• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Mengubah Pakaian Bekas jadi Produk Berkelas

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
8 May 2016
in Kabar Baru
0
0

Art of Whatever Wiss

Punya baju-baju atau barang bekas sudah tidak dipakai? 

Daripada dibuang, mending ditukarkan dengan produk-produk daur ulang keren karya Wiss. Seniman muda yang sangat produktif ini mendaur ulang pakaian-pakaian bekas menjadi pakaian baru penuh cita rasa seni.

Sepuluh kaos katun bekas bisa ditukar dengan sepasang sepatu penuh lukisan. Dua kaos katun juga bisa barter dengan sebuah buku sketsa dengan sampul kardus bekas berlukis.

Wiss membuat dan menjual produk-produknya tersebut di tokonya, Art of Whatever yang punya tagline secondhand custom culture store di Jalan WR Supratman, Denpasar.

Sepatu dan buku sketsa dengan lukisan surealisme ini dipajang di depan toko yang fokus menjual produk upcycle itu. Dia menjadi penanda bahwa barang bekas bisa diubah menjadi produk yang lebih bernilai seni.

Wiss melukis di atas kaos-kaos katun bekas tanpa sablon rubber. Misalnya sebuah kaos bersablon gambar hati merah dilukis dengan menambahkan mata-mata yang menjulur dari lubang-lubang hati. Dia menjadi ciri khas produk-produk Art of Whatever.

Mata-mata ini khas karya Wiss. Awalnya ingin menjadikan mata sebagai logo. Tapi kemudian bergerak liar menjadi sejumlah figur-figur aneka rupa. “Mata artinya karya saya bisa dinikmati, tapi lalu bisa berubah menjadi orang atau monster,” ujar pria kelahiran 1982 ini.

Karya-karya Slinat, seniman street artist Bali yang bersuara di sejumlah tembok jalanan kota Denpasar juga bisa ditemukan di Art of Whatever Store, Jalan Supratman. Lokasinya sebelum perempatan Jalan Waribang-Sulatri-Supratman.

Di perempatan ini, ada sebuah mural menggelitik. Sebuah tengkorak utuh yang sedang memohon, dengan teks: Ratu Sanghyang Embang, semoga di perempatan ini tidak akan pernah ada baliho-baliho iklan dan sejenisnya.

Sebuah pesan untuk merebut ruang publik. Relevan dengan kondisi perempatan ini yang sangat padat namun sempit tapi dipenuhi banyak baliho. Slinat mengambar mural di sebuah tembok persis di perempatan ini. Perempatan jadi lebih sumpek dengan aneka baliho, juga menyulitkan pengendara dan pejalan kaki.

Selain itu di tempat lain ada juga mural lain tentang kerisauan jual beli tanah dan protes akan eksploitasi alam.

Salah satu yang terbaru ada di belakang tembok pasar Kumbasari. Sebuah mural besar penari legong terlihat mengenakan masker memenuhi tembok yang di depannya kerap menjadi lokasi pedagang canang. Sekarang, spanduk Satpol PP menutupi bagian bawah mural yang berisi larangan pedagang jualan di pinggir jalan.

Toko Art of Whatever

Wiss, lulusan seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar 2006 ini mempersilakan melongok ke bengkel kerja di belakang toko Art of Whatever. Ini rumah keluarga besar khas Denpasar. Satu area tinggal beberapa kepala keluarga dengan aneka kegiatannya. Ada seorang ibu sedang produksi kaos massal, perempuan yang membuat sesajen, anak-anak bermain dalam kardus, dan tetangga yang punya usaha menyangrai kopi.

Asapnya jadi teman keseharian Wiss. Bengkelnya di belakang. Terlihat rapi. Cat dan kuas ditata dalam satu wadah susun. Karyanya tersebar, ada di beberapa pojok bangunan, meja, kursi, dispenser air, tong sampah, dan lainnya. Dengan ciri khas mata itu.

Seorang pria sedang membongkar pintu kayu bekas. Kayu-kayu ini direspon Wiss dengan sejumlah pesan dan figurnya. Makin banyak teman yang membawakan barang bekas untuk digambar. Tas, topi, sepatu, dan paling banyak kaos.

Wiss tidak pelit bicara. Ia akan bercerita tentang minatnya pada upcycle atau pagelaran Bali yang Binal dari komunitas Pojok yang rutin berpameran dan diskusi seni dua tahun sekali.

Komunitas Pojok adalah ruang seni alternatif yang dihidupkan sejumlah mahasiswa ISI (ketika bernama STSI) seni rupa, mereka mengolaborasikan sejumlah genre berkesenian seperti mural, lukis, cukil, musik, dan lainnya.

Di tokonya, sejumlah seniman juga memajang karya sehingga menjadi etalase upcycle bersama. Ada merek Besi Batu Kayu yang spesialis kayu bekas, AS, dan lainnya. Juga sejumlah merchandise band inde Bali seperti Nosstress. Jika mau melihat karya-karya upcycle ini, Wiss juga mempromosikan karya-karyanya di akun Instagram. [b]

Tags: DenpasarGaya HidupSeniSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

26 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

19 December 2025
Next Post
Agar Pura Tetap Sakral, Tidak Diobral

Batu Mekori, Alam Menjaga Alam Memberi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

Menutup Program Studi, Menutup Masalah?

6 May 2026
Pelanggaran Kebebasan Berpendapat terus Terjadi di Bali, mulai dari Larangan saat Konferensi Internasional, Aksi, dan Penangkapan Tomy

Surat Cinta Negeri dari Jeruji Besi

5 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia