
Di Subak Uma Desa, Desa Canggu, Kabupaten Badung berdiri satu warung sederhana. Warung itu berdiri di sisi jalan setapak. Menjual berbagai makanan dan minuman, dari rujak, mie instan, es kelapa muda, hingga bir.
Siang itu, Rabu (01/07), seorang laki-laki membawa bungkusan es kristal ke warung tersebut. Tangannya gesit, kakinya lincah, bungkusan es kristal berpindah dari motor ke termos.
Tak tampak satu kulkas pun di warung itu. Tak ada pula lampu di sepanjang jalan. Meski begitu, orang-orang terus berdatangan. Sebagian besar pembeli merupakan staf di hotel dan restoran sekitar. Beberapa lainnya adalah Warga Negara Asing (WNA) yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.
Laki-laki yang membawa es itu mengenalkan dirinya sebagai Pak Depik.
“Liu Gek ane nagih nyewa niki (banyak yang mau sewa ini),” kata Depik sambil menunjuk warung kosong di sebelah warungnya.
Ada dua warung di sana. Warung satunya digunakan oleh istri Depik. Sementara, warung sebelahnya dikosongkan.
Warung Depik sudah dibangun sebelum Covid-19 melanda. Namun, tak sampai hitungan tahun, warungnya sepi. Covid-19 datang, Depik sangsi apakah warungnya ini akan mendapatkan untung atau tidak.
“Pidan orang pak nak sepi. Mih ada nak kel tuun ke warungne (dulu seperti kata bapak sepi. Aduh, ada nggak ya yang mau datang ke warung ini),” kata Depik.
Setahun Covid-19 melanda, tepatnya pada Desember 2021, Subak Uma Desa ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Petani tak bisa menjual lahan sawahnya. Imbalnya, pemerintah memberikan sejumlah bantuan.
Covid-19 memang membuat pariwisata Bali meredup. WNA tak bisa leluasa datang ke Bali. Namun, dari kesaksian Depik, pembangunan terus berlanjut. Meski, aktivitas pariwisata meredup.
“Bule sepi, tapi nak nginvest. Bani nak ngontrak-ngontrak malu, setelah to nak membangun. Ube orin jek delod Men Lari to ube telah (bulenya sepi, tapi mereka investasi. Berani orang-orang ngontrak tanahnya, setelah itu mereka membangun. Di sebelah Warung Men Lari itu habis sawahnya),” jelas Depik.
Setelah Covid-19, pariwisata kembali ramai. Wilayah Canggu jadi padat merayap. Warung Depik pun berkali-kali dilirik investor, termasuk investor asing. Berkali-kali pula Depik menolak tawaran tersebut.
“Benjep warung rage sepi nyen (nanti warung kita yang sepi),” kata Depik sembari tertawa.
Kata Depik, ada yang ingin menjadikan warungnya cafe, ada juga yang ingin menjadikannya bar. Namun, ia tetap mempertahankan keberadaan warungnya.
Warung Depik menjadi satu-satunya warung di Subak Uma Desa. Pasalnya, sawah di sana sudah menjadi zona hijau. Tidak bisa lagi dialihfungsikan sebagai bangunan.
Meski berada di kawasan hijau, sisi kanan dan kiri Subak Uma Desa dipenuhi bangunan. Sisi utara berdiri Bali Padel Academy dan sejumlah vila. Sisi timur juga berdiri vila.
Vila-vila itu menjadikan Subak Uma Desa sebagai daya tarik. Beberapa balkon vila menghadap ke hamparan sawah.
Di balik sawah sebagai daya tarik pariwisata, Depik mengaku tertatih. Selama ini dia hanya mendapatkan subsidi pupuk dan bibit. Itu pun tak selalu bagus.
“Hasil petani 4 bulan Rp16 juta untuk 40 are, bin biaya produksi Rp6 juta. Mongken je man,” kata Depik.
Dia mengatakan dirinya dan petani lainnya hanya bertahan untuk pemandangan vila.
“Montoan gen je bertahan, pang lung view. Anggo gene bertahan men sing ada hasil (segitu aja bertahan, biar bagus view-nya. Buat apa bertahan kalau nggak ada hasil),” kata Depik.
Dalam sepuluh tahun telah terjadi alih fungsi kurang lebih 17 hektare di Subak Uma Desa. Kata Depik, luas Subak Uma Desa mencapai 87 hektare pada tahun 2016. Kini, luasnya menyusut menjadi 70 hektare.
Kondisi Depik memberikan gambaran petani di Subak Uma Desa yang masih mempertahankan sawahnya di tengah larangan alih fungsi.
Kondisi ini ironis, 17 hektare sawah telah beralih fungsi. Petakan sawah dihimpit vila, lapangan padel, hingga restoran, menjadikan hamparan Subak Uma Desa objek pemandangan. Sementara, Depik dan petani lain merelakan diri untuk bertahan. Subak adalah satu-satunya warisan yang mereka punya.
“Karena jantung Canggu niki, makanya dipertahankan,” pungkas Depik.










