• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Puisi Widji Thukul dalam Alunan Menawan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
1 September 2015
in Kabar Baru, Musik
0
0

Mari menikmati puisi perlawanan dengan musik menawan.

Trio folk Bali Dialog Dini Hari (DDH) meluncurkan lagu tunggal dari puisi Wiji Thukul. Lagu Ucapkan Kata-Katamu resmi disebar melalui laman Rolling Stone Indonesia. Lagu bisa diunduh gratis.

Bersamaan dengan peluncuran tersebut, DDH juga mengirimkan catatan ke media. Tentang proses produksi lagu dan kenapa mereka mengangkat sastrawan yang hilang diculik tersebut.

Pada 26 Agustus tahun ini, Widji Thukul seharusnya merayakan ulang tahun ke-52. Namun, hingga kini sastrawan cum-aktivis buruh tersebut belum juga ditemukan. Widji Thukul, aktivis Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) itu diculik pada 27 Juli 1998 oleh militer. Hingga sekarang Widji Thukul belum juga ditemukan.

Tujuh belas tahun berlalu sejak hilangnya, suara Widji Thukul masih terus bergema. Karya-karya bapak dua anak itu masih bertebaran tidak hanya di tempat-tempat perlawanan tapi juga di media sosial. Puisi-puisi karya Widji Thukul masih menyalakan semangatnya.

Seperti dia pernah sampaikan dalam salah satu sajaknya, hingga saat ini Wiji Thukul memang masih utuh. Kata-katanya belum binasa.

002eb58a_artwork-DDH-650

Kini, puisi Wiji Thukul hadir kembali dalam balutan musik Dialog Dini Hari (DDH). Tri folk dari Bali yang terdiri dari Dadang SH Pranoto, Deny Surya, dan Brozio Orah melantunkan salah satu puisi karya Widji Thukul, Ucapkan Kata-Katamu.

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

Kata-kata puitik Widji Thukul, seperti biasanya, tidaklah berisi omong kosong di balik permainan rima. Widji Thukul menjadikan puisi sebagai media untuk melawan, tidak hanya bersilat kata menawan.

Di tangan trio DDH, lagu tersebut terdengar lebih lebih emosional. DDH tetap membalutnya dengan irama folk khas mereka tapi membuat hati tetap saja tergetar. Suara bariton Dadang yang lebih akrab disapa Pohon Tua teguh dan khidmat menyanyikan bait-bait Widji Thukul.

jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

Lirik-lirik itu tetap tertata apik dengan balutan gitar Dadang, petikan bas Brozio, dan dentuman drum Deny. Bedanya, kali ini ada pengisi tambahan, Yuvensius Donny yang memainkan klarinet. Donny, pemain klarinet di Bali dan sering wara-wiri di even jazz memberikan sentuhan berbeda pada lagu DDH kali ini.

Seluruh proses pengerjaan lagu ini dilakukan di Bali. Rekaman di Studio Antida milik Antida Darsana. Adapun mixing dan mastering di Studio Lengkung Langit oleh Deny Surya.

Menurut Dadang, vokalis DDH, penggubahan lagu Widji Thukul ini adalah bentuk penghormatan mereka terhadap sastrawan ikon perlawanan terhadap Orde Baru tersebut. Sebelum itu, Dadang sudah berdiskusi lebih dulu dengan keluarga Widji Thukul terutama Fajar Merah, anak Widji Thukul yang juga musisi.

“Kami sepakat untuk menyebarluaskan puisi Widji Thukul. Anak-anak muda harus tahu siapa Wiji Thukul dengan karya karyanya. Tidak sebatas kalangan temen-teman aktivis saja,” kata Dadang.

Sebelumnya, Dadang secara pribadi juga turut dalam proyek rekaman lagu korban tragedi 1965 yang diluncurkan di Jakarta pekan lalu, Nyanyian yang Dibungkam. “Saya makin yakin dengan apa yang kita tempuh. Berjuang lewat seni bukanlah hal mustahil untuk membangun kembali semangat bergerak bersama,” tambahnya.

Melalui lagu Ucapkan Kata-Katamu, DDH ingin mengajak generasi sekarang untuk kembali belajar tentang sejarah Indonesia yang kelam, termasuk kasus-kasus yang tak tuntas di masa lalu. Hilangnya Wiji Thukul sebagai pejuang sastra hanya salah satunya.

DDH punya alasan sendiri kenapa menggandeng Rolling Stone Indonesia. Menurut Dadang, media bisa menjadi alat paling jitu untuk menyebarkan lagu mereka.

“Kami pikir RSI bisa terlibat karena mereka juga peduli. DDH hanya sebagai penyambung karya Widji Thukul itu ke khalayak. Tidak lebih,” ujar Dadang. [b]

Tags: BaliDialog Dini HariMusik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Prison Songs, Membangun Jembatan Sejarah

Prison Songs, Membangun Jembatan Sejarah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia