• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, December 16, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Sebagian Warga Cuek Pemilu

Anton Muhajir by Anton Muhajir
26 March 2009
in Kabar Baru, Politik
0 0
5

Oleh Anton Muhajir

Di tengah terik matahari di pinggiran Denpasar Utara, Made Jaya, 67 tahun, membersihkan rumput-rumput di pematang sawahnya. Akhir pekan lalu, meski kampanye sudah digelar selama seminggu di Bali, petani padi ini sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti. Dia pilih membersihkan rumput di 17 are sawahnya.

“Pemilu sekarang bikin bingung karena terlalu banyak gambar yang harus dicoblos,” kata warga Banjar Tagtag Kaja, Desa Peguyangan, Denpasar Utara ini ketika ditanya komentarnya tentang Pemilu saat ini.

Namun, bagi bapak empat anak dengan empat cucu ini, bukan hanya banyaknya caleg yang membuatnya bingung tapi juga karena dia tidak kenal sama sekali siapa yang akan dipilihnya. “Pemilu terakhir saya milih orang yang satu banjar dengan saya. Tapi setelah dia jadi anggota DPR di Jakarta, dia malah tidak pernah mebanjar,” ujar Jaya.

“Sekarang saya mau pilih yang lain banjar saja,” tambahnya.

Menurut Jaya, Pemilu bukan hal penting baginya. Sebab, menurutnya, meski sudah berkali-kali ikut memilih, dia merasa nasibnya sebagai petani tetap tidak jauh berbeda. “Jadi petani sekarang semakin bingung,” katanya.

Jaya menambahkan tiap menjelang Pemilu para caleg yang berkampanye di banjarnya selalu berjanji untuk membantu warga termasuk petani seperti dirinya. “Tapi setelah jadi pejabat, mereka tidak pernah lagi mengingat petani seperti saya,” kata suami dari Ni Nyoman Sukerti ini.

Saat ini, menurut Jaya, pendapatannya sebagai petani makin berkurang. Bukannya untung, dia malah selalu rugi. Ongkos bertani seperti sewa traktor, beli pupu, dan pestisida juga semakin mahal. Sebaliknya harga padi justru makin turun. Saat ini, menurutnya, harga padi hanya Rp 75 ribu per are padahal sebelumnya Rp 100 ribu per are.

Meski mengaku rugi, Jaya toh tetap bertani. Sebab, lanjutnya, kalau harus membeli beras lagi, biaya hidupnya akan semakin mahal. “Makanya saya mau pilih siapa saja yang memberikan sumbangan,” tambahnya.

Ni Putu Asih, warga lain di Banjar Tonja, Desa Tonja, Denpasar Timur pun tidak jauh beda dengan Jaya. Menurutnya Pemilu sekarang juga tidak jauh berbeda dari sebelumnya. “Paling para Caleg hanya berjanji membantu kami ketika kampanye. Ketika jadi (anggota DPR), mereka juga lupa sama kami,” kata ibu tiga anak ini.

Bagi penjual soto di Jalan Nangka Utara ini pemilu bukanlah hal penting. Sebab selain tidak terlalu banyak perubahan yang terasa baginya meski sudah berkali-kali ikut Pemilu, bagi Putu, Pemilu juga malah membuat orang ribut.

Maka dalam Pemilu mendatang, Putu juga mengaku tidak terlalu peduli dengan pilihannnya. “Siapa saja yang penting nyoblos,” katanya.

Ketidaktahuan tentang siapa yang akan dipilih ini bukan hanya persoalan Jaya dan Putu. Beberapa warga lain pun mengakui bahwa mereka tidak tahu siapa orang yang akan dipilih dalam Pemilu mendatang.

Ni Wayan Buncing, petani sayur di daerah Peguyangan pun beralasan sama. Baginya, siapa pun pemerintahnya, dia merasa tidak ada yang berubah pada nasibnya. “Tidak ada yang peduli pada orang kecil seperti saya,” katanya.

Sehari-hari, Buncing tetap tinggal di gubuk reotnya yang beralas tanah, beratap seng dan berdinding bambu yang robek di sana sini. Dia bercocok tanam bermacam sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi untuk biaya hidup.

Ketika ditanya tentang Pemilu, Buncing sama sekali tidak peduli. “Saya toh begini-begini saja siapapun pemimpinnya,” ujar Buncing.

Maka pilihan warga kemudian sangat sederhana, siapa yang sudah berkampanye di banjarnya atau bahkan menyumbang uang itulah yang akan dipilih.

“Kalau hanya bisa berjanji ya percuma. Itu sudah biasa,” kata Jaya. [b]

Tags: BaliPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

3 November 2025
Next Post

HIV/AIDS di Lapas Denpasar Makin Terkendali

Comments 5

  1. imcw says:
    17 years ago

    Memilih merupakan suatu kewajiban dan bukan keinginan pribadi.

    Reply
  2. wira says:
    17 years ago

    Jadi, jangan salahkan rakyat banyak yang golput.

    Reply
  3. nyoman oken says:
    17 years ago

    jika pemilu adalah kewajiban, maka saya akan datang ketempat pemilu, tetapi saya tetap memiliki hak untuk tidak mengisi formulir pemilu, alias blanko.
    saya sudah mengalami pemilu pertama tahun 1955, bahkan lagu pemilunya saya masih ingat diluar kepala, hasil nyata untuk rakyat jelata tetap nol.

    Reply
  4. Dewi Pinatih says:
    17 years ago

    kampanye sekarang dah kaya ajang idol2 an…. pajang poto disana sini. masih bagus idol2an malah, mereka jelas2 nunjukkin kemmapuan mereka, nyanyi misalnya 😀

    kampanye sekarang ????? cuman majang poto doang… tanpa petunjuk sedikitpun soal kapabilitasnya…. ck..ck..ck

    Reply
  5. tulank says:
    17 years ago

    voted! not on your system.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia