• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

64 Persen PNS Hanya Jadi Juru Ketik?

Pande Baik by Pande Baik
28 October 2016
in Opini, Pelayanan Publik
0
0

@punapibali

Pikiran saya tergelitik sejak awal menontonnya.

Video yang diunggah @PunapiBali Rabu malam (26/10) kemarin memang menggelitik pikiran. Bagaimana tidak? Video itu memperlihatkan bahwa dari 4,7 Juta, 64 persen PNS, kemampuannya hanya sebagai juru ketik?

Emejing..

Kalimat berikut yang tampil adalah ‘dengan kemampuan terbatas itu mereka bingung mengerjakan apa di kantor..’

Sangat Emejing…

Tapi kenapa baru nyadar sekarang ya? Padahal kalau menurut pandangan saya pribadi, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Dari zaman saya berstatus baru jadi PNS, semua pertanyaan itu sudah berkeliaran di kepala. “Serius nih, kemampuan kawan-kawan seruangan hanya segini?”

Sementara saya masih ingat. Seminggu sebelum diminta ngantor pertama kali, saya sudah menyiapkan diri untuk tidak gugup bekerja sebagai abdi negara.

Jika saja blog dan media sosial sudah menjadi tren saat itu, saya yakin status atau postingan keresahan saya sebelum menghadapi hari jadi tersebut akan bisa dibaca kembali hari ini.

Ya, saya kecele…

Ini terjadi gegara saya terbiasa bekerja disiplin dengan orang di sejumlah perusahaan konsultan setelah kuliah hingga dinyatakan diterima sebagai PNS pada 2003 lalu.

Owh enggak. Tulisan ini bukan untuk membangga-banggakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang PNS yang saya sendiri meyakini, tidak masuk dalam prosentase 64 di atas. Meskipun jika boleh dikatakan, kemampuan saya sejauh ini pun masih sangat terbatas jika disandingkan dengan sejumlah kawan yang kini kerap saya ajak berinteraksi di komunitas ataupun sosial media. Saya akui kok.

Tapi apa yang disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN) RB Asman Abnur itu memang benar adanya.

Katakanlah di posisi saya saat ini. Memiliki sejumlah staf yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Seperempatnya bisa dikatakan ya memang secara kemampuan hanya juru ketik. Tidak mampu menganalisis, membuat konsep surat ataupun notulen rapat sekalipun. Bahkan seperempatnya lagi tidak bisa mengetik.

Emejing kan?

Sementara saat saya masuk ke ruangan besar di pojokan barat lantai dua gedung lama, sebagian di antara kami seingat saya malah punya rutinitas membaca koran pagi, membolakbalikkan semua halaman hingga siang, lalu ngeloyor entah ke mana.

Dan itu fakta.

Proses rekrutmen PNS di Bali. Foto Agus Sumberdana.
Proses rekrutmen PNS di Bali. Foto Agus Sumberdana.

Maka ya ndak heran kalau di antara kami yang dijejali berbagai macam pekerjaan, tugas dan lainnya oleh pimpinan, sempat merasakan bahwa ‘mereka yang berusaha rajin bekerja ya akan terus diberikan pekerjaan, sementara yang malas ya dibiarkan. Tidak ada upaya meningkatkan kompetensi atau kemampuan, baik dari atasan apalagi dari dirinya sendiri

Nyaris tidak ada sanksi atau ancaman pemecatan karena secara aturan terkait disiplin pegawai ya memang tergolong masih longgar.

Akan tetapi belajar dari pengalaman semenjak jadi PNS, membuat saya selalu berupaya untuk mengatur mereka yang terpantau memiliki keterbatasan kemampuan sebagaimana cerita di atas. Meski tak sempurna, minimal staf yang saya miliki tak sampai duduk diam dari pagi hingga sore, apalagi sampai berhari-hari.

Untuk mereka yang tak mampu mengoperasikan komputer, saya berikan tugas pengawasan lapangan secara rutin. Mereka juga melaporkan hal-hal yang sekiranya dianggap penting atau tidak dapat diselesaikan permasalahannya di lapangan melalui akun BBM atau Whatsapp.

Ada juga yang ditugaskan untuk pencatatan administrasi manual yang hingga kini masih digunakan dalam alur kerja birokrasi. Sementara bagi mereka yang kemampuannya hanya sebatas juru ketik, saya tinggal memberikan konsep dokumen, menugaskan mereka bekerja dan selalu melakukan koreksi saat selesai dikerjakan. Agak repot sih sebenarnya.

‘Ada PNS jago gosok batu akik tapi tak bisa ngetik…’ kata Pak Ahok, masih dalam video yang sama.

Ya memang tidak heran. Sebagaimana seringkali saya ungkapkan dalam postingan blog terkait kinerja kami, para PNS yang posisinya diidam-idamkan banyak orang.

Justru itu baru satu tipe yang spesifik. Jika saja kalian menyadari ada banyak ragam tipe PNS di luar itu, mungkin ndak hanya caci maki yang saya dapatkan secara pribadi hanya lantaran kalian mengeneralisir bahwa keberadaan kami sama semua. Dari tipe yang ngulik rumus matematika ‘Togel’, baca koran seharian tadi, omong doang tapi ndak mau bantuin kerja, hingga calo perijinan.

Dan ada juga tipe yang nyambi jualan, entah kain kebaya, cincin hingga ponsel kawe. Ah, itu mah biasa. Hanya saja memang tak terlihat secara kasat mata saat kalian mengunjungi kami ke ruangan. Percaya deh.

‘Dia (MenPAN) mengakui kompetensi PNS masih rendah…’

Ya begitulah adanya. Saya lihat, itu lebih banyak menjangkiti mereka yang kini sudah berusia 40-an tahun ke atas, dimana sudah mulai merasakan bahwa otak tak mampu lagi mengimbangi kemajuan teknologi yang kini makin berkembang. Tapi kalo sebatas urusan nge-FaceBook atau nonton YouTube ya masih diupayakan lah. Hei, ini fakta Kawan.

Tapi ya, kenapa nyadarnya baru sekarang? [b]

Tags: AhokJuru KetikOpiniPNS
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Pande Baik

Pande Baik

Pande Baik. Warga Denpasar yang tinggal di Jl Nangka Denpasar dan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Badung. Membagi ide, pengalaman, dan pengetahuannya lewat blog menjadi hobinya sehari-hari.

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Dialog Sastra “Merayakan 15 Tahun Supernova”

Dialog Sastra “Merayakan 15 Tahun Supernova”

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia