• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Pelajaran dari Kasus Pencurian Pratima

Bodrek Arsana by Bodrek Arsana
8 January 2011
in Budaya, Kabar Baru, Opini, Sosial
0
1

Teks Bodrek Arsana, Foto Surya Majapahit

Belakangan ini perhatian warga tersita oleh kasus pencurian pratima  di berbagai kabupaten/kota di Bali.

Setelah sekian lama belum terungkap siapa pelaku dan dalangnya, aparat keamanan akhirnya bisa menangkap para pelaku, termasuk penadah dan gudang penyimpanan hasil kejahatan. Sebagaimana diberitakan media massa di Bali, sejauh ini baru ada enam tersangka pelaku dan 1 orang penadah yang tertangkap. Sementara seorang penadah lagi diberitakan telah kabur sebelum bisa ditangkap aparat kepolisian.

Namun tugas berat masih membebani aparat kepolisian di Bali karena baru sekitar 10 persen kasus pencurian pratima yang berhasil terungkap. Sisanya sekitar 90 persen belum ada tersangkanya (NusaBali, Senin 18 Oktober 2010).

Kita masih harus menunggu kinerja aparat kepolisian di Bali untuk mengungkap kasus pencurian pratima yang menghebohkan masyarakat Bali. Besarnya perhatian publik akan kasus ini di Bali membuat Kapolda Bali, Irjen Hadiatmoko bahkan menjanjikan hadiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang pelaku dan penadah pencurian pratima. Sementara tokoh adat, agama di Bali berteriak lantang menyebut kasus pencurian pratima ini sebagai pelecehan terhadap agama Hindu dan adat budaya Bali.

Di balik ingar bingar perbincangan akan kasus pencurian pratima ini, ada beberapa catatan tercecer. Catatan ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama. Renungan untuk melihat kedalam (nyeliksik bulu). Catatan ini bisa menjadi untuk mengingat atau dilupakan begitu saja. Juga bisa jadi masukan merenungkan ulang berbagai persoalan sosial, ekonomi, agama yang sedang membelit Bali saat ini.

Dalam konteks lebih luas (walau agak ambisius) meredefinisi ulang kebudayan Bali agar dinamis mengarungi abad yang semakin berlari tunggang langgang.

Pertama, selama ini diakui atau tidak ada stereotype yang berkembang dan direprodusir di kalangan masyarakat Bali. Stereotip tersevut menyebutkan bahwa “orang luar” yang selalu membikin keonaran di Bali. Digambarkan bahwa “orang luar” adalah pelaku keonaran sementara “orang dalam” adalah korban.

Sebutan “orang luar” ini merujuk kepada Orang Jawa dan Orang Lombok, dua etnis dan pulau yang mengapit Bali, sementara “orang dalam” adalah Orang Bali. Istilah “Orang Luar” dan “Orang Dalam” ini semakin bergema suaranya pascakejatuhan rezim Orde Baru yang mengusung slogan refomasi dengan produk turunannya otonomi daerah.

Secara taken for granted media massa terutama di daerah mereprodusir kedua istilah tersebut dengan menyebutnya sebagai “masyarakat asli” dan “masyarakat pendatang”. Untuk di Bali istilah yang sering digunakan adalah orang lokal dan pendatang. Operasi yustisi yg menyusur pemukiman “pendatang” (dalam istilah media massa), pemeriksaan KTP di pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai yang lucunya alpa dilakukan juga di bandara Ngurah Rai, sekadar menyebut contoh.

Sejauh ini, tertangkapnya pelaku pencurian pratima sejumlah enam orang yang semuanya “Orang Dalam”, Orang Lokal (Bali) (atau sebutan lain Sameton Bali) dan satu penadah mengonfirmasi biasnya stereotype hanya “Orang Luar” yang menjadi biang kerok keonaran di Bali. Walau pahit, stereotype pejorative “Orang Luar”, “Pendatang” sebagai pelaku keonaran harus dipertanyakan kembali.

Dalam konteks Indonesia yang sedang karut-marut didera menguatnya sentimen etnis dan sentimen agama, sikap kritis dan toleran dalam melihat hubungan antaretnis dan agama di Bali tentu (walau kecil) menyumbang agar kapal yang bernama Indonesia tidak pecah dihantam ombak konflik etnis dan agama.

Kedua, keluhan Bupati Gianyar yang mempertanyakan apakah pencurinya tidak takut Hukum Karmaphala mengindikasikan “ada sesuatu” yang berubah pada diri pelaku (yang adalah Orang Bali) atau bahkan mungkin (masyarakat Bali?) dalam memandang arti hukum Karmaphala bahkan (agama Hindu?) dalam arti lebih luas. Rentetan pertanyaan kemudian bisa diajukan, apakah artinya ingar bingar upacara-upacara yang sering berlangsung? Apakah artinya pendidikan agama Hindu di sekolah-sekolah? Apakah artinya ceramah-ceramah agama oleh para pendeta Hindu? Apabila ternyata pragmatisme ekonomi mengalahkan semuanya! Alasan pelaku mencuri pratima akan sangat gampang ditebak, yaitu himpitan ekonomi.

Ketiga, keluhan masyarakat yang puranya kemalingan pratima akan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membuat pratima baru dan melakukan upacara Guru Piduka. Kesulitan ekonomi yang melanda masyarakat dunia, Indonesia dan Bali rupanya tidak mengurangi ingar bingar upacara-upacara adat dan keagamaan di Bali. Masyarakat Bali khususnya masyarakat yang puranya kemalingan pratima mengalami dilemma etis dan religius antara Yadnya tanpa reserve dan kemampuannya untuk melakukan Yadnya tersebut. Sementara disisi lain atas alasan ekonomi, pelaku mencuri pratima, sebuah lingkaran yang kontradiktif.

Keempat, para tokoh agama dan adat di Bali dengan lantang menyebutkan bahwa pencurian pratima telah melecehkan agama Hindu. Sikap ini tentu didukung seluruh kalangan masyarakat tanpa terkecuali. Akan lebih paripurna bila kegeraman akan pencurian pratima itu semakin meneguhkan bakti dan kepercayaan masyarakat Bali. Artinya pencurian pratima ini tidak akan meruntuhkan religiusitas masyarakat Bali. Asumsi berpikirnya bahwa yang namanya kepercayaan tentu tidak bisa diambil atau dicuri.

Kelima, keterlibatan penadah Roberto Gamba asal Italia menandaskan sisi lain pariwisata di Bali yang tidak hanya membawa berkah tetapi juga masalah. Walau tidak bisa dipungkiri gemerincing dolar pariwisata telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang di dan pada masyarakat Bali, berbagai masalah turut menyertai yang perlu terus dikritisi dan diantisipasi serta ditemukan pemecahannya.

Banyak sekali pekerjaan rumah yang terus menumpuk terkait pariwisata di Bali. Masalah pada bagaimana membuat pemerataan kue pariwisata antara pemerintah pusat (Jakarta) dengan Pemerintah Bali dan Kabupaten/Kota di Bali maupun antarkabupaten/kota di Bali yang selama ini timpang. Masalah kemacetan, sampah, upah tenaga kerja, izin pembangunan akomodasi pariwisata, berlanjut pada narkoba, pedofiilia, HIV dan AIDS, sekarang ditambah persoalan pencurian pratima melibatkan wisatawan mancanegara.

Artinya masyarakat Bali tidak hanya disuruh belajar tersenyum dan ramah. Jangan terbawa mimpi ke alam Pulau Dewata yang membuai tetapi gemerincing dolar pariwisata harus juga digunakan untuk menjamin setiap anak di Bali bisa bersekolah sehingga nantinya bisa belajar berpikir dan bersikap kritis menyikapi pariwisata. [b]

Foto dari Surya Majapahit.

Tags: AgamaBaliBudayaOpiniPratima
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Bodrek Arsana

Bodrek Arsana

Sebagai Koordinator Riset Lembaga Survey Indonesia (LSI) untuk Pilkada Bali pada Juli 2007 dan pernah sebagai Koordinator Riset di Sugeng Sarijadi Syndicated Jakarta. Sejak Maret 2001 hingga Desember 2005 sebagai Asisten Editor Majalah Latitudes Bali. Tulisannya pernah dimuat Courrier International, Paris dan Times Media Private Limited, Singapura. Pernah menjadi peneliti dan asisten lokal liputan National Geographic di Bali serta membantu riset Prof. Henk Schulte Nordolt tentang kekerasan politik dan pemilu lokal di Bali maupun melakukan riset sendiri tentang persoalan yang sama.

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Next Post
Kenangan Seharga Jutaan dari Tenganan

Kenangan Seharga Jutaan dari Tenganan

Comments 1

  1. Luh De Suriyani says:
    15 years ago

    nyakcak pak bodrek 🙂

    Reply

Leave a Reply to Luh De Suriyani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia