• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, May 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menyama Braya di Hari Natal

Anton Muhajir by Anton Muhajir
25 December 2008
in Kabar Baru
0
0

Oleh Anton Muhajir

Saya dan anak istri baru saja sampai rumah. Kami habis dari rumah Fenny, si ratu ngebor, eh, ratu kopdarnya Bali Blogger Community (BBC). Dari pukul enam teng tadi, kami di sana. Ikut menikmati perayaan Natal. Tak hanya kami yang datang ke rumah Fennyi di daerah jalan Gunung Agung, di sekitar Pasar Loaknya Bali itu. Ada beberapa teman dari BBC seperti Novan, Efi, dan Eka, serta tiga teman lain di sana. Acaranya, tentu saja, makan-makan. Sebab, apalah artinya hari raya tanpa pesta. Hwahaha..

Menu makannya enak. Sate udang, gurami bakar, usus buntu –eh salah, usus bumbu-, dengan sambal ulek puedes tenan. Cuma untuk makan enak ternyata perlu perjuangan. Saya harus mandi asap dulu, jadi tukang sate dulu.

Pas makan, waah, uenak tenan. Tapi itu tak hanya karena rasanya. Juga karena rasa lapar yang memang kami bawa. Sejak dari rumah, berangkat pukul empat karena kami ke toko buku Gramedia dulu, perut saya sudah keroncongan. Maunya makan mie dulu sebelum berangkat tapi istri saya bilang tidak usah. Yowis. Kami pun berangkat dengan perut yang merana.

Untunglah lapar itu terobati juga setelah berjuang keras untuk bikin sate udang dulu.

Tak hanya di rumah Fenny kami menikmati Natal. Kemarin sore, kami juga makan-makan setelah Pak Antonio, tetangga kami yang merayakan Natal, mengirim jootan –hadiah saat hari raya dalam tradisi Bali- ke rumah. Menunya nasi campur ala Bali: nasi putih, ayam suwir, mie goreng, dan sambal goreng.

Bukan makanannya yang istimewa, tapi pemberian saat hari raya tersebut. Sebab itu artinya kami menjadi bagian dari perayaan Pak Antonio, meski kami berbeda agama.

Maka ketika baru makan dua suap nasi itu, saya tiba-tiba berpikir untuk datang ke rumah Pak Antonio saja dulu. Saya mau melihat bagaimana keriuhan Natal di rumah pegawai Dinas Kehutanan Provinsi Bali itu. Sebab Gede dan Putri, dua anak yang mengantarkan jootan, itu bilang kalau ibu-ibu tetangga kami sedang menyiapkan jootan di sana.

Benar saja. Ada Bu Wayan, Bu Adit, dan Bu Putri sedang duduk lesehan di ruang tamu yang penuh makanan. Tak ada satu pun dari mereka yang merayakan Natal. Mereka campuran Hindu dan Muslim. Tapi lihatlah. Mereka sibuk menyiapkan jootan untuk merayakan Natal Pak Antonio. Ibu-ibu tetangga kami di gang kecil jalan Subak Dalem itu memasukkan nasi, sambel, telur, ayam, dan semua bahan di jootan dalam satu kertas bungkus nasi di atas ingke, pirin dari anyaman bambu.

Setelah menu siap, Gede dan Putri –dua anak remaja di gang kami- akan mengantarkan jootan itu ke sekitar 15 rumah di gang kami yang memang sangat beragam latar belakang agama, sosial, ekonomi, dan seterusnya.

Tiap hari raya, selalu ada tradisi jootan itu. Siapa yang merayakan hari raya maka dia yang akan membaginya ke rumah-rumah mereka yang tidak merayakan. Kami yang merayakan Lebaran akan panen jootan, berisi buah dan jajan tradisional Bali lain, saat Galungan. Malah biasanya sampai terbuang karena saking banyaknya jootan yang kami dapat.

Begitu juga ketika kami merayakan Lebaran. Kami yang ganti mengirim jootan itu ke semua tetangga kami di gang.

Perayaan hari raya, agama apa pun itu, selalu jadi momen yang mengharukan bagi kami, saya dan istri. Entahlah. Mungkin karena kami juga tinggal dalam keanekaragaman itu ketika pada saat yang sama di banyak tempat lain justru muncul hal yang sama sekali berbeda, penyeragaman.

Kami berada di lingkungan kecil yang sangat menghormati perbedaan itu, dan larut dalam tiap momen perayaan atas keragaman itu, ketika secara global juga muncul sikap orang-orang yang makin gemar berkumpul hanya dalam satu identitas yang sama.

Maka, tiap hari raya agama apa pun itu, kami selalu ikut larut di dalamnya. Sebab hari raya bagi kami tak hanya waktu untuk menyama braya –merayakan semangat kekeluargaan- tapi juga merayakan perbedaan..

Selamat Natal. Semoga damai selalu di hati, di bumi..

Tags: AgamaBaliBudayaToleransi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Next Post

Hot Trip to Nusa Lembongan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia