
Oleh L. Taji, Foto-foto: Luciana Ferrero
Hari ini adalah hari terakhir yang disediakan Bulan Juli, tepatnya Rabu, 30 Juli 2025. Sebidang langit mendung. Beberapa bilangan jalan basah diguyur hujan lebat, sementara yang lain hanya gerimis dengan jeda berupa reda.
Sebuah poster dari group whatsapp dengan caption memuat sebuah lokasi, membawa perjalanan berujung di sebuah desa bernama Desa Aan, Klungkung. Sebuah poster pementasan seni pertunjukan, karya dari Dhira Aditya dengan tajuk “Rahasia Bapak”. Poster tidak memberikan banyak informasi, selain judul, pembuat karya dan penguji, karena karya ini merupakan sebuah materi ujian. Demikian juga dengan caption selain hari, jam dan tempat yang kembali dipertegas, serta lokasi yang bisa menghadirkan titik yang harus dituju, ada kalimat “Pertujukan ini mengajak penonton turut merasakan dan menyusuri jejak keintiman, kepedulian, dan transformasi melalui tubuh, ruang, dan narasi emosional yang terjadi di antara air, tebing, pengalaman, dan kenangan”.
Sebuah kalimat yang cukup membuat penasaran seperti apa tubuh, ruang, dan narasi emosional tersebut akan dihadirkan dalam ruang pertunjukan. Rasa penasaran yang pada akhirnya membuat saya berujung pada sebuah pekarangan rumah dengan kerumunan asing, seasing nama pembuat karya, seasing Desa Aan.
Beberapa wajah yang lekat dalam ingatan akhirnya hadir, membuka peristiwa sapa-menyapa, cukup menghangatkan kedinginan pasca melalui guyuran hujan dalam perjalanan menuju Desa Aan, dan tentu saja perasaan asing di tengah kerumunan di pekarangan yang tidak kalah asing.
Pekarangan yang menjadi lokasi pertunjukan adalah rumah khas yang biasa ditemui warga bali di pedesaan. Ada beberapa bangunan terpisah yang mengisi ruang, dan tempat saya berdiri kali ini cukup lengkap. Ada bale dauh (bangunan di sisi barat), bale daje (bangunan di sisi utara), sanggah, bale dangin (bangunan di sisi timur), pawon (dapur), bale delod (bangunan di sisi selatan).
Seorang lelaki tua berdiri dan menatap dari balik tembok sanggah (area pura keluarga) menatap ke area pekarangan yang kian ramai oleh penonton yang hendak menyaksikan tiap produksi dan tentu saja para penampil yang telah bersiap menunggu hari pementasan.
Di antara keriuahan, para penampil telah menempati masing-masing bangunan yang akan menjadi ruang pementasan. Bale dauh, diisi anak-anak perempuan dengan kemben (kain) dan kebaya putih serta property berupa bancangan, (sarana yang biasanya ditemukan pada prosesi bayi satu bulan tujuh hari, yang terbuat dari pucuk daun enau yang dirias dengan bunga).
Bale daja, bangunan hulu yang cukup tinggi diisi 4 orang anak laki-laki menghadap instrument gender yang telah tersaji dihadapan masing-masing anak. Demikian juga di pelataran dapur, beberapa pria dewasa dengan berang (golok yang biasa digunakan untuk memasak) dan talenan (landasan untuk memotong atau mencincang), merajang bumbu yang akan menjadi bagian dari adonan yang disajikan.
Di halaman rumput berlumpur, segerombolan anak laki-laki bertelanjang dada, hanya mengenakan kamben (kain) dan destar,berdiri. Berkerumun.
Sementara penonton menjadi kerumunan yang lain, yang hadir di halaman, di antara bangunan. sesekali merapatkan diri ke bangunan yang meneduhi dari gerimis. Tim produksi yang sepertinya kerabat dan handi taulan empunya karya ada di antara penonton, bangunan, dan penampil.
“Pertunjukan akan dimulai 15 menit lagi” suara seorang lelaki mengabarkan ketika jam menunjukkan angka 14.15. Beberapa saat kemudian beberapa orang menggiring dan menginformasikan jika pertunjukan akan segera dimulai dan penonton diharapkan keluar area pekarangan rumah. Informasi yang menjelaskan bahwa pertunjukan akan dimulai dari jalan raya di depan rumah.
Melangkah keluar pekarangan, penonton berdiri di tepian jalan, di antara kendaraan yang terpakir. Gerimis memberi reda dengan jeda, beberapa penonton muda berdatangan ingin terlibat menyaksikan pertunjukan. Area pekarangan dan ruang pertunjukan kini sepenuhnya menjadi milik penampil. Sementara penonton satu persatu berdatangan, menunggu.
Beberapa orang melangkah dari ujung jalan utara menuju selatan, rumah ruang pertunjukan. Beberapa orang yang tentu saja bukan penonton sembarangan. Mereka adalah beberapa sosok yang ditunggu, alasan pertunjukan ini lahir: para penguji.
Disambut oleh beberapa anak perempuan dengan kemben dan kebaya putih dan seorang lelaki bertelanjang dada, dengan kemben dan destar. Lalu diarahkan masuk menuju gerbang rumah, prosesi kecil pemberian bungan jepun (kamboja), simbolis penyambutan. Sederhana, kecil, intim namun tegas merupakan penanda jarak. Siapa kalian-siapa kami.
Tenang, tidak ada kalung bunga mewah, tarian penyambutan yang menampilkan perempuan dengan make-up tebal, rambut tertata rapi dan kostum yang mencolok serta gerakan molek. Sebuah prosesi khas yang mudah ditemui ketika para penjilat menyambut junjungannya. Pada prosesi penyambutan birokrasi dengan pejabat pusat sebagai tamu hal ini mudah dijumpai.
Setelah tim penguji masuk, panitia juga mempersilahkan para penonton untuk masuk. Kekacauan dan kebingunan lengsung menyusul setelah menaiki anak tangga menuju gerbang dan menapakkan langkah kaki di pekarangan ruang pertunjukan.
Kekacauan karena setelah penonton masuk, pekarangan menjadi sesak. Kebingungan karena harus berdiri di mana untuk bisa menyaksikan tiap adegan pertunjukan secara nyaman. Kekacauan dan kebingungan yang hadir adalah kejutan yang kemudian menstimulasi ingatan menikmati prosesi budaya dan atau kesenian rakyat.
Dalam prosesi tradisi budaya dan atau kesenian rakyat sulit berharap ada ruang nyaman ala standar pertunjukan di mana penonton dikonstruksi dalam sajian nyaman ruang menonton untuk menikmati para penampil di atas panggung yang berjarak. Dalam ruang kerakyatan, penonton dan penampil hadir dalam level yang sama. Dekat, intim, berjarak dalam kedekatan dan keintiman.
Di tengah kekacauan, seorang lelaki berceloteh menjelaskan, mengambil kendali. Ia memandu dari satu bangunan ke bangunan lain, dari satu babak ke babak lain. Mejelaskan. Menceritakan pertunjukan, menjelasakan perjalanan.
Dari bale dauh dimana anak-anak perempuan merias pucuk daun enau/aren, melangkah menuju bale daja, dimana para bocah lelaki telah menampilkan tetabuhan gender dengan seorang lelaki muda dengan menggebu secara gerak tubuh dan suara mengajarkan adik-adiknya tentang pola yang harus diikuti.
Dari Bale Daje penonton bingung, bergerak, kemudian menuju dapur menyaksikan bagaimana dapur penuh laki-laki kekar yang memasak. Laki-laki dengan kamben dan destar, bertelanjang dada memamerkan otot dada dan lengan dan keterampilan mengunakan berang, semacam golok untuk memotong vabe, mengiris kulit, dan umbi rempah lain. Dalam posisi yang ditata sedemikain rupa, dengan talenan dan duduk saling berhadapan serta tentu saja obrolan mereka.
Dari dapur, sang pemandu mengajak menyaksikan bagaimana prosesi belajar menari yang dilakukan oleh sekerumunan bocah laki-laki di halaman berumput dan berlumpur oleh hujan.
Tanpa informsi akan alur pertunjukan, tiba-tiba dari halaman rumput basah berlumpur tempat para lelaki menghadirkan babak bagaimana proses belajar menari, bergeser ke sebuah pendopo di luar pekarangan rumah. Sebuah pendopo yang sepertinya menjadi ruang penyimpanan perabotan. Dalam bahasa modern disebut Gudang yang ternyata dibagi sedemikian rupa untuk menjadi ruang belajar aksara Bali. Di pendopo itu babak pertunjukan berlanjut, menghadirkan bagaimana anak-anak belajar aksara Bali.
Sekali lagi pendekatan pertunjukannya adalah seni kerakyatan, tidak ada ruang nyaman untuk menyaksikan di tengah jubelan penonton.
Dari pendopo, kini anak-anak laki dan perempuan tiba-tiba mengisi jalur setapak dengan berlantaikan paving/conblock, bersenandung, bermain, merayakan kegembiraan. Melakukan permainan anak-anak. Permainan anak-anak berbasis pertemuan dan interaksi nyata, bukan perayaan virtual. Permaianan nyata, yang menghadirkan interaksi fisik, bukan online.
Anak-anak yang begitu menikmati permainan yang mereka mainkan. Mereka perankan. Jangan lupa, ini masih dalam konstruksi pertunjukan. Keriangan anak-anak bermain, membawa perjalanan menonton keluar pekarangan, masuk menyusuri aspal tipis, alakadarnya dengan jejak bopeng dimana-mana digerus air.
Menyusuri jalan menjumpai pura megah dengan bangunan wantilan, lalu balai subak, selokan khas dengan sampahnya, kandang ayam dengan music koplo, kemudian tembuku sebelum kemudian memasuki area jalan produksi pertanian, jalan subak (yang memudahkan distribusi dan konsumsi petani akan pupuk kimia, solar dan traktor) menuju ruang pertunjukan selanjutnya.
Muda-mudi di atas atap menari, memanggil, mengjak untuk mendekat, dengan sapaan-sapaan yang dijelasakan oleh lelaki yang menjadi pemandu. Dengan kecanggungan satu-persatu penonton masuk.
Satu per satu mulai masuk. Itu menjadi peristiwa berikutnya setelah seseorang lebih dulu masuk, entah karena paham bahwa ini adalah pertunjukan interaktif, atau mungkin bagian dari panitia yang sengaja masuk lebih dulu untuk menstimulasi yang lain agar mengikuti ajakan penari di atas atap, yang sejak tadi berteriak-teriak mengajak masuk.
Sebuah babak yang menyimulasikan situasi sosial untuk menggambarkan briung siu, bergerak karena kerumunan. Jika tidak ada yang masuk terlebih dahulu, maka tidak akan ada yang diikuti. Tapi ketika satu orang masuk, disusul oleh yang lain, lalu berikutnya lagi, maka pergerakan terus berlangsung hingga akhirnya semua masuk ke dalam ruang pertunjukan selanjutnya, area Aan Secret Waterfall
Dapur dalam bentuk yang lain hadir, asap mengepul serakaian memasak kudapan. Lalu satu-persatu laklak (kudapan Bali) hadir ke tengah-tengah penonton dengan tawaran dan kopi yang menyusul.
Laklak dan kopi di sore hari, sajian yang bisa merubah senja menjadi pagi. Harapan. Sebuah adegan yang menyajikan bagaimana kesibukan dari sebuah dapur yang tiba-tiba didatangi segerombolan orang yang harus disuguhi dengan sajian kopi dan laklak, kudapan khas Bali.
Babak di dapur Aan Secreet Waterfall ditutup dengan adegan pertarungan dua kelompok muda mudi, menggunakan pendekatan gegenjekan, bentuk acapela tradisional yang biasanya dilakukan para lelaki dalam situasi menikmati tuak. sebuah peristiwa sebelum invasi speaker dan youtub yang membuat setiap rumah dan pertemuan menjadi ruang karaoke sumbang.
Pasca dapur Aan Secret Waterfall, penonton ditarik dengan sebuah babak drama permainan anak-anak di depan pendopo berasitektur joglo. Babak cerita, Burung bangau, ikan dan sampah, dengan instumen kulkul. Sebuah bangunan konstruksi pertarungan ekologis, burung bangau pemangsa ikan dan sampah yang akan menghancurkan banguanan konstruksi ekologis.
Babak yang kemudian menghantarkan pada perjalanan ke ruang pertunjukan selanjutnya, Aan Secret waterfall, air terjun rahasia Aan. Air terjun rahasian Aan, tidak rahasia karena hendak disembunyikan, namun tersembunyi karena tumpukan sampah.
Air terjun rahasian Aan, adalah sebuah air terjun yang keberadaannya terungkap setelah I Nyoman Kariasa atau yang akrab disapa dengan Pan Dhira di tahun 2018, yang kemudian berisinisatif untuk mengajak warga bergotong-royong mebersihkan sampah yang selama ini menyembunyikan air terjun Aan.
Kemudain perjalanan berlanjut ke babak pamungkas, menyusuri setapak rabat beton dan serangkain anak tangga. Akar melintang yang dibiarkan begitu saja memaksa yang melintas untuk menunduk. Tangga cukup aman, namun naluri kesadaran akan ruang juga hadir, kesadaran yang mengendalikan ambisi yang menggebu atau menahan diri.
Pertimbangan yang membuat saya tidak menyaksikan pertunjukan “Rahasia Bapak” secara tuntas. Karena setiap ruang memiliki kapasitasnya, dan ketika yang lain sudah menggebu menginginkan, saatnya menarik diri dan membiarkan mereka duluan melampiaskan keinginannya.
Ya, saya tidak menikmati secara utuh, namun saya selalu memiliki sebuah keistimewaan yang melekat, subjektifitas sebagai penonton. Di era netizen, bukankah penonton punya hak seenaknya?
Sebagai penonton yang juga netizen, saya ingin menggunakan hak untuk menceritakan pengalaman dan kejutan-kejutan yang akhirnya membuat saya harus menuliskan ini.
Seperti halnya netizen, saya hendak menggunakan kuasa subjektifitas saya sebagai penonton untuk memilah dan memilih. Jika pertunjukannya biasa saja, ya sudah dinikmati. Jika jelek, cukup diamkan saja. Jika mengganggu, perlu diceritakan.

Ledakan Kejutan Rahasia Bapak
Suara gender Bali Daje tentu mejadi dominan bunyi yang mengisi pekarangan rumah yang sekaligus menjadi panggung pertunjukan. Bentuk nyaring dan eksotisme konstruktif, yang bisa dan biasa direplikasi.
Namun Pertunjukan “Rahasia Bapak” menghadirkan detail bunyi lian dari proses komunal. Bebunyian tersebut tidak hadir dalam ruang instrument gamelan, namun dalam laku. Bunyi yang dihasilkan golok ketika menimpa talenan dalam prosesi mencacah bumbu dan daging, yang merupakan rangkaian yang tidak bisa terpisahkan ketika proses memasak secara komunal dihadirkan.
Pertunjukan Rahasia Bapak, yang dikomposisi oleh Dhira Aditya merupakan sebuah pertunjukan yang menghadirkan laku Sang Ayah, I Nyoman Kariasa, yang memiliki ketertarikan dan ketekunan merawat lingkungan dan juga tradisi-budaya. sebuah laku yang melibatkan ruang hidup, rumah,sawah dan sungai. Ruang bertumbuh sekaligus mengisi relung-relung pengalaman masa kecil yang kemudian tanpa disadari menjadi kesadaran.
Pertunjukan menghadirkan proses komunal yang selama ini berlangsung dalam potongan-potongan kecil proses kegiatan, kini dihadrikan menjadi sebuah prosesi utuh. menjadikan rumah sebagai ruang belajar lintas generasi, tradisi-budaya, dalam bentuk pelibatan anak-anak membuat bayangan, dalam bentuk latihan gender. Ruang belajar dalam bentuk tari dan aksara, serta oleh rasa dan aroma melalui proses di dapur. Yang tidak kalah, adalah menjadikan prkarangan sebagai ruang bermain permainan tradisional.
Dari proses komunal tidak hanya menghadirkan kerografi gerak tubuh namun juga komposisi bunyi. Hal tersebut hadir dalam laku menuang air kedalam jamban, sebuah adegan yang tidak hanya memperlihatkan bagaimana tubuh bergerak untuk melakukan proses menuang air namun juga bunyi dari air yang dituang ke dalam jamban.
Bunyi minyak panas menyambut bumbu yang telah dicincang dilempar ke pelukannya, peristiwa yang tidak hanya menghadirkan suara khas namun juga menghadirkan aroma wangi khas yang ditangkap indra penciuman. Aroma yang dekat dan lekat dengan ingatan yang biasa hadir dalam keseharian rumah.
Di antara suara detail yang dihadirkan sebagai bagian dalam pertunjukan, ada suara yang hadir dari penonton. Menggemaskan. Jika tidak mau disebut kampungan. Suara yang hadir dari muda-mudi yang yang terikat dalam sebuah pertemanan dan sepanjang pertunjukan sibuk mengomentari setiap adegan dan “cekakak-cekikik” yang menyertai, yang menjadi elemen bunyi yang tegas dan hadir dengan nyata di tengah pertunjukan. Namun suara-suara hadir dan tanpa disadari menjadi elemen kejutan dari pertunjukan yang berlangsung. Suara obrolan dengan cekakak-cekikik yang lahir sebagai reaksi pemuda-pemudi harapan bangsa yang hadir untuk menonton, yang tak bisa menahan diri untuk sadar bahwasanya ini sedang dalam ruang pertunjukan, bukan yang perlu dikomentari.
Bebunyian penonton yang menjadi bagian pertunjukan dan mengingatkan bagaimana sebuah pertunjukan dihadirkan dalam ruang kerakyatan dimana penonton dan pregina (penari, pelakon) tidak dipisahkan dalam jarak Panggung dan Kursi penonton. Sebuah ruang utuh, dimana penampil dan penonton berada pada ruang setara dan bebunyian yang sadir sebagai reaksi dari tiap babak yang ditampilkan kemudian juga merupakan bagian yang menjadi keutuhan pertunjukan.
Sebuah pengalaman yang hadir begitu saja, ada detail-detail bebunyian yang hadir dan tidak perlu dijelaskan. Dihadirkan dalam konstruksi keterbukaan dan kebebasan untuk menikmati.
Termasuk kemudian untuk perjalan menyusuri setapak di antara area persawahan, menuju air terjun. Lalu masuk menapaki anak tangga, lalu menunduk karena akar pohon, hingga sampai diperisimpangan untuk memilih, turun atau balik kembali ke atas.
Ini adalah sebuah pertunjukan dimana membuka ruang kebebasan dari para penonton untuk memilih pengalaman menikmati perunjukannya. Membuka ruang untuk mengingatkan akan batas kesadaran.
Kejutan lain adalah ketubuhan koreografi, kehadiran lelaki yang memasak di dapur dan lelaki lain yang menuangkan air adalah bentuk ketubuhan yang lahir oleh ruang. Saya tidak tahu bahasanya apakah Eco-choreography atau apa, namun pada kenyataanya sebuah unit dengan kesadaran komunal dan upaya menjaga ingatan ruang dan menjaga ingatan ketubuhan. Menjaga ingatan yang sangat tidak koreografi dalam konstrusksi pertujukan panggung modern yang pada kenyataannya menyederhanakan gerak tubuh ergonomis adat menjadi simbolisme gerak yang menyederhanakan bagaimana gerak tubuh itu lahir, menjadi gerak pertunjukan.
Gerak yang bisa dinikmati namun jauh dari ruang hidup yang membentuk gerak tubuh tersebut.
Pengalaman yang tidak mungkin dilupakan adalah bagaimana sebuah pertunjukan menjadikan suara-suara penonton menjadi bagian dari pertunjukan.
“Rahasia Bapak” bukan pertunjukan teater. Kenapa? karena jika pementasan teater mereka akan bilang jika itu adalah pertunjukan teater. Seni pertunjukkan yang ditampilkan Dhira Aditya melali “Rahasia Bapak” adalah pertunjukan tari.
Pertunjukan tari yang liar, yang menghadirkan tarian dalam bentuk perjalanan akan ingatan akan sang bapak.
Rahasia Ayah adalah upaya seorang anak bernama Dhira Aditya menceritaka gagasan dan ketekunan menjaga gagasasan dari sang ayah. Gagasan yang tidak diceritakan, tapi dilakukan, gagasan yang menumbuh.
Sebuah pengalaman menyaksikan seorang anak menghadirkan gagasan seorang ayah dalam bentuk pertunjukan. Menghadirkan setiap upaya dari gagasan dalam bentuk laku proses yang yang dihadirkan dalam ruang bernama rumah dengan aktifitas interaksi belajar komunal hingga perjalanan pada kesadaran lingkungan dan menemukan yang tersembunyi oleh tumpukan sampah.
Rahasia Bapak sebuah sajian yang membongkar rahasia seorang bapak akan imajinasi, gagasan, dan lak yang tidak dibicarakan namun dilakukan. Sialnya dibongkar oleh sang anak.

Dibongkar dengan sederhana nan intim dengan detail suara dan aroma, golog beradu dengan talenan, tuangan air, suara genit penonton muda, derap langkah, gemericik air selokan, seng beradu dengan bambu untuk menakuti burung. Dibongkar untuk menghadirkan dan mengingatkan laku harian adalah lakon, dan rumah-ruang bermain adalah panggung pertunjukan itu sendiri.
“Rahasia Bapak” hanya upaya kecil sorang anak laki-laki menceritakan diam, laku, dan gagasan dari bapak yang ternyata komunikatif, terbuka, bersahaja, dan membuka ruang belajar bersama.
Yang perlu ditunggu adalah, bagaimana Rahasia Bapak ini membongkar kerak laku maskulin dan figure bapak, selain itu yang layak ditunggu bagaimana Dhira Aditya membongkar “Rahasia Bapak” untuk menghadirkan bagaimana Ibu dan Bapak lain di ruang hidup yang berbeda.
bandungpafi sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet kampung bet




