Menyoal Tantangan Intelektual Muda Bali ala Ngurah Suryawan

Ngurah Suryawan saat peluncuran bukunya, Menyoal Bali yang Berubah. Foto Bentara Budaya Bali.

Tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan.

Saya sudah lama sekali tidak menulis opini ataupun esai ringan. Apalagi yang menanggapi tulisan dari Ngurah Suryawan: kawan lama di kolektif Etnohistori di Jogja. Alasannya sederhana, kualitas tulisan Ngurah jarang yang ada perlu ditanggapi.

Namun, beberapa minggu lalu Ngurah menulis esai bagus sekali di harian Kompas tentang Papua. Jadi mungkin, saya membatin, kawan Ngurah masih bisa diajak berpikir serius.

Tulisan ini ingin menanggapi corat-coret Ngurah di website Tatkala, soal apa yang Ngurah sebut sebagai tantangan bagi intelektual muda Hindu Bali.

Hindu atau Bali?

Inti dari corat-coret kawan Ngurah sebenarnya penting. Namun, ketika digores oleh pena Ngurah jadi terkesan kabur dan bertele-tele. Intinya kira-kira begini. Ngurah berangkat dari observasi kalau intelektual Bali tidak terdengar kiprahnya di kancah pemikiran nasional dan global. Saru gremeng, ujar Ngurah.

Menurut Ngurah, kemungkinan besar karena intelektual muda Hindu Bali berperilaku seperti katak dalam tempurung: hanya melihat Bali sebagai jagat pentas satu-satunya. Akibatnya, intelektual Bali dan Hindu terancam terjerumus dalam fenomena inward looking dan berpikir picik. Yang dibahas hanya Bali, dan sayangnya lagi, pembahasannya dominan soal membela kebudayaan Bali.

Saran kawan Ngurah, intelektual Bali dan Hindu perlu bergerak melampaui keBalian sendiri: melampaui romantisme pada kebudayaan dan masa lalu.

Ada beberapa catatan untuk kawan Ngurah dan poin penting yang berusaha ia bahas. Catatan pertama tentu saja: apa betul demikian sebagaimana yang disampaikan kawan Ngurah?

Bali dan Hindu dihela dalam satu hentakan napas dalam tulisan Ngurah, seakan-akan dua kategori itu simetris, kongruen, dan identik. Sebagai seorang antropolog yang pernah menulis Bali, Ngurah tentu harusnya tahu ini keliru. Bali tidak selalu identik dengan Hindu, apalagi Hindu modern ala Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang kita kenal sekarang.

Orang Bali ada yang Kristen dan Katolik, bahkan orang Bali ada yang Muslim. Mungkin lebih banyak lagi orang Bali yang tidak beragama Hindu modern ala PHDI dengan tri sandya tiga kali dan sebagainya. Mereka yang belajar studi agama memahami betul kalau kategori Hindu (yang di India dan bahkan yang dilekatkan di kebudayaan Bali) tersebut adalah konstruksi sosial.

Ketidakpahaman kawan Ngurah akan ketidaksimetrisan kategori Bali dan Hindu itu sendiri terlihat jelas ketika ia abai akan beberapa intelektual Bali yang sebenarnya kiprahnya sangat terdengar dan dominan di kancah pemikiran nasional. Tidak usah jauh jauh, kawan Ngurah sebenarnya bisa melihat rekan kita sendiri yang bernama Made “Tony” Supriatma.

Made adalah ahli studi politik militer di Indonesia, dan juga ahli studi Papua, studi yang belakangan kawan Ngurah coba geluti. Ia dididik di Cornell dibawah Ben Anderson dan diakui di level nasional sebagai salah seorang pemikir studi militer Indonesia. Made bahkan pentas jauh lebih dahulu di level nasional dibandingkan beberapa peneliti muda terdepan terkini di studi militer Indonesia—yang kebetulan saya kenal baik—seperti Evan Laksmana di Center for Strategic and International Studies (CSIS) atau Muhamad Haripin di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saya rasa kawan Ngurah abai melihat Made persis karena di analisis kawan Ngurah, intelektual Hindu dan intelektual Bali itu adalah dua istilah yang dapat dipertukarkan. Made Tony kebetulan tidak dapat diringkus dengan pas oleh dua kategori Hindu dan Bali tadi. Namun, justru disitulah letak pentingnya Made Tony: ia telah berhasil melampaui penjara kategori Hindu, Bali, dan bahkan mungkin Katolik itu sendiri.

Saya tahu masih banyak intelektual Bali lain yang pentas di level nasional dan gaung kiprahnya sangat terdengar. Ada dua orang Bali yang kini jadi jurnalis terdepan di Tempo. Ada satu orang Bali yang kini jadi ahli batas maritim di level nasional. Jika tidak terdengar oleh Ngurah, mungkin karena kawan Ngurah masih terjebak dalam penjara kategori Bali dan Hindu.

Intelektual Bali yang berkiprah di pentas nasional tersebut mungkin sekali sudah melampai penjara dua kategori tersebut dan telah menjadi, simply, orang Indonesia saja.

Tidak Berhenti Belajar

Catatan kedua. Jika memang kiprah intelektual Bali gaungnya tidak sekencang kiprah pemikir non-Bali, seperti yang Ngurah tuduhkan, mungkin sekali bukan karena mereka selalu berpikir inward looking dan jadi “jago-jago penjaga kebudayaan” untuk mengutip istilah lawas favorit kawan Ngurah. Mungkin sekali karena mereka telah berusaha berkiprah di pentas nasional, tetapi karena keterbatasan mereka masing-masing, tidak mampu menjadi salah satu pemikir yang terbaik.

Ngurah saya rasa adalah salah satu contoh yang bagus. Selepas berkutat dengan studinya tentang Bali, Ngurah kini mencoba berkiprah di pentas nasional dengan menjadi pemikir tentang Papua. Sejauh mana kiprah kawan Ngurah berhasil, masih kita nantikan.

Beberapa resep menjadi pemikir dan intelektual yang berhasil saya rasa kawan Ngurah sudah mafhum. Sebagai misal, jadilah pemikir merdeka dan bukan pemikir minder tukang kutip sarjana lain, menulis dengan logika yang runtut dan bahasa yang jernih, dan yang paling penting, proses belajar tidak berhenti seusai meraih gelar doktor. Justru gelar doktor itu menambah beban harapan pembaca pada sang intelektual.

Saya rasa tantangan intelektual Bali terkini bukanlah perspektif inward looking dan kejumudan pada peran menjadi jago kebudayaan. Tantangan mereka kini adalah keluar dari zona nyaman repetisi tema pemikiran, dan tentu saja kemalasan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tulisan ini ingin saya tutup dengan dengan ucapan penyemangat pada kawan Ngurah: mungkin sekali kawan Ngurah nanti jadi intelektual Bali berikutnya yang kiprahnya terdengar di pentas nasional dan tidak hanya membahas soal budaya Bali. Dengan catatan, tentu saja, kawan Ngurah tidak berhenti belajar. [b]