
“Kalau rusak parah sekali sih nggak karena diusahakan dipoles di luar biar kelihatannya nggak ada yang rusak,” ujar Osila, guru di SD Negeri Besan.
Sekolah disebut-sebut menjadi rumah kedua. Jika disebut sebagai rumah, harusnya sekolah menjadi tempat aman dan nyaman. Namun, bagaimana jadinya jika sebuah sekolah tidak bisa memberikan keamanan kepada siswa-siswinya?
Hingga tahun 2025, jumlah Sekolah Dasar (SD) di Bali mencapai 2.515 sekolah. Jumlah SD terbanyak ada di Kabupaten Buleleng sebanyak 491 sekolah, sedangkan Kabupaten Klungkung memiliki SD paling sedikit, yaitu 136 sekolah.
Selain memiliki jumlah SD terbanyak, Kabupaten Buleleng juga memiliki ruang kelas dengan kondisi rusak berat terbanyak, yaitu 205 ruang kelas dari 3046 ruang kelas. Ruang kelas dengan kondisi rusak sedang dan rusak ringan terbanyak juga ditemukan di Kabupaten Buleleng. Setidaknya hampir 70% ruang kelas SD/MI Negeri di Kabupaten Buleleng masuk dalam kategori rusak, baik itu rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Sementara itu, Kabupaten Badung memiliki ruang kelas SD/MI Negeri dengan kondisi baik paling banyak, yaitu 1359 ruang kelas dari 2022 ruang kelas. Angka ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Buleleng, yaitu hampir 70% ruang kelas SD/MI Negeri di Kabupaten Badung memiliki kondisi baik, sedangkan sisanya termasuk kondisi rusak.
Namun, jika dilihat dari perbandingan jumlah ruang kelas yang rusak dengan jumlah total, Kabupaten Bangli memiliki persentase yang paling besar, yaitu 75% ruang kelas masuk dalam kategori rusak dengan kategori rusak sedang paling besar. Kemudian, diikuti dengan Kabupaten Buleleng, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Tabanan. Sebagian besar ruang kelas SD/MI Negeri di Bali memiliki persentase kerusakan di atas 50%, hanya Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang memiliki persentase di bawah 50%.
Meski masuk dalam kategori rusak sedang, nyatanya kondisi tersebut tetap membahayakan bagi siswa-siswi maupun tenaga pendidik yang sedang mengajar. Kami akan mengajak Anda untuk melihat kondisi SD rusak sedang di Kabupaten Klungkung.
Bangunan SD Negeri Besan yang Siap Roboh Hanya Dipoles dari Luar
Berkendara 15 menit dari pusat Kota Semarapura, kami menuju Desa Besan, Kecamatan Dawan. Jejeran bukit hijau menjadi pemandangan perjalanan kami menuju SD Negeri Besan, satu-satunya sekolah dasar di desa tersebut.
Lokasi SD Negeri Besan bisa dibilang strategis, dihimpit Pura Desa, balai banjar, dan kantor perbekel. Pancoran umum yang lokasinya di bawah SD menyita perhatian. Dulunya, pancoran tersebut disucikan, tetapi saat ini diperuntukkan sebagai pemandian umum. Tampak beberapa anak yang baru pulang sekolah menunggu di luar pancoran.
Saat itu kami berkunjung tepat ketika anak-anak baru pulang sekolah. Seorang anak menunjukkan arah ruang guru kepada kami. Jalan masuk ke sekolah sedikit menanjak karena posisi sekolah yang tidak sejajar dengan jalan raya.
Dari bawah, SD Negeri Besan tampak seperti sekolah pada umumnya, sederhana dengan gapura berwarna merah putih di bagian depan. Setelah masuk, di bagian kiri terdapat kolam kecil yang terlihat masih berfungsi dengan baik. Ada juga lapangan sekolah multifungsi, baik untuk olahraga maupun upacara setiap hari Senin.
Para guru yang berpakaian adat tengah merapikan sisa-sisa alat persembahyangan. Salah satu guru menghampiri kami. Osila, wali kelas 6 mengajak kami berkeliling untuk melihat lebih detail bangunan SD Negeri Besan.
Sebagian besar bangunan SD Negeri Besan telah berdiri sejak lama. “Bli di sini (sekolah), tahun 2000 tamat dari sini bangunannya sudah ada,” ujar Osila yang dulunya juga sekolah di SD Negeri Besan. Dulunya, ruang perpustakaan yang berlokasi di sudut adalah mes atau asrama untuk guru, sedangkan di halaman belakang sekolah merupakan kantin. Namun, karena kebutuhan ruang, mes dialihfungsikan sebagai perpustakaan.

Ruang perpustakaan dalam kondisi yang buruk. Cat dan gambar di dinding tampak baru, tapi ketika mata melihat ke atas, plafon bangunannya sudah tidak ada. Di atas hanya tersisa rangka baja, tanpa plafon. Kondisi rak buku pun ada beberapa yang rusak. Menurut penuturan Osila, plafon perpustakaan sudah roboh sejak dua bulan lalu, yaitu sekitar bulan April. Robohnya pun tiba-tiba, tidak ada hujan, tidak ada angin, tapi tiba-tiba plafon jebol.
“Itu gara-gara karatan struktur pegangannya karena dia dari hulu baja yang kecil. Syukur itu nggak ada anak-anak. Pas kami selesai renovasi, cat, beli karpet, beli meja, itu ambruk,” ungkap I Wayan Yudiartana, Kepala Sekolah SD Negeri Besan. Hingga saat ini belum ada rencana perbaikan ruang perpustakaan karena keterbatasan dana.

Bukan hanya perpustakaan, plafon ruang guru pun dalam kondisi yang buruk. Sekilas memang tampak masih bagus, plafonnya seperti baru. Namun, ternyata di balik plafon tersebut terdapat pondasi yang siap roboh kapan saja. Rangka atapnya berasal dari kayu yang sudah lama menopang atap bangunan tersebut.
“Ini sudah tergeser dia, ini sudah patah. Kemudian kemarin kami mau memberikan pengamanan dengan kayu, mau ditempel, sedangkan ini sudah rusak, sudah nggak bisa diperbaiki,” ungkap Yudiartana sembari menunjukkan foto rangka atap bangunan. Saking lapuknya kayu tersebut, dipaku pun tidak bisa.
Kondisi tersebut baru diketahui ketika rehab atau perbaikan sekolah pada tahun 2021 menggunakan dana APBD. Namun, yang diganti hanya plafonnya saja sesuai dengan pengajuan. “Tetapi waktu itu mungkin tidak diperkirakan fatal di atas (rangka atap). Setelah ada kontrak kerja baru kelihatan fatalnya. Saya suruh untuk mengubah nggak bisa karena sudah masuk kontrak. Terpaksa ditutup ininya aja (dipasang plafon) biar rusaknya nggak kelihatan,” tutur Yudiartana.


Selain plafon, tembok pun tampak retak. Retaknya tidak hanya di ruang guru, tapi juga di ruang kelas. Kerusakan paling parah ada di kelas 6. Osila menunjukkan ruang kelas tersebut, lagi-lagi sekilas tampak biasa saja. Namun, di balik poster yang tertempel di dinding ada tembok yang retak. “Kalau sudah hujan badai, nggak berani ngajar di kelas,” ujar Osila. Seperti bulan-bulan sebelumnya ketika cuaca sedang tidak bersahabat, Osila mengabarkan kepada orang tua murid bahwa kelas diliburkan karena takut sewaktu-waktu bangunan sekolah roboh.

Satu-satunya kerusakan yang tampak mata adalah ukiran di pintu ruang kelas 5. Ukiran dari batu bata tersebut sudah roboh tak bersisa, menampilkan retakan di bagian atas. Lagi-lagi Osila menyebut untung anak-anak sudah pulang sekolah saat ukiran tersebut tiba-tiba roboh.
Pada tahun 2024, Yudiartana telah memasukkan data kerusakan ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik), tetapi data terlambat dimasukkan karena bimbang identifikasi tingkat kerusakan. “Mungkin digeser ke tahun berikutnya, menurut informasi dari dinas,” ujar Yudiartana.
Selain itu, tahun lalu ia juga mengusulkan pembangunan laboratorium komputer dan toilet, tetapi pengajuannya tidak diterima. “Alasannya waktu verifikasi kabupaten itu karena sertifikat tanah masih kepemilikan desa, sekarang harus kepemilikan Pemda (Pemerintah Daerah) katanya,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa tidak mungkin memaksakan kepemilikan sertifikat tanah tersebut karena dari tahun ke tahun tanah itu merupakan tanah desa yang diperuntukkan pembangunan sekolah. “Tapi kalau itu dipakai dasar penilaian verifikasi, kan selamanya SD kami tidak bisa dibantu,” imbuhnya.
Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana BOS disalurkan oleh pusat ke Pemerintah Daerah, itu pun terdapat petunjuk teknis penggunaannya. Hanya 20 persen dari dana BOS yang bisa digunakan untuk perbaikan infrastruktur bangunan sekolah.
Selain infrastruktur yang tidak memadai, tenaga pendidik di SD Negeri Besan pun kurang. Ada enam kelas di SD tersebut, tapi hanya ada tujuh guru, termasuk guru agama dan guru olahraga yang ikut menjadi wali kelas. Biasanya, beberapa sekolah memiliki guru yang khusus mengajar Bahasa Inggris, tetapi di SD Negeri Besan tidak ada guru Bahasa Inggris. Sementara, wali kelas wajib mengajar semua mata pelajaran, kecuali agama dan olahraga. “Tapi ya begitu kalau sekolah desa katanya dinomorduakan lah,” ungkap Osila.
Sembari berpasrah dan menunggu bantuan, anak-anak di SD Negeri Besan diajarkan mitigasi bencana. Apabila gempa dan bencana lain datang, mereka tahu harus berkumpul ke mana untuk menyelamatkan diri.
Membandingkan dengan SD Negeri Favorit di Tengah Kota
Kembali berkendara 15 menit ke Kota Semarapura, berdiri sebuah sekolah favorit di sebelah Lapangan Puputan Klungkung, yaitu SDN 1 Semarapura Tengah. Bangunannya berdiri kokoh dengan dua lantai. Setelah masuk, patung Ganesha dan padmasana berdiri megah dilengkapi canang yang masih terlihat segar.

Di sisi kiri ada bangunan lama dengan arsitektur kolonial Belanda yang masih berdiri megah, sedangkan di sisi kanannya merupakan bangunan baru dengan dua lantai. Jika dibandingkan dengan SD Negeri Besan, bangunan SDN 1 Semarapura Tengah tampak jauh lebih baik. Tidak ada perpustakaan di sana, tapi jumlah kelasnya mencapai 21 kelas dengan jumlah siswa sekitar 700-an orang. Jumlah ini lebih dari tiga kali lipat SD Negeri Besan dengan enam ruangan dan 196 siswa.
Ada ketimpangan yang besar ketika membandingkan dua sekolah tersebut. Kalimat ‘semua sekolah sama saja’ seolah kabur. Nyatanya, sekolah di pusat kota mendapatkan perhatian yang lebih banyak dibandingkan sekolah pinggiran kota. Sekolah yang jauh dari pusat kota hanya bisa berpasrah, menunggu bantuan dari pemerintah datang. Meski dipoles sebagus apa pun, jika pondasi dalamnya sudah rusak, tidak ada jaminan keselamatan bagi anak-anak.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet





