• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Merayakan World Fair Trade dengan Nglawar

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
24 May 2016
in Kabar Baru, Sosial
0
0
mitra bali fair trade-pengrajin nglawar
Nglawar untuk merayakan World Fair Trade Day 2016 di Mitra Bali.

Karena nglawar pun bagian dari sikap perlawanan.

Maka, pengrajin dan pelaku bisnis perdagangan berkeadilan (fair trade) di Bali pun merayakan World Fair Trade Day 2016 dengan masak menu tradisional dan makan bersama. Nglawar adalah pilihan untuk menumbuhkan kebersamaan.

Nglawar menjadi salah satu bagian dari perayaan Hari Perdagangan Berkeadilan Sedunia oleh puluhan pengrajin. Sejak akhir pekan lalu hingga Selasa, mereka melakukan berbagai kegiatan untuk memperingati World Fair Trade Day 2016 di Lodtunduh, Ubud, Gianyar.

Selain nglawar ada pula peluncuran buku, pemeriksaan kesehatan gratis dan penyuluhan keselamatan kerja.

Para pengrajin dan usaha payungnya, Mitra Bali Fair Trade ini meluncurkan buklet bertajuk Fair Trade in Action. Isinya tentang kenapa prinsip perdagangan ini dibutuhkan di Bali di tengah kapitalisme industri pariwisata.

Acara ini berangkat dari usulan pengrajin yang selama ini bekerja dan berkarya bersama Mitra Bali Fair Trade, eksportir kerajinan yang sudah lebih 20 tahun merintis perdagangan berkeadilan ini.

Ngelawar adalah tradisi Adat Bali yang menunjukkan prinsip nyata kebersamaan yang masih hidup di Bali. Menurut I Gusti Agung Alit, pendiri Mitra Bali, melalui ngelawar kita masak dan makan bersama dengan harapan akan menumbuhkan keakraban.

“Nglawar sekaligus untuk mempertebal semangat kebersamaan di Bali dengan industri pariwisatanya sedang ‘dikeroyok’ rezim pasar bebas yang materialistis dan individualistis,” ujarnya.

Adapun buku kecil yang dirilis menyajikan bagaimana 10 prinsip Fair Trade dipraktikkan sebagai upaya kebersamaan yang berkelanjutan dalam memerangi kemiskinan. Adapun 10 prinsip fair trade tersebut adalah memerangi kemiskinan, transparan, berorientasi kesejahteraan, pembayaran cepat,tepat dan layak, dan tidak menggunakan tenaga kerja paksa dan buruh anak.

Perdagangan berkeadilan menerapkan 10 prinsip termasuk transparansi.
Perdagangan berkeadilan menerapkan 10 prinsip termasuk transparansi.

Selain itu sebuah usaha bisa mendapat jaminan fair trade internasional dari World Fair Trade Organization (WFTO) jika tidak mendiskriminasi tenaga kerja laki dan perempuan, menciptakan lingkungan kerja sehat, aman dan nyaman, mengembangkan kemampuan pekerja, menyosialisasikan praktik perdagangan adil, serta peduli lingkungan.

Hari Fair Trade sedunia dilaksanakan tiap Sabtu, pada minggu ke dua bulan Mei, oleh para pelaku fair trade di seluruh dunia. Ada lebih dari 450 organisasi di 75 negara.

Setiap perayaan mempunyai tema. Tema perayaan tahun ini adalah Human Chain for Fair Trade and Planet. Maknanya, kebersamaan untuk perdagangan adil dan planet kita.

Kebersamaan yang dimaksud adalah kebersamaan di antara produsen, pembeli, konsumen dan semua pihak yang peduli akan nasib produsen yang terpinggirkan dan lingkungan yang tereksploitasi.

“Kita semua adalah agen perubahan. Melalui kebersamaan kita berjejaring melakukan perubahan untuk menyikapi situasi dan kondisi perdagangan dunia yang berorientasi free trade neo liberalistic,” lanjut Agung Alit yang menjadi pendiri Forum Fair Trade Indonesia ini.

Mitra Bali Fair Trade mengajak dan mengimbau semua pihak sebagai agen perubahan dan melakukan perubahan misalnya dengan mempraktikkan fair trade sekarang juga karena ini model perdagangan yang fair, layak dan memihak kelompok produsen. “Pengrajin atau produsen adalah orang yang memproduksi barang yang siap saji untuk keperluan anda, sudah saatnya produsen mendapat perlakuan yang adil dalam rantai perdagangan. Sebagai contoh, petani sebagai produsen produk yang tersaji di meja makan anda, ironisnya petani tetap dalam kemiskinan akut,” papar Agung Alit.

Praktik lain adalah mengubah cara belanja dengan memperhatikan dan memilih produk fair trade yang bersertifikat Fair Trade Guaranteed. Ini adalah jaminan bagi produk fair trade karena sejak proses produksi mengutamakan pembayaran tepat waktu, cepat dan layak sebagai bentuk penghormatan kepada produsen. Pembayaran yang tersendat-sendat diyakini pangkal dari eksploitasi. Bisa dihitung jari usaha yang mendapat garansi ini di Indonesia.

Made Karyawati dari Payangan mengatakan program pemeriksaan kesehatan ini penting untuk pengrajin. “Kalau tau kondisi kesehatan, juga jauh lebih baik ketimbang ke rumah sakit yang butuh waktu lama dan keluar biaya. Sebagai tukang kita diperhatikan,” kata ibu ini. Kegiatan ini dilakukan berkala tiap tahun untuk pengrajin. [b]

Tags: BaliEkonomiFair TradeLSMWorld Fair Trade Day 2016
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Next Post
Belajar dan Melestarikan Penyu di TCEC Serangan

Perdagangan Penyu di Bali Kembali Marak

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Membangkitkan Lima Lapisan Kesadaran Diri

21 May 2026
Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

20 May 2026

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia