• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 8, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Pulau Penyu, Sebuah Kenangan dan Rumah Singgah

Astarini Ditha by Astarini Ditha
26 October 2011
in Berita Utama, Lingkungan, Travel
0 0
1

Sebelum tahun 1997, itu adalah sebuah pulau. Letaknya terpisah dari pulau utamanya, Bali.

Pulau itu bernama Serangan. Mencapainya tentu saja perlu perahu. Setelah pengurugan (reklamasi), jalan air menuju gerbang pulau itu disulap jadi jalan beton. Tak lagi perlu perahu untuk menyeberang, nyalakan kendaraanmu dan sampailah di pulau kenangan itu.

Serangan Pulau Kenangan, begitu judul lagu yang digubah I Gusti Bagus Ngurah Arjana. Ini petikannya, Trimalah salam hormatku / Serangan pulau kenangan.. Juga ada yang menyebutnya, Pulau Penyu di tahun 1970an. “Almarhum Prof. Ngurah Bagus yang dari (Kampus) Sastra dulu menyebutnya Pulau Penyu,” cerita Wayan Geria, pengelola  Pusat Edukasi dan Konservasi Penyu atau Turtle Conservation and Education Centre (TCEC).

Penyu-penyu itu ditangkarkan di sana. Ada yang dari telur, ada yang berusia belasan tahun dan dititipkan karena sakit, dibeli dari nelayan dan sebagainya. Penyu-penyu itu berumah di sana.

Sekitar pukul 10 pagi, Made Danta sedang menguras air di kolam, tempat berenang para tukik jenis Lekang. Umur mereka ada yang satu bulan dan 2 minggu. Kolam mereka tentu saja dipisah. Untuk menghindari saling gigit di antara mereka.

“Usia 0-5 bulan itu usia yang rentan bagi tukik,” kata Wayan Geria.

Di antara mereka kanibalisme mengancam. Betul saja, di satu kolam sebelah Barat, sebuah keranjang plastik sedang berwarna hijau mengapung. Di dalamnya seekor tukik berusia 3 bulan sayapnya tengah terluka compeng.

Sesak Bernapas
Di balai, ada lima belas kolam dengan ukuran 2,5 x 2,5 meter, tempat pembesaran bagi para tukik. Di sana ada juga tempat penetasan di sisi timur, di selatannya ada kolam berbentuk badan penyu untuk eksibisi bagi penyu berumur di atas setahun. Mereka diberi makan ikan lemuru dan rumput laut. Kolamnya dibersihkan setiap hari, untuk menghindari sisa lemak pada makanan yang membikin para tukik sesak bernapas.

Pusat edukasi dan konservasi penyu ini dibangun berdasar suatu konsep yang dinamai pengelolanya sebagai 3E plus unsur sosial budaya. “Edukasi, ekologi dan ekonomi,” ujar Geria. Kisahnya, di awal tempat ini dibangun sebagai tempat pemanfaatan penyu. Untuk memastikan keberadaan penyu bagi kebutuhan upacara. “Supaya ada stocknya dan tidak sembarangan,” lanjutnya.

Di balai itu, penyu-penyu untuk keperluan upacara dipagari dengan jaring-jaring. Sebagai pemisah bahwa ini untuk keperluan upacara, begitu penjelasan Made Danta.

Pengunjung akan melihat sekilas siklusnya, baik dalam gambar diorama, video di balai tengah, atau langsung di tempat pembesaran. Ekologi, mencakup aspek lingkungan yang luas. “Di sana ada fungsi konservasinya,” kata Geria. Konservasi penyu ini menjadi isu yang seksi. Cerita Wayan Geria, di tahun 2003 isu konservasi penyu ini diangkat sebagai pendamping gerakan pemulihan Bali usai bom Bali 2002. Sebuah lembaga swadaya masyarakat, WWF memenangkan dana hibah itu, maka dibarengilah juga dengan penyelamatan lingkungan tepatnya pada konservasi penyu. “Karena faktor ekonomi, kesadaran konservasi jadi hilang,” ujar Geria.

Sebelumnya, perdagangan dan pembantaian penyu masih marak. “Yang mengatur konservasi satwa UU No 5 tahun 1990, dan Peraturan Menteri No.7 dan No. 8, baru hal itu dilarang,” tambahnya.

Cerita Wayan Geria, pernah di tahun 1980an, mantan Menteri Riset dan Teknologi, BJ Habibie singgah ke pulau Serangan. Dari Nusa Dua dilihatnya ada sebuah pulau yang indah. Ia melihat orang banyak menjual beli, memotong penyu, yang dilihatnya juga di Tanjung Benoa. “Mungkin dia berpikir, ini dapat di mana penyu-penyunya,” kisah Geria. Barangkali ia membawa informasi itu ke pusat, lalu mulai dikembangkan.

Singkatnya, di tahun 1982, didirikan sebuah pilot project, bangunan penangkaran penyu di pinggir pantai Serangan. Lokasinya masih di TCEC kini. Perbedaannya banyak. Hanya ada satu balai, kolam-kolamnya dibuat setinggi ukuran tubuh manusia. Sedang di depannya, di bibir pantai, didirikan 8 petak kolam.

Seribu Tahun
Sayang, sesudah usia pilot project itu berakhir, sekitar tahun 1987, tempat itu mangkrak. Dilingkupi pohon-pohon besar, dihuni kadal dan ular, ditumbuhi tumbuhan merambat. Baru di tahun 2003-2004 mulai ada diskusi-diskusi dan rencana pemugaran. “Tahun 2005, baru sedikit diperbaiki TCEC ini,” kata Geria.

“Omong kosong kalau konservasi itu ada dananya, beda dengan LSM yang ada uang dinginnya,” ujar Geria. Karena itu perlu ada pembiayaan untuk operasional dan kesejahteraan, dan fungsi ekonomi pun dilekatkan. Untuk itu, tempat ini juga dijadikan obyek tourism. Ia membikin paket-paket wisata. Bervariatif, ada yang berharga Rp 25.000.

Tetapi Geria tidak mau menerapkan tiket masuk khusus ke pengunjung TCEC. “Kalau ditiketkan itu akan jadi bisnis,” kata Geria. Untuk memenuhinya, ada donasi, adopsi tukik dan kunjungan dari para murid, paket wisata.

Adopsi. Ya tukik-tukik ini ada yang mengadopsi untuk kemudian dilepaskan lagi ke laut. Seperti seremonial di TV, mewartakan tentang pelepasan tukik di pantai ini oleh pihak ini. Mereka diadopsi dan dihargai kisaran Rp 30.000 ke atas untuk tukik berumur rentangan 3 minggu – 3 bulan. Harga adopsi itu tergantung musim.

Banyak sedikitnya persediaan tukik serta usianya. Sebab tak banyak tukik yang bisa bertahan hidup. Kemungkinan mereka hidup bisa sekitar 30 % – 50 % dari jumlah awal mereka ditetaskan dalam satu sarang.

Telur-telur penyu ada yang didapat dari para nelayan. Untuk setiap butirnya dihargai Rp 3.000. Dari cerita Made Danta, ada saja yang membeli telur penyu untuk konsumsi pribadi. Nelayan ini sudah diarahkan sebelumnya untuk membawa telur yang ia dapatkan. “Biasanya dihargai lebih mahal sedikit,” ujar Made Danta. Diorama di bangunan tengah, menggambarkan betapa rentan telur-telur penyu terhadap serangan predator, residu plastik, penjualan ilegal.

Musim-musim penyu ini bertelur menurut Made, sekitar Juli – Agustus. Dan jenis yang paling banyak singgah bertelur di perairan Bali adalah jenis Lekang..

Perluasan lahan itu seluas 380 hektar. Entah seluas itukah juga tempat bertelur yang bisa dilabuhi para penyu. Penyu ini terancam. Ia tak seperti kura-kura yang bisa gampang sembunyi di balik cangkang. Orang-orang pun memburu daging dan minyaknya. Barangkali tak sedikit yang bisa mencapai usia ratusan atau bisa berevolusi macam kura-kura Galapagos yang terkenal itu.

Di sebuah tempat penangkaran lain di Serangan, Citra Taman Penyu, terdapat sepasang penyu hijau berusia 50 tahun. Tubuhnya besar dan panjangnya sekitar 1.30 meter. Sepasang penyu itu bisa bertahan hidup dalam sebuah kolam hingga usia 50 tahun. Mungkin mereka ingin hidup hingga ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun. Seperti kata Chairil Anwar, barangkali mereka juga ingin hidup seribu tahun lagi. [b]

Tags: LingkunganSeranganTravel
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

3 November 2025
Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

18 October 2025
Next Post
Melukis Wajah Hindu 50 Tahun Mendatang

Melukis Wajah Hindu 50 Tahun Mendatang

Comments 1

  1. Asti says:
    14 years ago

    Bali is Beautifull…

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

7 December 2025
Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

6 December 2025
“Bapak, wait for me…wait for me..!”

Ekonomi Regeneratif: Solusi Kelelahan Ekologis dan Peta Jalan Baru Bali

5 December 2025
Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

4 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia