Profil Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah

Oleh Ir. A.A.A. Oka Saraswati, MT

Pengantar Penunggu Bale Bengong: Tulisan tentang usul menjadikan nama almarhum AA Made Djelantik sebagai nama rumah sakit (RS) Sanglah di Denpasar Bali masih menjadi diskusi di beberapa blog, seperti yang sudah disebut di tulisan sebelumnya. Ada yang menganggap almarhum AA Made Djelantik tidak layak namanya dijadikan karena kedekatannya dengan Belanda pada masa revolusi. Ada pula yang menganggap ada nama lain yang lebih layak, salah satunya nama almarhum IGN Gde Ngurah.

Tulisan ini dibuat dalam konteks tersebut, selain tentu saja untuk memperkenalkan salah satu tokoh perintis RS Sanglah tersebut, oleh penulis di atas yang juga putri IGN Gde Ngurah sendiri. Semula dalam bentuk biodata panjang. Saya berusaha mengubahnya ke bentuk narasi agar lebih enak. Tapi karena terlalu panjang, jadi agak susah. Maka saya hanya menghilangkan penomoran. Semoga tidak mengubah isi sama sekali. Dan, tentu saja, semoga berguna..

Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah. Dokter Spesialis Saraf & Jiwa. Lahir di Denpasar Bali pada 31 Maret 1922 (Tercatat 1923). Jabatan terakhir adalah pegawai utama/guru besar – gol. IV/e. Alamat di Jalan Panglima Besar Sudirman No. 14 Denpasar.

Latar belakang keluarga beliau antara lain I Goesti Ayu Oka Arwati (istri), dengan anak-anak dr. A.A.B.N. Nuartha, Sp.S(K), dr. A.A.A. Agung Kusuma Wardhani, Sp.KJ, dr. A.A.A. Mas Ranidewi, Sp.THT, Ir. A.A. Susruta Ngurah Putra, Ir. A.A.A. Oka Saraswati, MT, dr. A.A.A. Putri Laksmidewi, Sp.S, A.A.N. Ananda Kusuma, BE (HONS), M.Eng,PhD, dan A.A.N. Adhi Ardhana, ST. Ayah beliau adalah I Goesti Made Oka (Seniman Ukir & Patung di Denpasar, ikut berjuang pada perang / Puputan Badung 1906) dan ibu I Goesti Putu Rai. Sedangkan kakeknya I Goesti Made Gede adalah seniman besar di Denpasar sekaligus pimpinan pasukan meriam Kerajaan Badung saat Puputan Badung 1906. Kakak sepupunya adalah Ida Cokorda Pemecutan X (Alm).

Status
Mahasiswa – Dokter Pejuang: Masyarakat Prapatan 10 – Jakarta 1945 tercatat dalam buku Mahasiswa’45 Prapatan-10: Pengabdiannya, hal.348 dan Lahirnya Satu Bangsa dan Negara, hal 397.

Dokter pertama yang merintis dan mengembangkan Bagian Kebidanan yang merupakan cikal bakal Rumah Sakit Sanglah.

Pendidikan
Volks School, Denpasar (1928-1929)
Hollands Inlandsche School (HIS), Denpasar (1929-1936)
Meer Uitgebreide Lager Onderwijs (MULO), Yogyakarta (1936-1939)
Nederlands Indisch Artsen School (NIAS), Surabaya (1939-1942)
Ika Daigaku, Jakarta (1943-1945)
Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia, Jakarta (1945-1948) : Dokter umum Indonesia Angkatan pertama
Bagian Neurologi – Psikiatri FK UI, Jakarta (1949-1952) : Spesialis 20 Oktober 1952
Bagian Bedah FK UI 1 tahun (1952)

Meninggal pada 18 September 2001

Jabatan yang Pernah Dipangku
Dokter Kantor Wilayah Badung dan Distrik Marga pada Dinas Kesehatan Daerah Bali (terhitung 2 Mei 1952 dimulai April 1953-1959).
Dokter Rumah Sakit Umum Wangaya (1953-1988).
Kepala Rumah Sakit Umum Wangaya (1 Maret 1959 – 1965/1968) (menggantikan dr. Angsar) dengan merangkap tugas di Bagian Kebidanan – Kandungan RSUP Sanglah – Denpasar.
Kepala Bagian Saraf dan Jiwa (Neuropsikiatri) selanjutnya Bagian Saraf (Neurologi) RSU Wangaya (1 Maret 1959 – 1 Agustus 1988), selanjutnya pindah ke RSUP Sanglah.
Kepala Bagian Saraf dan Jiwa (Neuropsikiatri) selanjutnya Bagian Saraf (Neurologi) FK UNUD (1963/1966-1988), yang selanjutnya pindah ke RSUP Sanglah.
Ketua Penguji & Penguji Pendidikan Bidan di RSU Wangaya dan RSUP Sanglah (1953-1965).
Dokter Kepresidenan Presiden Soekarno di Bali (hanya satu dokter) (Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, sebuah Biografi Pendidikan, 1998, hal.94-95) (kesaksian Nyonya dokter Nuridja, Singaraja)
Wakil Ketua Badan Perguruan Tinggi untuk Pendirian Universitas Udayana (tahun 1961) (Ketua : Ir. IB. Oka dari Dinas PU Bali).
Ketua Panitia Persiapan Pendirian Universitas Udayana termasuk Ketua Panitia Persiapan FK/Fakultas Kedokteran dengan SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No. 4, 1962 (15 Januari 1962) (Sebuah Biografi Pendidikan hal 99, 110).
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (30 Januari 1965-1967).
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana masa jabatan kedua (Januari 1967-1968).
Rektor Universitas Udayana (29 September 1968 – 15 Nopember 1973).
Rektor Universitas Udayana untuk masa jabatan kedua (15 Nopember 1973 – 22 Desember 1977).
Ketua Panitia Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Daerah Bali (SK Pimpinan MPRS – RI No. 193/B/1968).
Sesepuh Dokter Spesialis Saraf & Jiwa (Neuropsikiatri) di Bali.
Penglingsir Puri Gerenceng – Pemecutan, Denpasar (1992-2001).

Pengalaman Kerja Organisasi
Pejuang Prapatan 10 Jakarta 1945 (Kelompok Mahasiswa Pejuang saat Revolusi –Kemerdekaan bermarkas di Jalan Prapatan 10 Jakarta) (Mahasiswa’45 Prapatan-10 : Pengabdiannya, hal.348 dan Lahirnya Satu Bangsa dan Negara, hal 397)
Penentang Aturan Paksa Jepang dan lolos dari kematian saat dalam ancaman pistol Tentara Jepang (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara)
Ikut kinroo – hoshi ke Kalijati dan ikut latihan militer di Daidan I Jagamonyet-Jakarta (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara).
Mengikuti rapat-rapat persiapan Proklamasi Kemerdekaan (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara).
Sebagai Anggota PMI di Pos Pasar Baru dan Jatinegara sesudah Proklamasi Kemerdekaan (Sebuah Biografi Pendidikan).
Ditawan Tentara Inggeris saat Mobille Colonne PMI di Pos Bekasi, dan lolos dari kematian saat Kota Bekasi / RS Bekasi dibakar Tentara Sekutu / Inggeris / NICA Nopember 1945 (Sebuah Biografi Pendidikan).
Anggota PMI di Jakarta (PK I) (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara).
Anggota PMI di Jakarta (PK II) (Lahirnya Satu Bangsa dan Negara).
Anggota Palang Merah Indonesia 1945 (Student Asst. at the Indonesian Red Cross Detained by the British Army, dalam R.O.G. Roeder, Who’s Who in Indonesia : Biographies of Prominent Indonesian Personalities in All Fields, Jakarta : Gunung Agung 1971 hal 256).
Anggota Mobille Colonne PMI di Purwakarta Jawa Barat Unit Bedah (Asst. at Surgery Unit Indonesian Red Cross Purwakarta, dalam R.O.G. Roeder, Who’s who in Indonesian : Biographies of Prominent Indonesian Personalities in All Fields, Jakarta : Gunung Agung 1971 hal 256).
Anggota PMI Cabang Jakarta – Bukit Duri Jakarta Selatan (1948) (Sebuah Biografi Pendidikan).
Bekerja di Bagian Neurologi – Psikiatri FK UI Jakarta (1949-1952), Pimpinan : Prof. dr. R. Slamet Iman Santoso (Sebuah Biografi Pendidikan).
Bertugas di RS CBZ (Centraal Burgelyk Ziekenhuis / sekarang : RSUP dr. Cipto Mangunkusumo) Jakarta di Bagian Saraf, Pimpinan : Dr. W.J.C. Verhaart (1950). Satu-satunya Dokter Indonesia diantara dokter-dokter Belanda yang bertujuan untuk bisa menggantikan orang Belanda yang saat itu dianggap bangsa penjajah, demikian juga di bagian-bagian lain (Sebuah Biografi Pendidikan).
Bekerja di Bagian Neurologi – Psikiatri RS Wangaya (1959-1988), Neurologi-Psikiatri FK UNUD (1963/1965 – 1988).
Sebagai dokter wilayah Badung, juga membantu untuk wilayah Tabanan, Gianyar, Klungkung.
Dokter pertama yang membantu di RSUP Sanglah pada bagian Kebidanan & Kandungan dari sejak awal pindahnya bagian Kebidanan (bagian yang pertama kali dipindahkan ke RSUP Sanglah pada tahun1956) dan bertugas hingga 1965. Setahun kemudian (1957) Bagian Bedah pindah ke RSUP Sanglah. Dokter Ngoerah bekerja sama dengan dokter Angsar, kemudian datang dr. Otong Wirawan sebagai dokter umum lalu datang dokter Jasid spesialis bedah (testimony para bidan pensiunan RSUP Sanglah dan istri sejawat).
Anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Jakarta (29 Oktober 1952).
Anggota IDI Cabang Bali mulai tahun 1953.
Sebagai Ketua dan Anggota PNPNCh (Perhimpunan Neurologi Psikiatri Neuro Chirurgi Indonesia) Cabang Bali.
Sebagai Ketua dan Anggota IDASI (Ikatan Dokter Ahli Saraf Indonesia) Cabang Bali.
Sebagai Penasehat Pengurus Pusat IDASI.
Anggota PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) Cabang Bali.
Anggota WFN (World Federation of Neurology).
Anggota New York Academic Scientists (Tercatat dalam Buku Who’s Who in The World, 9th edition 1989-1990, Marquis Who’s Who, Illinois – USA, hal 829).

Prestasi
Dokter Spesialis pertama keturunan Bali, dan juga Spesialis Saraf pertama di Bali.
Mulai mengabdi di Bali sebagai dokter Bali yang keempat, yaitu : dr. I.B. Rai, dr. Bagiastra, dr. Ketoet Nuridja, dr. I.G.N.G. Ngoerah, dan setahun kemudian barulah datang dr. A.A.M. Djelantik.
Menciptakan secara berdikari alat sederhana ECT (Electro Convulsive Therapy) untuk penyembuhan pasien gangguan jiwa (1966). Saat ini tersimpan di Museum Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Guru besar pertama yang dikukuhkan di Universitas Udayana (2 Mei 1967). Guru Besar Tetap Neurologi FK UNUD (SK tanggal 1 Pebruari 1967) : Beberapa Perkembangan dalam Lapangan Neurologi.
Mengembangkan Pendirian seluruh bagian-bagian Klinik di RSUP Sanglah (selama menjadi Dekan FK UNUD sebagai Kelengkapan Persyaratan Fakultas Kedokteran).
Diundang Pemerintah India untuk mengunjungi Universitas-universitas di India (Agustus – September 1969).
Diundang The British Council mengunjungi Universitas-universitas di Inggeris (Juni 1971).
Atas undangan AVCC / AAUCS mengunjungi Universitas-universitas di Australia (Pebruari 1972).
Atas undangan Pemerintah Australia, kembali mengunjungi Universitas-universitas di Australia (Oktober – Nopember 1977).
Tercatat dalam buku Who’s Who in Indonesia : Jakarta : Gunung Agung 1971, hal 256.
Tercatat dalam Buku Men of Achievement, England, 1982, hal 528.
Tercatat dalam Buku Who’s Who in The World, 9th edition 1989-1990, Marquis Who’s Who, Illinois – USA, hal 829.
Tercatat menulis 40 Karya Ilmiah yang disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Nasional, Internasional, dan dimuat dalam Majalah / Journal Nasional, Internasional.
Profesor Emeritus setelah pensiun pada tahun 1988 dengan orasi ilmiah bersama Prof. dr. R. Moerdowo pada tahun 1991 yang dihadiri Rektor dan seluruh Dekan di UNUD.
Menulis Buku ”Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf”, Airlangga Universitu Press, 1990.
Pernah diminta untuk mengembangkan Bagian Neurologi di FK UNAIR oleh Prof. dr. Soejoenoes (Surabaya) sebelum berdirinya FK UNUD.
Sebagai Ketua Penelitian ”Arsitektur Bali” (Biaya Pemerintah Daerah Bali 1973/ 1974) (Diterbitkan 1981).
Seniman Lukis Aliran Denpasar (seperti disebutkan oleh Prof. Dr. Ngurah Bagus dalam Bali Post, 26-12-2000) dengan lukisan yang terkenal adalah ”Sutasoma Gajah Waktra”, juga Seni Ukir dan Patung.
Tercatat dalam bentuk ukiran nama pada Tugu Prasasti Peringatan NIAS dan Djakarta Ika Daigaku di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, 25 Mei 2002.

Penghargaan
Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia (Jakarta, 26 April 1976).
Tanda Penghargaan Alma Nugraha 25 Tahun Universitas Udayana (Denpasar, 29 September 1987) atas sebagai Pemrakarsa, Pendiri, Pembina, Pengembang, Pengabdi, serta mengangkat nama Universitas Udayana.
Tanda Penghargaan Adi Karya Satya PERDOSSI (Palembang, 8 Desember 1996).
Tim Peneliti Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana memberi Penghargaan dengan Menuliskan Buku : ”Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gede Ngoerah, sebuah Biografi Pendidikan” (1998).
Lagu Hymne Universitas Udayana pertama kali dinyanyikan saat Pelantikan sebagai Guru Besar yang pertama dikukuhkan di Universitas Udayana (2 Mei 1967).
Udayana Award yang diberikan atas prestasinya dalam pengembangan IPTEK dan Kemanusiaan, 29 September 2004 Dies Natalis UNUD ke 42.
Untuk menghormati jasa gurunya yaitu Prof.dr. I G.N.G.Ngoerah, maka dr A.A. N.Nuartha Sp.S (K) (1999) memperkenalkan refleks patologis yang diberi nama Refleks Ngoerah (untuk menunjukan adanya lesi / gangguan traktus piramidalis) dan saat ini sudah dikenal semua dokter / mahasiswa kedokteran di Bagian / SMF Neorologi FK UNUD / RS

Masalah-Masalah yang Dihadapi Dalam Kepemimpinan
Dengan suara bulat Senat Universitas Udayana mempercayai Prof. dr. Ngoerah sebagai Rektor / Pimpinan Universitas dalam sidang khusus masalah pembangunan universitas untuk membahas kritikan seolah-olah Rektor mendapat komisi.
Mampu menangani mahasiswa saat demonstrasi yang dipimpin Senat dan Dewan Mahasiswa UNUD untuk mempertanyakan kebijaksanaan Gubernur Bali tentang masalah uang Ado (1969) dimana Gubernur Bali saat itu berasal dari militer dan dapat diselesaikan atas bantuan Panglima Kodam Udayana.
Mampu menangani mahasiswa saat mahasiswa dalam pendidikan WALAWA melarikan diri dari DODIK Kediri – Tabanan dengan melalui rapat menegangkan dan berbeda pendapat dengan Panglima Kodam Udayana.

Harapan/Cita-Cita yang Belum Terwujud
Universitas Udayana dapat berkembang menjadi universitas terkemuka di Indonesia dan Dunia dengan Fakultas Kedokteran yang menghasilkan dokter yang terhormat dan bermartabat dengan tetap mengutamakan putra daerah sebagai tujuan awal UNUD – FK didirikan.
RSUP Sanglah dapat berkembang menjadi Rumah Sakit bertaraf Internasional, sebagai Pusat Rujukan Penyakit Tropis Indonesia, dengan tetap mengutamakan dan menghormati hak pasien kurang mampu sebagai tujuan awal RSUP Sanglah didirikan.
Bagian Neurologi dan Psikiatri FK UNUD / RSUP Sanglah dapat berkembang menjadi Pusat Pendidikan Unggulan di Indonesia dengan kekhususannya berkaitan dengan Budaya dan Penyakit yang ada di Bali.
Merevisi Buku “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf”.
Menulis lebih banyak salah satu buku yang belum selesai : “Sejarah Neurologi Dunia & Lanjutan Perkembangannya di Indonesia”.
Melukis kembali.
Mengunjungi kerabat, sahabat, dan sejawat di Denpasar dan di luar daerah / luar negeri.

Titian Hati
Eda ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Gaginane buka nyampat
Anak sahi tumbuh luhu
Ilang luhu ebuk katah
Wiadin ririh, liu enu pelajahin

Artinya :
Jangan mengira diri kita pandai
Biarlah orang lain yang menilai
Tugas kita bagaikan orang menyapu
Setiap hari ada sampah
Hilang sampah muncullah banyak debu
Betatapun pandai, masih banyak yang perlu dipelajari
(Dalam : Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah, sebuah Biografi Pendidikan, 1998)