
Apa yang muncul di layar beranda media sosial kita ternyata bukan kebetulan. Rekomendasi tempat jalan-jalan, kuliner, konten hiburan, hingga update terkini tentang comeback artis K-pop.
Dalam Roadshow Jangkar: Suara Lokal di Ruang Digital yang diadakan Tirto pada Kamis, 16 April 2026, terdapat salah satu sesi diskusi yang membahas soal ini. Anggini Setiawan-Harvey dari TikTok Indonesia menjelaskan bagaimana konten diatur, disebarkan, bahkan “ditahan” oleh sistem platform.
Menurut Anggini, TikTok adalah platform distribusi video pendek yang mengandalkan discoverability. Artinya, pengguna datang untuk menemukan konten yang relevan dengan dirinya. “FYP (For Your Page) sangat tergantung behavior ataupun juga preferensi dari user masing-masing. Faktor kedekatan juga penting. Proximity antara teman-teman dengan lokasi itu menjadi sangat relevan,” ungkapnya.
Banyak orang mengira TikTok hanya “mendorong” konten tertentu. Tapi, FYP tergantung behavior ataupun juga preferensi pengguna. Artinya, kita sendiri yang tanpa sadar membentuk isi timeline kita.
Ada juga lapisan lain yaitu mengenai panduan komunitas. Aturan ini menentukan konten apa yang boleh tayang. “Panduan komunitas itu terus berkembang, menyeimbangkan kebebasan berekspresi tapi tanpa mengorbankan keamanan,” jelasnya. Konten yang melanggar tidak selalu langsung dihapus, tapi bisa “ditenggelamkan” dengan tidak direkomendasikan.
Moderasi dalam TikTok membaca detail visual, audio, hingga gestur dalam video. Ditambah lagi, aturan ini dilokalisasi, disesuaikan dengan budaya tiap negara. Jadi, standar konten di Indonesia bisa berbeda dengan negara lain.
Jika ditarik ke Bali, ini jadi menarik sekaligus problematis. Algoritma yang sangat personal membuat isu publik tidak selalu muncul di semua orang. Misalnya, beberapa waktu lalu topik pengelolaan sampah lewat komposter sempat ramai. Kontennya muncul di FYP sebagian pengguna, lengkap dengan komentar yang ramai mulai dari dukungan sampai skeptisisme soal efektivitasnya. Namun, jika pengguna lebih sering berinteraksi dengan konten hiburan, maka algoritma akan terus menampilkan hal serupa. Akibatnya, isu publik tidak selalu terlihat.
Ada beberapa pola yang bisa dibaca. Pertama, penggunaan kata kunci. Konten yang menyebut lokasi seperti “Bali”, “Denpasar”, atau nama tempat spesifik cenderung lebih mudah dikenali algoritma. Begitu juga dengan penyebutan tokoh atau isu yang sedang ramai. Ini membantu sistem memahami konteks konten dan menyalurkannya ke audiens yang relevan.
Kedua, aspek engagement. Konten yang memancing respons komentar, like, atau share lebih berpeluang naik. Misalnya, saat isu sampah di Bali ramai, konten dengan sudut yang jelas dan memancing diskusi biasanya lebih cepat menyebar. Komentar pun jadi indikator penting apakah konten itu “naik” atau tidak.
Untuk konten hiburan atau impulsif, penggunaan sound viral kadang masih berpengaruh. Audio yang sedang tren bisa membantu. Namun, tidak semua konten bisa terus bertahan di FYP. TikTok tetap menerapkan panduan komunitas dan moderasi, termasuk kebijakan hak cipta. Konten yang melanggar tidak selalu langsung dihapus, tapi bisa dibatasi jangkauannya. Sering juga disebut shadow ban.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi “gimana biar konten FYP?”, tapi “isu apa yang kita dorong supaya tetap terlihat?”



