
Oleh Albert Lega Nama
Subak Spirit Talk kembali hadir di tengah masyarakat Kota Denpasar. Acara ini menggabungkan seni pertunjukan dan wicara (talkshow) untuk merespons isu lingkungan, kondisi pertanian, serta bencana yang melanda negeri. Kegiatan rutin garapan Yayasan Kita Poleng yang dimulai sejak 2024 ini memasuki penyelenggaraan kedua dengan tema “Napak Toya: Kesucian Air dan Kesadaran Manusia”.
Inisiasi Kita Poleng ini berkolaborasi dengan sejumlah seniman, di antaranya Robi Navicula, I Gusti Ayu Laksmi, seniman visual John McGarity, Nur Setyanto, dan Anden Pundy. Hadir pula pegiat literasi Luh Yesi Candrika serta pendiri Petani Muda Keren, Agung Wedhatama, sebagai pembicara yang dipandu moderator Sandrina Malakiano. Acara yang didukung Kementerian Kebudayaan RI ini berlangsung di Rumah Tanjung Bungkak, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, pada Jumat (12/12/2025).
Kegiatan dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan doa, dilanjutkan pemutaran dokumenter bencana banjir di Sumatera dan Aceh. Pertunjukan diawali penampilan teatrikal wayang ental oleh Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Badung). Mereka menggunakan pendekatan unik yang menjadikan ental (lontar) sebagai jantung penciptaan estetik dan dramaturgi. Selanjutnya, Robi Navicula menyampaikan orasi mengenai pemanasan global dan deforestasi, diikuti pemutaran video klip Navicula, berbagai pertunjukan seni, serta sesi diskusi.
Gede Robi Supriyanto, vokalis dan gitaris Navicula, menjelaskan bahwa Subak Spirit merupakan media edukasi simbolis. Sejak dulu, seni memang digunakan sebagai sarana edukasi informal. Nama kegiatan ini mengambil filosofi subak yang identik dengan sistem irigasi Bali dan dunia pertanian yang telah menjadi warisan dunia (world heritage).
“Gagasan ini lahir dari keprihatinan seniman melihat fungsi subak yang kian terkikis di masyarakat. Buktinya, hanya sekitar 3% anak petani yang melanjutkan profesi orang tuanya. Ini sinyal akan terjadinya kepunahan besar-besaran di sektor pertanian, terutama di kalangan generasi muda,” jelas Robi.
Ia menambahkan bahwa subak dan air tidak boleh dikuasai individu atau kelompok tertentu. Air harus digunakan secara adil, dijaga kesuciannya, dan bebas dari sampah. Menurutnya, konflik manusia sering dipicu oleh segelintir pihak yang menguasai hajat hidup orang banyak. Budaya petani adalah budaya gotong royong dan sosial yang menuntut keadilan. Oleh karena itu, air harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk rakyat, bukan korporasi, dan rakyat wajib merawatnya.
Penanggung jawab acara, Jasmine Okubo, menyatakan hal senada. Yayasan Kita Poleng rutin menggelar kegiatan ini untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga irigasi sawah. Namun, karena banyaknya bencana tahun ini, tema yang diangkat adalah kesucian air dan kesadaran manusia guna memahami penyebab bencana tersebut.
“Kami menggabungkan talkshow dengan pertunjukan teatrikal artistik agar audiens tidak bosan dan pesan yang disampaikan lebih mudah berkesan,” ujar Jasmine.
Melalui Subak Spirit, penyelenggara berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk merawat lingkungan melalui langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga saluran air demi kelestarian bumi.
(Artikel ini diedit Gemini AI)
sangkarbet


![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

