• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Merestui Reklamasi, Melupakan Etika Demokrasi

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
3 December 2016
in Opini, Politik
0
0
Salah satu aksi tolak reklamasi pada awal Agustus lalu. Foto Anton Muhajir.
Salah satu aksi tolak reklamasi pada awal Agustus 2016 lalu. Foto Anton Muhajir.

Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla nyaris melupakan etika demokrasi. 

Mereka telah berhasil menggalang kekuatan di gedung dewan. Pertemuan dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menunjukan partai ini tak lagi menjadi oposan sejati.

Lobi-lobi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pun sudah berbuah jelas dengan disingkirkannya Fahri Hamzah dari PKS. Partai ini pun menjadi oposan setengah hati atau oposan yang tidak berisik lagi.

Dengan begitu kuatnya partai pendukung pemerintahan di parlemen, apapun kehendak pemerintah akan berjalan mulus. Ini sudah terbukti sejak penetapan Kepala Polri (Kapolri). Dalam politik, kompromi adalah seninya. Dan kompromi dengan Partai Golkar sepertinya sudah jelas. Kisruh reda dan hak kursi ketua dewan tidak diganggu.

Tentu saja tidak bisa ditunjukkan bukti empiris ataupun hasil dari lembaga survei tentang persepsi masyarakat terhadap kembalinya seorang Setya Novanto pada kursi ketua dewan yang terhormat. Sebab, tidak ada pihak yang saat ini memiliki kepentingan terhadap jatah partai berlambang beringin tersebut.

Ketika parlemen tidak lagi memiliki oposan maka pilihannya hanya satu. Rakyat harus sejahtera dan nyaman. Kalau syarat itu gagal, maka rakyatlah yang akan menjadi oposisi. Sebuah peta pertarungan politik tidak lagi sehat. Karena jalanan akan menjadi tempat pelampiasan aspirasi. Dan sering memaksa alat pengamanan Negara mengayunkan popor senjata kepada rakyat, yang seharusnya mereka lindungi.

Skenario di atas adalah konsekuensi dari penerapan demokrasi seperti saat ini. Demokrasi liberal. Demokrasi dengan suara mayoritas. Rivalitas yang menuntut menang kalah. Demokrasi yang tercerabut dari akar budaya bangsa Indonesia.

Demokrasi bangsa ini jelas, demokrasi yang tertulis pada sila keempat Pancasila. Sebuah demokrasi yang mengedepankan musyawarah. Demokrasi tanpa ada yang harus tertunduk karena kalah. Para pendiri Negara ini menyadari bahwa demokrasi langsung tidaklah siap diterapkan di tengah jutaan rakyat yang belum sama tingkat hidup dan tingkat pendidikannya.

Demokrasi langsung ini telah melahirkan politik transaksional. Petualang politik memanfaatkan celah ini dengan sempurna. Mereka berhasil menghimpun kekuatan mayoritas untuk menguasai parlemen hingga pemerintahan.

Bermodalkan hitungan ekonomi mereka berani membayar suara rakyat agar bisa menempatkan orang-orangnya di semua lini yang mereka perlukan. Sehingga modal yang mereka keluarkan dapat segera kembali berlipat dengan keuntungannya.

Oposisi itu telah lahir di Bali!

Lihat saja bagaimana rakyat Bali dipaksa menjadi oposisi bagi penguasa. Penguasa itu kumpulan antara legislator yang buruk dan eksekutif yang juga buruk. Bagaimana proses lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) nomor 51 tahun 2014 menunjukan kepada rakyat Bali sebuah konspirasi pemodal dengan memainkan orang-orang yang sudah mereka susupkan melalui sistem demokrasi langsung ini untuk memuluskan rencana investasi mereka.

Niat pemerintah untuk melaksanakan pembangunan demi kesejahteraan dan kenyamanan rakyat telah berganti menjadi niat membuka iklim yang ramah investasi dengan mengorbankan perasaan rakyatnya sendiri. Semua dengan dalih pertumbuhan lapangan kerja dan laju pertumbuhan ekonomi untuk kemajuan walaupun dengan mengorbankan rakyat yang mendiami wilayah sekitar rencana pembangunan itu.

Rencana reklamasi yang sudah jelas mendapatkan perlawanan rakyat di sepanjang wilayah yang akan direklamasi. Bahkan penolakan itu semakin meluas karena melukai rasa kesucian yang dimiliki dan dipelihara oleh masyarakat Bali. Kesucian terhadap muara sungai dan muntig yang telah mereka warisi sedari dulu.

Beredarnya undangan Rencana Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi IV DPR RI pada 28 November 2016 dengan agenda paparan mengenai program dan rencana kerja reklamasi Teluk Benoa maka sangat kecewalah hati rakyat Bali. Karena beredar pula dokumen yang menjadi materi acara tersebut.

Ada beberapa materi yang cukup meresahkan rakyat Bali.

Pertama, adanya perjanjian kerja sama PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) dengan sembilan desa adat di sekitar teluk tertanggal 28 November 2014. Padahal fakta terbaru di lapangan ada 40 desa adat yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dengan kedok revitalisasi tersebut.

Kedua, adanya nota kesepahaman dengan sembilan kabupaten kota untuk penyerapan calon tenaga kerja pada proyek revitalisasi Teluk Benoa. Nota kesepahaman yang katanya ditandatangani pada 23 September 2016. Padahal Bupati Badung dan Walikota Denpasar yang terpilih dalam kampanyenya jelas menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Kalau etika politik sudah ditinggalkan, maka hanya tersisa badut-badut politik! Pilihannya menjadi kembali ke jalanan. Seperti lirik lagu Bongkar, ”Di jalanan, kami sandarkan cita-cita. Karena di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya….”

Mengakhiri tulisan kekecewaan ini, saya hanya bisa berkata jangan sampai Jokowi-JK yang menang telak di Bali harus mengalami kekalahannya, juga, mulai dari Bali. Semoga persepsi saya akan ucapan beliau bahwa jangan sampai pariwisata merusak Bali dalam syukuran kemenangannya di Bali Agustus dua tahun lalu adalah dengan membatalkan reklamasi teluk Benoa.

Semoga. [b]

Tags: BaliBali Tolak ReklamasiOpiniPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Sambah Ayunan, Bermain Bersama Mencegah Bala

Patriarki Sebagai Bentuk Ketidakadilan: Patriarki Nggak?

18 December 2025
Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

17 December 2025
Next Post
Klip Dromme tentang Sebuah Rasa yang Semu

Klip Dromme tentang Sebuah Rasa yang Semu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia