
Dari Sumba ke Bali
Tiga hari yang lalu saya pulang dari Sumba. Hari terakhir kami berada di dataran yang cukup tinggi, di tempat seorang penenun Pahudu di Paraikamaru, Sumba Timur. Menjelang malam, udara di sana terasa lain. Tidak dingin yang menusuk, tetapi cukup untuk membuat orang ingin duduk lebih lama dan bicara lebih pelan.
Setelah pekerjaan selesai, kami duduk di beranda Uma Bokulu, rumah tenun Atma Pahudu, yang dibuat menyerupai rumah adat untuk satu kabihu. Lampu tidak banyak. Penerangan hanya ada di dalam rumah. Jalanan hampir tanpa sinar, kecuali sesekali saat motor melintas. Angin juga tidak ramai. Langit terbuka lebar, dan bintang-bintang terlihat jelas, seperti tidak terlalu jauh dari kepala kami.
Sekitar enam bulan lalu saya pernah datang ke tempat itu. Waktu itu tanah masih gersang. Debu beterbangan di sepanjang jalan yang bercampur aspal dan batu putih. Kini semuanya cepat menghijau. Hujan terlalu sering datang, tanda musim tanam mulai memasuki masanya.
Internet tidak selalu ada. Itu yang membuat malam terasa lebih utuh. Tidak ada yang sibuk melihat layar. Tidak ada yang buru-buru membalas sesuatu. Hanya beberapa orang yang duduk setelah keluarga lain pulang ke rumah masing-masing. Ada kopi panas, ketela rebus, dan percakapan yang bergerak pelan dari satu hal ke hal lain.
Mula-mula tentang orang Sumba yang makin susah mencari tempat tinggal di Bali. Lalu bergeser ke Pasola, perang saling lempar kayu antar kelompok berkuda di wilayah Kodi, Sumba Barat Daya, yang sebelumnya kami datangi. Obrolan malam memang sering begitu. Dari hal yang dekat, ia bisa melompat ke mana saja.
Dalam suasana seperti itu, biasanya orang merasa dunia sedang baik-baik saja. Atau setidaknya sedang cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Tetapi rupanya tidak juga. Entah dari mana mulainya, obrolan malam itu sampai pada perang. Iran, Palestina, dan Amerika disebut. Sebagian besar percakapannya saya tak mengerti karena menggunakan bahasa daerah, tetapi saya tetap menikmatinya. Bukan terutama karena maknanya, melainkan karena cara orang-orang itu membicarakan dunia yang begitu jauh. Ada yang cenderung membela satu pihak, ada yang merasa pihak lain juga tidak sepenuhnya salah. Awalnya seperti obrolan biasa. Namun makin lama terasa juga bahwa perang, bahkan yang terjadi jauh sekali dari tempat kami duduk, bisa tetap membuat orang mengeras pada pendapatnya.
Malam masih tenang. Langit masih dipenuhi bintang. Tetapi percakapan mulai hangat.
Di situ saya merasa ada sesuatu yang ganjil: tubuh bisa berada di tempat yang damai, tetapi kepala tetap ribut. Rupanya ketenangan tempat tidak dengan sendirinya membuat manusia lebih jernih. Di Sumba pun, di bawah langit yang luas itu, keberpihakan, ego, dan gairah untuk merasa benar tetap hidup. Hanya bentuknya berbeda.
Pikiran itu saya bawa pulang ke Bali.
Di sini suasananya sudah lain. Udara lebih panas. Jalanan lebih padat. Lalu lintas di Denpasar saja sudah cukup untuk menerangkan jarak antara Bali dan Sumba. Di banyak tempat, ogoh-ogoh sudah dipajang di depan bale banjar. Sebagian masih tertutup terpal, seolah belum hendak diperlihatkan, tetapi justru mengundang mata orang yang melintas. Orang-orang sibuk sampai larut. Menjelang Pengerupukan, yang paling banyak dibicarakan justru bukan Tawur Kesanga, melainkan ogoh-ogoh: bentuknya, temanya, biayanya, dan peluang menangnya.
Di Badung, di daerah saya, ada euforia yang cepat sekali menyebar. Soal kemenangan dalam perlombaan ogoh-ogoh. Bukan hanya karena ogoh-ogohnya bagus, tetapi juga karena ada yang dipertaruhkan di sana: nama banjar, kebanggaan, dan rasa puas karena dianggap paling menonjol.
Salah satu banjar di desa kami memenangkan juara. Saya ikut senang mendengarnya. Judul ogoh-ogohnya Meguru Satuwa. Ceritanya mengambil tafsir dari Satwa Tantri, tentang Ni Diah Tantri yang berhadapan dengan seorang raja. Bagi saya, di sana ada satu hal yang selalu menarik: perlawanan tidak selalu hadir dengan senjata. Kadang ia datang lewat kecerdikan, lewat kata-kata, lewat kemampuan untuk menahan, menunda, lalu pelan-pelan menggeser kehendak kuasa yang lebih besar.
Perang rupanya tidak selalu datang dengan rupa yang sama. Kadang ia muncul sebagai konflik besar di tempat yang jauh. Kadang sebagai perdebatan kecil di bawah langit yang tenang. Kadang hadir dalam cerita, dalam simbol, dalam wajah-wajah raksasa yang akan diarak malam ini. Dan kadang ia tinggal dalam hal yang lebih biasa: dalam rasa ingin menang, dalam kegembiraan saat juara diumumkan, dan dalam kecewa yang diam-diam menetap pada mereka yang tak disebut.
Malam ini Bali akan ramai. Ogoh-ogoh akan bergerak keluar. Bunyi-bunyian akan dibesarkan. Jalan-jalan akan dipenuhi tubuh, sorak, cahaya, dan wajah-wajah yang menengadah. Lalu besok, pulau ini diminta diam.
Di ambang itulah pertanyaan itu muncul lagi: mengapa manusia begitu dekat dengan cerita perang, bahkan ketika ia sedang berjalan menuju hening?
Ogoh-ogoh dan Prestise
Di bale banjar, obrolan anak-anak muda kadang justru terdengar lebih jujur. Ada yang bertanya dari mana sumber dana bisa sebesar itu. Ada yang menyebut angka itu miliaran seperti sesuatu yang jauh dari hidup mereka, tetapi tetap terasa dekat di telinga. Ada juga yang setengah bercanda, setengah menyindir, mengapa dana untuk ogoh-ogoh dan euforianya bisa begitu besar, sementara urusan yang lebih sehari-hari—seperti sampah di pinggir jalan, jalanan yang rusak, atau lingkungan yang tetap rukas—tak kunjung selesai.
Tetapi perayaan memang jarang berdiri sendirian. Ia hampir selalu ditemani tenaga, harapan, dan gengsi.
Itu juga yang membuat ogoh-ogoh terus hidup sampai hari ini. Ia bukan hanya benda yang dibuat untuk diarak. Ia adalah tempat banyak tenaga dikumpulkan. Ada orang-orang yang begadang. Ada tangan-tangan yang mengikat, mengecat, menempel, mengangkat, memperbaiki. Ada kebanggaan yang tumbuh pelan-pelan, bahkan sebelum karya itu selesai.
Dan saya kira, di titik ini, tidak adil kalau semua dorongan untuk menonjol langsung dibaca buruk. Tanpa semangat untuk unggul, tanpa keinginan untuk membuat yang lebih baik dari tahun lalu, mungkin ogoh-ogoh tidak akan berkembang sekuat sekarang. Ada tenaga hidup di sana, ada gairah anak muda, ada ambisi komunal yang membuat tradisi tetap bergerak. Itu juga nyata. Itu juga penting.
Karena itu, ketika sebuah ogoh-ogoh menang, yang ikut merasa menang bukan hanya mereka yang membuatnya. Nama banjar ikut terangkat. Percakapan ikut membesar. Wajah-wajah ikut berseri.
Namun yang terang tidak pernah datang sendirian.
Di balik kabar kemenangan, selalu ada sesuatu yang lebih sunyi. Ada kerja yang tidak disebut. Ada harapan yang tidak sampai. Ada orang-orang yang tetap berdiri di pinggir, melihat keramaian bergerak melewati mereka. Hampir setiap perlombaan meninggalkan sisa: sedikit kecewa, sedikit gengsi, sedikit diam yang dibawa pulang.
Dan justru di situlah saya mulai melihat hal lain.
Bahwa menjelang Nyepi, kami tidak hanya sedang menyiapkan arak-arakan. Kami juga sedang menyiapkan rasa ingin dilihat, ingin diakui, ingin dianggap paling menonjol. Sesuatu yang mula-mula tampak wajar. Tetapi kalau dibiarkan tumbuh terlalu jauh, ia pelan-pelan menyerupai hal yang sudah lama akrab dengan manusia: keinginan untuk unggul, untuk menang, untuk tidak berada di bawah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa ogoh-ogoh keliru karena menjadi perlombaan. Bukan itu. Justru saya melihat banyak yang baik di sana: kerja kolektif, daya cipta anak-anak muda, semangat komunal yang kini semakin jarang ditemukan dalam kehidupan yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Tetapi ketika sebuah karya masuk ke arena penilaian, ia ikut membawa logika yang berbeda. Yang tadinya dikerjakan bersama bisa bergeser menjadi sesuatu yang harus dibuktikan. Yang tadinya dirayakan sebagai hasil tenaga kolektif bisa berubah menjadi ukuran gengsi.
Saya melihatnya dalam cara orang berbicara. Dalam nada yang meninggi ketika menyebut nama juara. Dalam antusiasme yang cepat menjalar. Dalam kalimat-kalimat ringan yang menyimpan banyak hal: bahwa karya ini lebih layak, bahwa banjar itu memang kuat, bahwa yang ini kalah jauh, bahwa yang itu terlalu biasa.
Di situlah ironi itu berdiri cukup telanjang: kami sedang bergerak menuju hari hening, tetapi jalannya justru dipenuhi ranking, penilaian, prestise, dan kegembiraan menjadi yang paling dilihat. Kami mengatakan sedang membersihkan sesuatu, tetapi diam-diam juga merawat sesuatu yang lain: kebutuhan untuk tampil paling besar, paling kuat, paling pantas diingat.
Kadang saya merasa, dalam keramaian seperti ini, orang lebih mudah mengingat siapa juara daripada apa yang sebenarnya sedang disimbolkan. Yang tertinggal bukan lagi pertanyaan tentang apa yang ingin dinetralkan, melainkan siapa yang paling megah dan paling ramai dibicarakan. Di titik itu, ritual pelan-pelan berubah menjadi pertunjukan, dan pertunjukan hampir selalu punya godaan untuk menjadikan prestise lebih penting daripada makna.
Itu sebabnya ogoh-ogoh perlu dibaca lebih pelan. Ia bukan sekadar benda yang nanti diarak, lalu selesai. Ia adalah cermin yang dibesarkan. Kadang cermin untuk melihat apa yang kami takuti. Kadang juga cermin untuk melihat apa yang diam-diam kami sukai.
Dan di titik itu saya mulai merasa, mungkin yang kami arak malam ini bukan hanya simbol-simbol keburukan yang ingin dibersihkan. Bisa jadi kami juga sedang mengarak sesuatu dari dalam diri sendiri: hasrat untuk menang, kegembiraan saat berada di atas, dan bagian-bagian dari diri yang selalu ingin dibesarkan agar terlihat lebih kuat daripada yang lain.
Membaca Diri Sendiri
Kalau yang diarak malam ini ternyata bukan hanya tubuh-tubuh raksasa itu, melainkan juga sesuatu dari dalam diri kami sendiri, lalu siapa yang membantu kami membacanya? Siapa yang memberi bahasa ketika yang bergerak bukan hanya bunyi dan sorak, tetapi juga ego, kelelahan, kehilangan pijakan, dan hasrat untuk menang yang sulit diakui?
Saya memikirkan para pemuka agama, para pemimpin upacara, para orang tua, para cendekiawan, siapa pun yang suaranya masih dianggap punya bobot di tengah masyarakat. Di ruang seperti ini, mestinya ada lebih banyak suara yang tidak hanya mengajak orang menjalankan upacara, tetapi juga membantu mereka memahami hidup yang sedang mereka jalani.
Namun yang sering terasa justru sebaliknya.
Yang lebih banyak terdengar adalah bagaimana upacara harus dilaksanakan dengan benar. Apa yang kurang. Apa yang tidak boleh salah. Apa yang perlu dijaga. Tentu itu penting. Tetapi hidup manusia tidak berhenti pada tata cara.
Di luar pura, di luar halaman upacara, masyarakat kami juga sedang berhadapan dengan banyak hal yang nyata: ketimpangan sosial yang makin terasa, keluarga-keluarga yang tetap ikut dalam kewajiban adat sambil menahan beban yang tidak ringan, anak-anak muda yang tidak selalu tahu harus berdiri di mana, kecemasan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan, juga kelelahan yang kadang tidak punya bahasa.
Semua itu dekat sekali. Tetapi anehnya, tidak selalu terasa hadir dalam bahasa keagamaan kami. Seolah-olah agama lebih lancar berbicara tentang yang luhur daripada tentang yang luka.
Padahal yang saya harapkan bukan agama berubah menjadi pengelola sampah, manajer jalan rusak, atau lembaga yang harus membereskan semua persoalan sekala—sebab untuk itu, setidaknya di atas kertas, sudah ada pelaku utamanya: pemerintah, meski kalau jujur harapan pada mereka pun sering tak utuh. Yang saya rindukan justru lebih sederhana, dan karena itu lebih sulit: keberanian memberi bahasa bagi mereka yang sedang kalah, lelah, tertekan, atau kehilangan pijakan. Bahasa yang tidak hanya tekun menjaga tata cara, tetapi juga sanggup menemani beban. Bukan bahasa yang datang sesudah semuanya rapi dan khidmat, melainkan yang berani hadir ketika hidup sedang kusut, ketika manusia tidak tahu lagi harus meletakkan luka dan kebingungannya di mana.
Kadang saya merasa kami terlalu sibuk menjaga wajah keagamaan, tetapi kurang berani masuk ke persoalan manusianya. Kami membicarakan harmoni, tetapi tidak cukup jujur melihat relasi kuasa yang timpang. Kami menyebut kedamaian, tetapi jarang menyentuh sebab-sebab keresahan yang nyata. Kami bicara tentang keseimbangan, tetapi tidak selalu hadir ketika orang-orang mulai kehilangan pijakan dalam hidupnya sendiri.
Karena itu saya kembali pada hal lain yang sejak awal mengiringi tulisan ini: cara kami membaca pertentangan.
Di Bali, kami tumbuh dengan simbol-simbol yang mengajarkan bahwa hidup tidak pernah berdiri di satu warna saja. Ada hitam dan putih pada kain poleng. Ada terang dan gelap. Ada sekala dan niskala. Mungkin karena itu, Rwa Bhineda terasa begitu dekat, bahkan sebelum benar-benar dipahami.
Tetapi justru karena terlalu biasa, ia sering dipahami terlalu mudah. Seolah-olah karena hidup memang terdiri dari dua sisi, maka pertentangan adalah sesuatu yang wajar begitu saja. Padahal saya kira persoalannya tidak sesederhana itu.
Bagi saya, dua kutub itu bukan ada supaya manusia sibuk mencari lawan. Ia ada untuk mengingatkan bahwa hidup selalu menuntut kewaspadaan. Bahwa terang dan gelap tidak hanya berada di luar diri, tetapi juga saling berdesakan di dalam batin manusia sendiri.
Di titik inilah saya merasa yang paling sulit bukan membaca dunia, tetapi membaca diri sendiri. Saya jadi teringat pada satu ajaran lama: diri bisa menjadi kawan, tetapi juga musuh bagi dirinya sendiri. Yang paling sulit bukan membaca gelap di luar sana, melainkan mengakui bahwa ia juga tumbuh pelan-pelan di dalam diri kami sendiri.
Sebab kalau tulisan ini sejak awal bicara tentang perang, tentang ogoh-ogoh, tentang kompetisi, tentang euforia kemenangan, maka saya juga harus jujur bahwa kami pun tidak sepenuhnya berada di luar semua itu. Kami juga hidup di tengah suasana yang sama. Kami juga tahu rasanya ingin menang. Kami juga tahu rasanya berharap apa yang kami buat dilihat, diingat, dan dianggap lebih layak daripada yang lain.
Dan di sini saya juga harus lebih jujur lagi: menulis seperti ini pun bukan pekerjaan yang sepenuhnya steril. Ada dorongan untuk menjernihkan, tetapi bisa saja ada juga ambisi untuk dilihat sebagai orang yang mampu membaca lebih dalam dari keramaian di sekitarnya. Saya tidak sepenuhnya bebas dari itu. Tulisan ini pun, dengan caranya sendiri, bisa menjadi arena kecil lain untuk mempertarungkan posisi.
Di titik itu, Rwa Bhineda menjadi lebih berat daripada sekadar simbol. Ia bukan lagi soal dua warna yang dibentangkan di depan mata, melainkan dua dorongan yang hidup bersamaan di dalam diri manusia: keinginan untuk damai, dan keinginan untuk unggul. Keinginan untuk menjaga keseimbangan, dan godaan untuk meninggikan diri sendiri. Keinginan untuk menuju hening, dan hasrat yang diam-diam tetap ingin membawa pulang kemenangan.
Kalau begitu, pertanyaannya bukan lagi hanya soal kami berdiri di pihak mana. Yang lebih penting: apa yang tumbuh di dalam diri kami ketika merasa sedang benar?
Sebab bisa saja seseorang merasa sedang membela yang baik, tetapi membawanya dengan amarah. Bisa saja seseorang merasa sedang menjaga makna, tetapi diam-diam terseret oleh gengsi. Bisa saja seseorang berbicara tentang keseimbangan, tetapi di dalam dirinya sendiri masih sulit menerima bahwa yang lain juga ingin menang.
Karena itu saya merasa Rwa Bhineda semestinya membuat kami lebih rendah hati. Dunia memang tidak tunggal. Kehidupan memang tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Tetapi justru karena itu, manusia dituntut untuk tidak sembarangan memutlakkan dirinya sendiri.
Ada keinginan untuk jernih. Ada juga keinginan untuk menang. Ada keinginan untuk menjaga makna. Ada juga dorongan untuk menjadi yang paling diingat. Peperangan, dalam banyak bentuknya, muncul ketika manusia terlalu lama memelihara dorongan kedua sambil terus mengaku sedang mengejar yang pertama.
Menjelang Hening
Pada akhirnya, yang paling sulit dari semua ini adalah mengakui bahwa kedamaian sering terdengar lebih indah daripada kenyataannya. Kami mudah mengucapkannya. Kami mudah menuliskannya. Kami mudah menaruhnya dalam doa, pidato, nasihat, dan harapan-harapan yang terdengar baik. Tetapi hidup manusia tidak bergerak hanya oleh kata-kata yang baik. Hidup juga digerakkan oleh hasrat, luka, rasa kurang, keinginan untuk diakui, dan dorongan untuk tidak kalah.
Itu sebabnya peperangan terus berulang, dengan rupa yang berbeda-beda. Ia berulang di sejarah besar, dalam cerita-cerita lama, di dalam percakapan, dalam masyarakat, dan dalam hal-hal kecil yang bahkan tidak selalu kami anggap berbahaya.
Manusia memang tidak pernah benar-benar selesai dengan dirinya sendiri. Ia ingin tenang, tetapi juga ingin menang. Ia ingin selaras, tetapi juga ingin lebih unggul. Ia ingin hidup damai, tetapi diam-diam masih menyukai perasaan saat berada di atas yang lain.
Kalau begitu, damai memang tidak bisa hanya dipahami sebagai cita-cita yang jauh. Ia harus turun menjadi sesuatu yang lebih dekat, lebih berat, lebih sehari-hari. Sesuatu yang harus dikerjakan.
Dikerjakan dalam cara kami berbicara. Dikerjakan dalam cara kami menahan diri. Dikerjakan dalam cara kami memperlakukan orang lain. Dikerjakan dalam cara kami menghadapi perbedaan, ketegangan, dan rasa tidak puas.
Bukan sekadar menolak perang dalam bentuknya yang paling kasar, tetapi juga mengenali bibit-bibitnya dalam hidup yang biasa: dalam kesombongan yang dibiarkan tumbuh, dalam kebiasaan untuk selalu ingin lebih tinggi, dalam cara kami menikmati kemenangan tanpa sungguh-sungguh memikirkan apa yang tertinggal pada mereka yang kalah.
Saya rasa ini penting, terutama pada malam seperti ini. Sebab Pengerupukan datang dengan keramaian, tetapi Nyepi menunggu hanya beberapa jam di depannya. Setelah semua bunyi, semua sorak, semua arak-arakan, kami akan diminta berhenti. Namun yang lebih sulit dari semua itu bukan berhenti dari aktivitas, melainkan berhenti dari keinginan untuk selalu menjadi lebih dari orang lain.
Itu yang jauh lebih sunyi. Itu yang jauh lebih berat. Itu yang mungkin tidak selesai hanya dalam satu hari. Karena itu saya tidak terlalu yakin damai adalah sesuatu yang bisa diumumkan. Ia lebih mirip laku yang harus terus dilatih, bahkan ketika tidak ada yang melihat, tidak ada panggung, dan tidak ada penilaian. Damai mungkin bukan keadaan yang datang setelah semua konflik hilang, melainkan kesanggupan untuk tidak terus menambahkannya.
Ketika kami bicara tentang hening, tentang keseimbangan, tentang dharma, tentang kehidupan yang lebih baik, apakah kami sungguh sedang bergerak ke sana? Atau kami hanya menyukai kata-katanya, sementara cara hidup kami masih tetap setia pada logika yang lain: logika menang-kalah, logika dominasi, logika untuk selalu berada di atas?
Cukup dibiarkan tinggal sebentar, terutama pada malam seperti ini, ketika Bali masih ramai dan hening belum sepenuhnya datang. Sebab dalam jarak yang tipis antara keramaian dan diam itu, yang paling sulit sering kali bukan menghadapi dunia di luar, tetapi mendengar dengan jujur apa yang sebenarnya masih ribut di dalam diri sendiri.
Epilog
Mungkin itu sebabnya, setiap kali ogoh-ogoh diarak, bunyi-bunyian dibesarkan, obor dinyalakan dan malam bergerak menuju puncaknya, saya tidak hanya melihat sebuah perayaan. Saya juga melihat manusia, dengan seluruh tenaga, ambisi, luka, dan keinginannya untuk menang, sedang berdiri berhadapan dengan dirinya sendiri. Lalu beberapa jam setelah itu, pulau ini akan diam. Dan dalam diam itu, mungkin ada satu pertanyaan yang tak ikut tidur: dari semua perang yang kita lihat di luar sana, berapa banyak yang sebenarnya masih kita pelihara di dalam diri sendiri?
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet





