• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Sosial

Waspada pada Kasus Gigitan Anjing

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
18 January 2009
in Sosial
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Ketut Orta, 48, bapak Ketut Tangkas Adi Wirawan (4) yang diberitakan meninggal karena dugaan rabies di The Jakarta Post kemarin hanya bisa pasrah dengan kematian anaknya.

Hingga kini ia tak tahu penyebab kenapa anaknya tiba-tiba meninggal. Dinas Kesehatan Kabupaten Badung menyatakan tidak ada konfirmasi penyebab kematian Tangkas karena tidak ada observasi khusus untuk melihat gejala rabies.

“Anak itu baru diketahui punya sejarah gigitan anjing enam bulan lalu. Sebelumnya dokter di RS Sanglah memeriksa atas dasar keluhan sakit panas. Kita tidak bisa mengkonfirmasi karena tidak melakukan observasi,” ujar Kadis Kesehatan Badung dokter AA Gede Agung Mayun Darma Atmaja.

Orta menceritakan Tangkas meninggal 30 Desember lalu di rumahnya ketika tiba-tiba kejang dan akan dibawa ke rumah sakit.

Anak 4 tahun ini tidak punya riwayat sakit tertentu sebelumnya. “Enam bulan lalu anak saya digigit anjing peliharaan sendiri. Setelah dijahit sehat, tidak ada masalah,” ujar Orta yang peternak sapi ini.

Ia mengatakan tidak tahu sama sekali gejala rabies. Gejala-gejala yang bisa diingat Orta pada anaknya sebelum meninggal adalah sering kedinginan, takut angin, kadang-kadang menghindar ketika diberi makan. “Anak saya tidak bisa makan dan minum, tenggorokannya seperti tersekat,” katanya.

Orta sangat sulit menjelaskan perilaku Tangkas sebelum ia menghadap Tuhan. “Saya menyesal, tidak bisa memaksanya untuk bisa makan,” ujarnya lirih.

Dokter Ken Wirasandhi, Kepala Seksi Pelayanan Rawat Jalan RS Sanglah mengatakan tidak bisa mengkonfirmasi kondisi Tangkas karena diperiksa hanya dengan keluhan demam. “Kami tidak tahu ada sejarah gigitan anjing sebelumnya,” katanya.

Kisah Tangkas sangat mirip dengan yang terjadi pada Muhamad Oktaf Rahmana, bocah 4 tahun yang meninggal akhir November lalu setelah digigit anjing sebelumnya. Oktaf tinggal di kawasan paling rawan yakni Ungasan, Kuta Selatan, dimana banyak kasus kematian karena gigitan ditemukan.

Oktaf meninggal sebulan setelah digigit anjing pada wajahnya. “Setelah dijarit, ia sehat dan bisa bermain seperti biasa. Sebulan kemudian menampakkan gejala aneh seperti ketakutan dan kadang-kadang mengigigil,” cerita Alfisanah, ibunya.

Berawal ketika usai syukuran di rumahnya. Sampah bekas makanan menumpuk depan rumah dan mengundang seekor anjing liar yang berjalan tertatih-tatih. Ayah Oktaf segera mengusirnya. Anehnya, si anjing tak takut sama sekali, malah seolah menantang. Sialnya, Oktaf kecil tengah bermain di depan rumah, dan anjing yang nampak linglung itu menggigit bagian wajahnya.

Sebulan berlalu, Oktaf yang terlihat sehat walafiat tiba-tiba menunjukkan perilaku berbeda. Ia menjadi pendiam, dan kadang merenung sendiri.  Kadang ketakutan jika sendirian. “Setelah Sholat Dhuhur, saya merangkulnya karena dia seperti habis mimpi buruk,” kata bundanya.

Siang hari, ketika bermain di luar, Oktaf tak berani menatap matahari. Saat naik motor, ia menggigil kedinginan. Orang tuanya mengira ia kena “sesuatu”, dan mengajak untuk rukyah ke orang pintar.

Berikutnya, Oktaf tak bisa makan dan minum.  Seperti tersekat tenggorokannya, padahal ia seperti pengen sekali mencoba es krim yang dibelikan. Ketika mandi, Oktaf meringkuk ketakutan. Ia tiba-tiba takut air. Bahkan takut ketika bundanya bernafas di dekatnya. “Ibu, jangan ditiup,” elaknya. Oktaf juga senang mempermainkan lidah, seperti orang nginang.

Sampai akhirnya Oktaf koma dan meninggal dalam perjalanan ke RS Kasih Ibu Jimbaran.

Alfisanah sangat menyesal tidak mengatahui soal rabies dan bagaimana pencegahannya. Ia mengaku sempat minta vaksin anti rabies di rumah sakit yang menjahit luka Oktaf namun tidak diberikan karena Bali dinyatakan bebas sejarah rabies waktu itu.

“Pemerintah harusnya bisa lebih transparan dan memberikan penyuluhan secara terbuka. Harus ada selebaran soal rabies ke rumah-rumah penduduk khususnya di Ungasan ini. Padahal katanya sabun saja bisa jadi obat pertama kalu digigit,” sesalnya.

Gejala rabies pada Oktaf diberitahu dokter di RS kasih Ibu Jimbaran sesaat setelah Oktaf meninggal. Gejala klinis akibat rabies pada Oktaf pun baru ia sadari ketika Oktaf telah meninggal. Sementara anjing yang mengigit tak bisa dites otaknya karena dibunuh sesaat setelah mengigit Oktaf.

Sejak November 2008 pemerintah mencatat ada empat orang yang meninggal akibat gigitan anjing. Semuanya tinggal di Ungasan dan Kedonganan, Kuta Selatan. Hanya satu orang, Made Wirata yang dinyatakan mempunyai gejala spesifik rabies karena sempat diobservasi sebelum meninggal.

Puskesmas Pembantu Ungasan hingga kemarin masih kedatangan sejumlah orang yang digigit anjing. Setiap hari, rata-rata tiga orang yang meminta vaksin anti rabies.

“Anjing liar masih cukup banyak di jalanan. Saya takut juga,” ujar Suwerta yang mengantar anaknya, Agus (11) tahun untuk divaksin. Tiap orang yang pernah digigit anjing mendapat empat kali suntikan anti rabies dalam waktu berbeda.

english version on: http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/09/rabies-threat-gets-ever-more-real.html

Tags: Baligejala rabieswabah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Apa Kabar Gajah Mada Heritage?

Apa Kabar Gajah Mada Heritage?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia