Ini Lho Hari Valentine versi Bali


Tumpek krulut bertujuan untuk menghormati gamelan. Foto ilustrasi Anton Muhajir.

Mengungkapkan rasa sayang di hari spesial sangat dinantikan.

Seperti laron mencari cahaya begitula tingkah yang dilakukan anak muda sekarang saat mencurahkan rasa sayang kepada orang spesial. Mereka pun menggunakan Valentine sebagai momentumnya.

Padahal, sebetulnya Bali juga memiliki rasa kasih sayang seperti Hari Velentine. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu tentang hal itu. Mungkin pengaruhnya kurang atau tidak merasa kekinian tidak relevan di zaman sekarang.

Ungkapan kasih sayang tidak sebatas pada kekasih saja melainkan semua sumua orang tidak terkecuali. Jadi diri Bali sebetulnya telah mengimplementasikan kasih sayang kepada semua insan hidup semesta. Cuma belum paham betul tentang filosofinya.

Mengikuti tren boleh saja, tapi sebaiknya kembali ke jadi diri kita sebagai orang Bali yang telah diwariskan berbagai budaya dan kearifan lokal penuh makna.

Hari kasih sayang vesi Bali itu adalah tumpek krulut, upacara yadnya yang dirayakan setiap Sabtu kliwon wuku krulut. Bertepatan dengan itu umat Hindu Bali mengadakan persembahan kepada Hyang Iswara sebagai dewa keindahan.

Umumnya umat hindu menggunakan banten sesayut lulut asih sebagai simbol kasih sayang kepada semua makhluk. Sesungguhnya hari tumpek krulut berhubungan dengan ritual untuk menghormati gamelan atau alat musik tradisional yang mengeluarkan suara keindahan suci.

Upacara dilakukan dengan tujuan agar perangkat suara memiliki suara keindahan dan taksu. Taksu dan keindahan akan melahirkan gerak nan indah sebagai unsur seni. Atas keindahan tersebut, seni bisa menjadi hiburan yang dapat mengahorminasasi kehidupan.

Menurut Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) I Ketut Sandika cinta dalam arti sempit identik dengan rasa cemburu, iri hati, kemarahan rasa keakuan, dan lain-lain. Namun, cinta kasih dalam kaitanya tumpek krulut adalah menumbuhkan cinta universal, bahwa semua adalah saudara yang harus disayangi.

Vasudewa kuthumbakam. Semua adalah saudara.

Kondisi demikian akan dicapai, jika perayaan tumpek krulut dilaksanakan dengan perenungan diri dan menggunakan banten sesayut lulut. Banten ini sebagai simbol agar hati selalu bisa menyatu dengan keindahan dan diimbangi dengan kesucian (satyam, siwam dan sundaram).

Dia mengakui perubahan zaman dan keterbukaan tidak bisa kita pungkiri begitu saja, tapi tetap perlu untuk memegang teguh apa yang sudah diwariskan kepada kita sebagai akar jati diri menjalankan kehidupan masa sekarang dan nanti. Tumpek krulut hanya salah satunya. [b]