
Rasa penasaran terhadap Sekolah Bali Mandara akhirnya tuntas. Selama dua hari, pada 9-10 Oktober 2026, BaleBengong bertandang ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Bali Mandara untuk melaksanakan Kelas Jurnalisme Warga (KJW).
Dari Kota Denpasar, kami menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam. Sekolah ini berlokasi di Jalan Raya Air Sanih, Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Lingkungan sekolah dikelilingi pepohonan yang gugur di musim kemarau.
Hari itu tampaknya menjadi waktu yang tepat mengunjungi SMA Bali Mandara. Hutan di sekitarnya tampak seperti savana di musim kering. Di luar sekolah, daun tampak berguguran, jalan pun berdebu. Namun, suasana di dalam sekolah rimbun pepohonan hijau.
Lingkungan sekolah dibagi menjadi dua, yaitu SMK Bali Mandara dan SMA Bali Mandara. Sekolah ini telah berdiri sejak tahun 2011, di bawah Pemerintah Provinsi Bali. Sekolah Bali Mandara menjadi sekolah berasrama pertama yang ada di Bali, berdiri di atas lahan 10 hektare.
Memasuki lingkungan sekolah, kami langsung disambut oleh siswa-siswi yang tengah melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang bermain bola, ada yang sedang latihan pementasan di aula, ada juga yang sedang berlatih gerak jalan. Hari itu merupakan hari Sabtu, tetapi tak ada satu pun siswa-siswi yang bersantai, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Ucapan selamat pagi kami terima dari siswa-siswi di sana. Tampaknya mereka telah dilatih menyapa tamu yang berkunjung ke sekolah.
Sebagai sekolah berasrama, SMA Bali Mandara memiliki banyak kegiatan dari pagi hingga malam hari. Aturan di sana pun cukup ketat. Kunjungan orang tua dibatasi pada waktu tertentu.
Siswa-siswi juga dibatasi keluar dari area sekolah. Maka dari itu, hasil karya KJW kali ini fokus pada kegiatan di area sekolah dan pengalaman siswa-siswi Bali Mandara.

Kelompok pertama membahas tentang rutinitas pagi hari di SMA Bali Mandara, yaitu exercise. Rutinitas awal siswa-siswi dimulai dengan bangun pagi pada pukul 04.45 WITA. Dilanjutkan dengan exercise untuk meningkatkan energi dan fokus.
Sukma, salah satu siswi menceritakan, di awal sekolah ia masih beradaptasi dengan rutinitas exercise. Awalnya, badannya sakit karena melakukan push up. Lama-kelamaan dia jadi terbiasa.
“Saya juga memahami manfaat exercise bagi tubuh, kebugaran tubuh, meningkatkan kekuatan fisik,” jelas Sukma ketika sesi pemaparan.
Kelompok kedua mengambil topik panggung ekspresi, kegiatan menampilkan minat dan bakat. Aktivitas ini merupakan aktivitas baru yang dicetuskan oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Bali Mandara periode 2025-2026. Tujuannya untuk mengekspresikan minat dan bakat siswa-siswi.
Kelompok ini juga menyoroti sisi penonton panggung ekspresi yang merasa akan lebih menarik kalau ada pementasan drama cerita. “Melalui pentas ekspresi ini, kami ingin menunjukkan bahwa siswa-siswi tidak hanya fokus pada bidang akademik, tetapi juga memiliki kreativitas, bakat, dan juga kemampuan untuk mengekspresikan diri,” jelas perwakilan kelompok dua.
Aktivitas lain yang ditulis peserta KJW adalah silent reading. Biasanya dilakukan pagi hari selama 15-20 menit. Malia, salah satu perwakilan kelompok menjelaskan, membaca buku dilakukan untuk pemanasan otak di pagi hari, sebelum lanjut proses belajar di kelas.

“Jujur saja saya berani berbicara di depan umum ini semenjak ada kegiatan silent reading, yaitu sesi review, di mana siswa ketika seusai membaca buku itu ditunjuk untuk ke depan, lalu mengulas kembali apa yang sudah dibaca,” jelas Malia.
Sebagai sekolah unggulan, SMA Bali Mandara menerapkan one student one medal. Artinya, satu orang siswa atau siswi wajib mendapatkan medali sebelum lulus. Program ini dirancang untuk mendorong setiap siswa mengembangkan potensi dan meraih prestasi di bidang akademik maupun non-akademik melalui kompetisi.
Salah satu narasumber yang diwawancara mengatakan, program one student one medal membantu siswa baru beradaptasi menemukan potensi diri dan tumbuh lebih baik. Siswi baru pun mengatakan, program ini memberikan motivasi tinggi.
Kelompok terakhir membahas tentang keluarga asuh atau yang disebut Grha. Setiap Grha diasuh oleh guru atau staf sekolah sebagai ibu asuh dan bapak asuh. Tujuannya untuk membimbing keseharian.
“Sistem ini sangat fundamental bagi sekolah dengan konsep boarding school karena bertugas sebagai tempat perlindungan, keamanan, serta pusat pembinaan karakter siswa,” jelas perwakilan kelompok.
Sistem Grha di SMA Bali Mandara juga berfungsi sebagai support system, meminimalisir terjadinya homesick karena siswa-siswi jauh dari rumah. Sistem ini juga bertujuan memutus rantai perundungan antara senior dan junior karena hubungan yang dibangun berbasis kekeluargaan.
Meskipun liputan KJW kali ini dilakukan di lingkungan sekolah, siswa-siswi SMA Bali Mandara ternyata dapat menghasilkan sudut pandang yang beragam.
Asha, salah satu peserta mengungkapkan, KJW menjadi tempatnya belajar menulis selayaknya seorang jurnalis. “Saya juga belajar menggali informasi dari narasumber,” ujar Asha.
Peserta lain pun mengungkapkan hal yang serupa ketika pembuatan video. “Saya bisa mengetahui bagaimana membuat artikel dan juga ada pengeditan video,” kata salah satu peserta.









