• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, March 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Sikap Permisif Orang Bali Kebablasan

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
26 March 2008
in Kabar Baru, Opini
0
6

Oleh I Nyoman Winata

Banyak perubahan terjadi pada sosio cultural masyarakat Bali. Perubahan pola perilaku dan pandangan adalah yang utama. Salah satunya adalah sikap permisif orang-orang Bali atas sesuatu yang melanggar norma etika dan ajaran agama memang sudah melebihi ambang batas. Akibatnya banyak tindakkan yang tidak lagi mengindahkan norma etika moral dianggap sebagai hal yang biasa.

Dalam konteks korupsi, lihatlah bagaimana perlakukan masyarakat kepada mereka yang patut diduga sebagai koruptor,dihormati, dielu-elukan dan diberikan tempat terhormat. Mungkin di sekeliling kita banyak yang menjadi pelaku korupsi, mungkin pejabat rendahan di kelurahan misalnya, sampai pada pejabat tinggi di kecamatan atau kabupaten/kota dan seterusnya. Meski mereka layak di duga dan mungkin sudah ada yang pernah memeras rakyat, toh para pejabat ini tetap dihormati. Bahkan yang lebih gila lagi, ketika pemilihan dilakukan secara langsung, mereka yang terindikasi koruptor ini justru dipilih.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sikap permisif ditunjukkan masyarakat dengan memberi ruang kepada pelanggar-pelanggar nilai moral, etika, dan ajaran agama. Bebotoh, penjudi sampai pelaku selingkuh tidak mendapat perlakukan apapun karena sudah dianggap sebagai hal biasa.

Yang paling nyata bisa dilihat dalam konteks prilaku masyarakat Bali yang pemisif adalah soal Seks bebas. Orang tua tidak risi lagi ketika anaknya yang masih pacaran sudah tidur satu kamar dengan sang pacar dirumahnya! Prilaku ini sudah tidak dianggap “ngeletehin”, bahkan orangtua merasa senang kalau anak dan pacarnya sudah seperti suami istri padahal belum resmi menikah. Di Jawa, orang tua masih berusaha memegang teguh prinsip-prinsip menentang seks bebas. Kalau anaknya sudah terlihat gejala-gejala tidak tahan mau kawin, orangtua akan cepat-cepat mendorong mereka agar menikah. Pokoknya jangan sampai hamil sebelum menikah, karena kalau sampai terjadi, orang tua akan malu bukan main.

Lalu, dalam soal judi tajen, meceki, dipura atau dirumah orang punya hajatan. Coba kalau ada yang berani dengan tegas melarang. Saya yakin orang yang melarang itu justru akan dicemooh, di”walek” habis-habisan dan diberi gelar sok suci. Akibatnya prilaku judi maceki dan tajen jadi lumrah, sudah jadi kebiasaan. Ironisnya prilaku-prilaku ini kemudian dianggap bukan lagi hal yang harus dikatagorikan melanggar ajaran agama. Apalagi kalau pemangkunya juga ikut main ceki dan metajen. Lalu hal yang menunjukkan betapa luar biasanya sikap permisif yang bisa membunuh kita bersama-sama ini bukan dianggap hal yang gawat. “Semua ini adalah realitas yang biasa-biasa saja,” kata banyak orang Bali. Akh, saya semakin tidak paham.

Entahlah, mungkin ketika tiba saatnya nanti orang Bali saling bunuh dan itu dilakukan orang banyak, maka itu juga akan jadi hal biasa.

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post

Demam Salsa ala Sector Bar

Comments 6

  1. Nyoman Ribeka says:
    18 years ago

    speechless membaca ini bli. ntar malam saya lagi kasi komen bli.

    Reply
  2. Wayan Budi says:
    18 years ago

    Setuju dgn Anda, Skrg ini sikap permisif orang-orang Bali atas sesuatu yang melanggar norma etika dan ajaran agama memang sudah melebihi ambang batas, tapi kalau kita protes, kesannya dianggap orang suci, malah kita yg diejek2. Ya mungkin karena masa jaman kaliyuga, akhirnya kita mesti sadar dan sabar, segala sesuatunya mesti dipasrahkan. Paling tidak, kita sendiri berusaha utk mencoba berbuat lebih baik. 🙂 dan tentunya mencoba menularkan hal-hal yg baik dilingkungan terdekat. Suksma.

    Reply
  3. lengkonk says:
    18 years ago

    Duh… jangan di generalisasi seperti itu donk. Tidak semuanya seperti itu. Jangan terlalu paranoid.
    *Peace

    Reply
  4. deden m. ihsan says:
    17 years ago

    Setuju, dan sepertinya wabah sikap permisif ini terjadi bukan hanhay di Bali, tapi di seluruh Indonesia. Masyarakat selalu saja mengkambing-hitamkan pemerintah atas semua hal, namun sebaliknya masyarakat selalu bersifat permisif terhadap pelaku pelanggaran aturan.

    salam kenal,
    deden m. ihsan

    Reply
  5. Bagoes Radhytia says:
    17 years ago

    Sulit bagi saya membedakan antara budaya/tradisi dan kegiatan yang berkenaan dengan agama dalam kehidupan masyarakat hindu di bali. Bisa jadi sikap permisif yang timbul tersebut adalah hal-hal yang berkenaan dengan tradisi, seperti meceki, dan tajen (tapi mungkin tidak untuk seks bebas). Tetapi diakui oleh Gubernur bali sendiri, tradisi tsb memang sudah kebablasan karena berkaitan dengan judi (dalam parameter islam).
    Jika saya memisahkan konteks seks bebas, mungkin ga sih itu proses akulturasi barat dengan lokal, terutama di bali yang notabene memiliki wisman terbesar di seluruh provinsi di Indonesia? Bali yang memiliki potensi alam yang indah sebagai daya tarik wisata, kemudian itu menjadi motor penggerak utama perekonomian masyarakatnya sehingga mesyarakat pun berusaha mendukung kegiatan yang berkenaan dengan pariwisata. Akuluturasi? mungkin itu bisa jadi ‘outcome’ negatif dalam sikap permisif masy bali.

    Reply
  6. Paijo says:
    8 years ago

    Mari kita saling mengingatkan dan memberi contoh yang baik secara konsisten terhadap soudara2 kita di bali, agar kedepannya sumberdaya dan polah pikir mereka lebih terbuka dan mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Saya bukanlah orang Bali, tapi saya sangat menyayangi soudara2 saya di bali semuanya tanpa kecuali, kita satu negara dan satu bendera. Saya hanya tahu semua yang ada di negara kesatuan RI adalah soudara saya. Untuk semua soudara2 saya di bali, mari kita bangun manusia yang cerdas menujuju kehidupan yang damai dan bermartabat. Salam

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia