• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Rebutan Kartu di Pura Goa Lawah

Anton Muhajir by Anton Muhajir
25 July 2007
in Budaya
0
1

 

Oleh Komang Sudiartha  

Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 22 Juli 2007 lalu. Saat itu keluarga besar kami, termasuk saya, bersama anak-anak berjumlah 21 orang mengadakan sembahyang ke pura Goa Lawah di Kabupaten Kungkung (Semarapura). Kami memilih Minggu karena hari libur sekolah dan bisa mengajak anak-anak agar ikut sembahyang untuk memohon keselamatan. 

Pada hari itu kami berangkat pukul 9 pagi dari Denpasar melalui Jl By Pass Prof Ida Bagus Mantra dan tiba di pura pada pukul 10 siang. Sampai di sana kami pertama kali sembahyang di lokasi di depan pura Gowa Lawah. Kedua sembahyang di pantai. Terakhir kami sembahyang pada area pura Gowa Lawah.  

Seperti biasanya pemedek (umat Hindu yang akan melakukan sembahyang) di pura ini cukup banyak, apa lagi hari libur. Panitia penyelenggara ’piodalan’ sudah mengantisipasi supaya persembahyangan dapat berjalan dengan tertib dan khidmat.  

Hal itu dapat dilihat dari ada pembagian kartu untuk para pemedek yang akan melakukan persembahyangan di pura Gua Lawah tersebut. Sesuai info dari pengayah (panitia), mereka menyiapkan empat warna kartu (merah, kuning, biru, putih) masing-masing seribu lembar. Namun kenyataannya kartu yang ada tidak sedemikian banyak. Mungkin karena ada pemedek yang sembahyang pada hari sebelumnya membawa pulang kartu tersebut.  

Pada hari Minggu tersebut, saya bersama keluarga menanyakan kepada panitia di mana kami bisa mendapatkan kartu sebagai tanda giliran kami untuk sembahyang. Mereka bilang harus antre di luar tembok. Namun di sana sudah terlihat banyak orang yang berdesakan dan berebut dengan yang lainnya hanya untuk mendapatkan kartu itu.  

Anehnya lagi, kartu yang akan dibagikan itu masih harus menunggu dari para pemedek lain yang sudah mendapatkan kartu. Setelah pemdek itu masuk ke areal pura, kartu itu diambil lalu dibagikan lagi kepada pemedek yang antri. 

Banyak di antara mereka bertanya-tanya. Kenapa harus membagikan kartu dari tembok pembatas pura? Kenapa harus menunggu sampai pemedek lain masuk, baru kartu itu diminta dan dibagikan lagi kepada yang antri di luar pura?  

Bisa dibayangkan situasi saat itu. Orang berdesakan dan berebutan hanya untuk mendapatkan kartu agar bisa masuk ke areal pura dan sembahyang. Ada yang terjepit. Ada yang sudah dapat kartu namun tidak bisa keluar karena didesak dari belakang.  

Hal ini membuat suasana menjadi emosi. Pemedek yang datang ke pura hanya bersama anak, perempuan, dan orang tua, tidak mungkin bisa turut berebutan dan berdesakan untuk mendapatkan kartu tersebut.  

Akhirnya karena sudah sampai pukul 13.30 Wita situasi semakin memanas. Emosi pemedek sudah tidak bisa dibendung. Sebagian dari yang antri berdesakan tersebut meminta pada pengayah agar sembahyang dapat dilakukan dari luar pura (bukan di depan pura Goa Lawah),  bisa dari areal madya pura (area pertengahan) dan jaba pura (di luar pura). Saya sekeluarga pun sembahyang di areal madya pura. Setelah selesai sembahyang kami sabar menunggu agar mendapatkan tirta (air suci) dari para pemangku yang ngayah ada di pura tersebut.  

Belum lagi kami dan banten (sarana upacara) dipercikkan tirta, datang seorang panitia dengan membawa kardus, ke areal banten yang kami haturkan, mengambil ’sari’ (uang) dari banten yang kami haturkan. Serentak para pemedek berteriak, “Hei, banten kami belum dapat tirta, sudah diambil sarinya.” Dengan malu panitia itu pergi, lalu memanggil pemangku untuk memberikan tirta.  

Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah kalau ada sistem pemberian kartu untuk para pemedek supaya bisa antri dengan santai hal ini sangatlah baik, agar para pemedek tidak berdesakan apabila memasuki areal pura apalagi kalau mengajak balita.  

Namun, sebaiknya dibuatkan kartu lebih banyak untuk mengantisipasi jumlah pemedek yang tidak bisa kita prediksikan. Contoh, pada areal pura bisa menampung seribu orang pemedek. Maka dibuatlah kartu sebanyak warna yang ada (merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, dll) masing-masing seribu, dan bisa juga diberikan hurup pada kartu tersebut. Misal merah dengan huruf A, kuning huruf B, agar memudahkan para pemedek (karena kalau malam hari warna akan sedikit mengacaukan mata). Untuk jumlah banyak orang, setelah kartu pertama digunakan lalu dikumpulkan, dan diputar lagi untuk berikutnya. 

Dan pembagian kartu janganlah di tembok pagar pura karena bisa merusak tembok. Sebaiknya ada satu tempat agar lebih tertib dan tidak saling berebutan. Harap juga ada tanda sebagai informasi di mana kartu itu bisa didapatkan.  

Pengalaman saya yang kemarin semoga tidak terulang lagi di masa mendatang dan di pura-pura lainnya. Agar pemedek bisa sembahyang dengan tenang. [b]

toto togel
situs toto
situs togel
situs gacor
togel online
togel online
slot resmi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026
Next Post

Minnesota Model sebagai Salah Satu Metode Rehabilitasi Korban Narkoba

Comments 1

  1. dodok says:
    19 years ago

    beritanya udah bagus tapi kalau bisa dilengkapi dengan photo terbaru.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia