• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 25, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Ini Lho Hari Valentine versi Bali

Santana Ja Dewa by Santana Ja Dewa
10 February 2019
in Budaya
0
0


Tumpek krulut bertujuan untuk menghormati gamelan. Foto ilustrasi Anton Muhajir.

Mengungkapkan rasa sayang di hari spesial sangat dinantikan.

Seperti laron mencari cahaya begitula tingkah yang dilakukan anak muda sekarang saat mencurahkan rasa sayang kepada orang spesial. Mereka pun menggunakan Valentine sebagai momentumnya.

Padahal, sebetulnya Bali juga memiliki rasa kasih sayang seperti Hari Velentine. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu tentang hal itu. Mungkin pengaruhnya kurang atau tidak merasa kekinian tidak relevan di zaman sekarang.

Ungkapan kasih sayang tidak sebatas pada kekasih saja melainkan semua sumua orang tidak terkecuali. Jadi diri Bali sebetulnya telah mengimplementasikan kasih sayang kepada semua insan hidup semesta. Cuma belum paham betul tentang filosofinya.

Mengikuti tren boleh saja, tapi sebaiknya kembali ke jadi diri kita sebagai orang Bali yang telah diwariskan berbagai budaya dan kearifan lokal penuh makna.

Hari kasih sayang vesi Bali itu adalah tumpek krulut, upacara yadnya yang dirayakan setiap Sabtu kliwon wuku krulut. Bertepatan dengan itu umat Hindu Bali mengadakan persembahan kepada Hyang Iswara sebagai dewa keindahan.

Umumnya umat hindu menggunakan banten sesayut lulut asih sebagai simbol kasih sayang kepada semua makhluk. Sesungguhnya hari tumpek krulut berhubungan dengan ritual untuk menghormati gamelan atau alat musik tradisional yang mengeluarkan suara keindahan suci.

Upacara dilakukan dengan tujuan agar perangkat suara memiliki suara keindahan dan taksu. Taksu dan keindahan akan melahirkan gerak nan indah sebagai unsur seni. Atas keindahan tersebut, seni bisa menjadi hiburan yang dapat mengahorminasasi kehidupan.

Menurut Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) I Ketut Sandika cinta dalam arti sempit identik dengan rasa cemburu, iri hati, kemarahan rasa keakuan, dan lain-lain. Namun, cinta kasih dalam kaitanya tumpek krulut adalah menumbuhkan cinta universal, bahwa semua adalah saudara yang harus disayangi.

Vasudewa kuthumbakam. Semua adalah saudara.

Kondisi demikian akan dicapai, jika perayaan tumpek krulut dilaksanakan dengan perenungan diri dan menggunakan banten sesayut lulut. Banten ini sebagai simbol agar hati selalu bisa menyatu dengan keindahan dan diimbangi dengan kesucian (satyam, siwam dan sundaram).

Dia mengakui perubahan zaman dan keterbukaan tidak bisa kita pungkiri begitu saja, tapi tetap perlu untuk memegang teguh apa yang sudah diwariskan kepada kita sebagai akar jati diri menjalankan kehidupan masa sekarang dan nanti. Tumpek krulut hanya salah satunya. [b]

Tags: BaliBudaya
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Santana Ja Dewa

Santana Ja Dewa

Pewarta warga. Lahir dan besar di Nusa Penida, Bali bagian tenggara. Senang menulis dan bercerita. Juga sering berkelana ke mana-mana.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Next Post
Menyajikan Keberagaman Arsitektur dalam Crafting the Archipelago

Menyajikan Keberagaman Arsitektur dalam Crafting the Archipelago

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

24 May 2026
Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

23 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia