatan yang Manusiawi

Anton Muhajir by Anton Muhajir
8 August 2009
in Kabar Baru
0
0

IDU Forum

Teks dan Foto Anton Muhajir

Pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) di kawasan regional Asia Pasifik masih menghadapi masalah terkait dengan akses layanan kesehatan. Layanan kesehatan di negara-negara kawasan ini belum menggunakan hak asasi manusia sebagai dasar. Perlu ada kebijakan di tingkat nasional dan lokal selain juga keterlibatan pengguna Napza untuk mewujudkan perubahan layanan kesehatan yang lebih manusiawi pada pengguna Napza.

Masalah ini mengemuka dalam forum diskusi injecting drug user (IDU) bertema Reform: Toward Human Right Based Drug Policy di Sanur Bali pada Sabtu (8/8). Forum para pengguna napza dengan jarum suntik (penasun) dalam rangka The 9th International Congress on AIDS in Asia and the Pasific (ICAAP 9) itu diikuti sekitar 100 orang dari jaringan IDU di Asia dan Pasifik termasuk Australia, India, dan Cina.

Dean Lewis, anggota Asian Network for People who Using Drug (ANPUD), mengatakan harm reduction sebagai upaya untuk mengurangi pengurangan dampak buruk di kalangan IDU masih belum menjadi strategi nasional di sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Annie Maiden dari Australian Injecting and Illicit Drug Users League (AIVL) pun menyampaikan hal yang tak jauh berbeda dengan Dean. Menurut Annie treatment untuk IDU di Australia pun masih jauh dari perspektih hak asasi manusia. (HAM). “There is a lot of problem to IDU to get access for hepatitis C treatment,” ujarnya.

Menurut Annie, saat ini di Australia terdapat sekitar 250 ribu orang terifeksi hepatitis C yang sebagian besar adalah IDU. Meski demikian para IDU tersebut justru takut untuk mencari pelayanan kesehatan terhadap penyakitnya tersebut. “IDU scared to get hep C treatment. They worried about discrimination they will faced. Hepatitis C is complex issue in Australia,” lanjut perempuan ini.

Hal ini terjadi, lanjut Annie, karena IDU masih sering mendapat diskriminasi. Meskipun Australia sudah memiliki aturan yang melarang diskriminasi terhadap ras, pemeluk agama dan orientasi seks, namun belum ada aturan yang melarang diskriminasi terhadap IDU.

Annie melanjutkan meskipun Australia sudah selangkah lebih maju karena tidak memiliki hukuman mati (death penalty) untuk drug user ataupun drug dealer seperti halnya Indonesia dan Amerika namun Australia masih mengkriminalkan drug user. Salah satunya adalah dengan memenjarakannya dalam waktu lama.

“In fact, they will stay in prison for rest of their life,” tambahnya.

IDU di Australia, lanjut Annie, juga harus membayar treatment mereka sendiri. Besarnya biaya treatment tersebut antara Aus $ 4 sampai Aus $ 12 per hari. Jumlah tersebut termasuk besar untuk IDU di Australia sehingga tidak sedikit IDU yang harus melakukan tindak kriminal untuk membayar treatment tersebut.

“Australia have a very bad record about human rights issue related to IDU,” ungkapnya.

Menurut Dean, kurangnya layanan kesehatan yang manusiawi untuk IDU menuntut peran aktif dari IDU sendiri untuk mengubahnya baik di tingkat lokal maupun di tingkat regional melalui jaringan yang ada. Namun, selain persoalan akses kesehatan, di kalangan IDU sendiri pun masih ada masalah untuk membangun jaringan IDU di kawasan ini. Pertama adalah masalah bahasa. “We all speak different language. How we communicate by different language among us,” kata Dean.

Kedua, lanjut IDU dari India ini, jaringan IDU regional juga menghadapi kendala kurangnya funding untuk melaksanakan kegiatan. “If we don’t have sufficient resources, include fund, how we disseminate our program,” ujarnya.

Ketiga, Sebagian besar IDU di negara-negara Asia juga belum masuk dalam jaringan seperti di Pakistan, Bhutan, Bangladesh, dan sekitarnya. Padahal di negara-negara tersebut, menurut Dean, jumlah IDU lebih banyak dibanding negara lain.

Agar IDU bisa terlibat dalam mengubah kebijakan yang lebih memperhatikan masalah hak asasi manusia termasuk akses kesehatan bagi IDU, Dean mengatakan bahwa ANPUD sebagai bagian dari International Network for People who Using Drug (INPUD) harus memiliki perwakilan di semua tingkat. Dengan begitu, menurutnya, IDU bisa memutuskan bagaimana treatment yang sesuai kebutuhan IDU.

Pembicara lain dari Indonesian Drug User Solidarity Association (IDUSA) Yvone Sibuea menambahkan hal tersebut. Untuk mewujudkan layanan yang lebih peduli HAM, para IDU harus terlibat aktif mendorong perubahan tersebut. Salah satunya adalah dengan mendorong agar ada perubahan di tingkat legislasi.

IDUSA, sebagai jaringan pengguna Napza di Indonesia sudah mendorong perubahan tersebut sejak 2006 lalu. Mereka mengampanyekan agar pengguna Napza tidak lagi dipidanakan telah melakukan tindak pidana kriminal. Sebab, menurutnya, pengguna Napza hanyalah korban dari peredaran gelap Napza. “Kami juga terus mendorong agar pengguna Napza mendapat vonis rehabilitasi, bukan penjara,” tambahnya.

Negara-negara di Asia Pasifik sendiri sudah menerapkan Konvensi Melawan Penyiksaan namun di tingkat lokal perlu ada aturan lebih lanjut agar konvensi itu bisa diterapkan. “It has to be a domestic law which match to international law,” kata Dean. [#]

Tags: AgendaICAAP 9JaringanKesehatanNGO
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengenal 4 F, Respon terhadap Stres dan Trauma

Mengenal 4 F, Respon terhadap Stres dan Trauma

4 June 2024
Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

29 April 2021
Ledok, Gizi Bubur di Pulau Kapur

Ledok, Gizi Bubur di Pulau Kapur

15 April 2021
Next Post

ICAAP Belum Akomodir Kepentingan Klien Methadone

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aku Dede, Ini Ceritaku dengan Difabel Sensorik Netra

Refleksi Hari Buruh Bagi Orang dengan Disabilitas Netra 

1 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

Aksi Hari Buruh Masih Menyoroti Ketidakadilan bagi Pekerja Pariwisata

1 May 2026
Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia