• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, October 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Mencari Kepastian di Tengah Antrean BBM

Tuningsih Haryati by Tuningsih Haryati
19 October 2026
in Kabar Baru, Opini
0
0

Oleh Tuningsih Haryati

Sejak Senin, 12 Oktober 2026, Bali menghadapi antrean panjang di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Di tengah situasi ini, pemerintah menyatakan bahwa stok BBM nasional masih aman. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut kendala distribusi sebagai salah satu dugaan penyebab antrean di Bali. Keterlambatan kapal dan kendala saat pembongkaran kargo juga disebut memengaruhi distribusi BBM (Violleta & Prayu, 2026).

Bagi masyarakat yang harus mengantre, pertanyaan praktisnya mungkin sederhana: jika stok nasional masih aman, mengapa BBM sulit didapatkan di sejumlah SPBU?

Saya tergabung di sebuah komunitas Trading Card Game (TCG) di Denpasar. Biasanya, obrolan di grup berkisar pada kartu apa yang bagus untuk dimasukkan ke dalam deck atau transaksi jual beli kartu. Namun, belakangan ini, topik pembicaraan kami ikut berubah. Kami mulai bertanya: SPBU mana yang masih memiliki stok BBM dan antreannya tidak terlalu panjang? Bagaimana kondisi antrean di SPBU tertentu? Jam berapa sebaiknya mengantre?

Salah satu teman kami yang tinggal di Surabaya juga bercerita bahwa stok BBM di sana mulai menipis dan antrean di SPBU setempat mulai terlihat. Antrean panjang untuk mendapatkan Pertalite juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Surabaya, Blitar, Malang Raya, hingga Jember (Rinanda, 2026). Ternyata bukan hanya Bali yang mengalami isu ini.

Saya sendiri bukan orang yang sering bepergian. Dalam seminggu, saya mungkin hanya keluar rumah pada akhir pekan untuk bermain TCG atau mengikuti sesi Dungeons and Dragons (D&D). Seharusnya, isu BBM bukan sesuatu yang perlu terlalu saya pusingkan. Toh, sebagian besar aktivitas saya berlangsung di rumah. Saya tidak memiliki kebutuhan bepergian sesering teman-teman yang bekerja di luar rumah.

Namun rupanya saya ikut merasa resah.

Efeknya terasa seperti domino: ketika BBM sulit didapatkan, layanan ojek daring atau ojol bisa ikut terdampak. Ketika ojol semakin sulit ditemukan, saya jadi kesulitan bepergian. Lama-lama, terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah juga membuat saya suntuk. Itu baru dampak yang saya rasakan sebagai orang yang jarang bepergian. Bagi mereka yang harus bepergian setiap hari, situasinya bisa berbeda. Waktu perjalanan bertambah karena kemacetan, sementara antrean BBM di sejumlah SPBU dapat meluber hingga memakan sebagian badan jalan. Perjalanan yang lebih panjang berpotensi menambah kelelahan fisik maupun psikologis, sehingga aktivitas setelah tiba di tujuan pun bisa ikut terdampak.

Di tengah kelelahan tersebut, kita juga harus menghadapi ketidakpastian. Tidak ada yang tahu pasti kapan pasokan akan kembali normal dan kapan kita tidak perlu lagi mengantre sejak dini hari. Bagaimana jika besok situasinya belum membaik? Bagaimana jika kelangkaan ini berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan? Bagaimana jika muncul dampak lain yang belum sempat kita antisipasi?

Ketidakpastian seperti ini mungkin dirasakan oleh banyak orang di Bali. Setidaknya, saya merasakannya sendiri.

Dalam psikologi sosial, terdapat konsep Need for Cognitive Closure (NfCC), yaitu kebutuhan untuk memperoleh jawaban yang jelas dan mengakhiri ketidakpastian (Kruglanski & Webster, 1996). Konsep ini menawarkan salah satu cara untuk memahami mengapa, ketika situasi sulit diprediksi, kita terdorong mencari informasi mengenai apa yang terjadi, apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dan apa yang sebaiknya kita lakukan. Ketika jawaban atas pertanyaan tersebut belum tersedia, kita bisa merasa gelisah.

Kebutuhan untuk memperoleh kepastian dapat berbeda antara satu orang dan orang lain, bergantung pada situasi yang dihadapi. Ketika sedang lelah, terburu-buru, atau berada di bawah tekanan, misalnya, kita mungkin semakin ingin segera menemukan jawaban yang dapat dijadikan pegangan. Dalam situasi antrean BBM, kita mencari informasi dari berita, percakapan grup, atau teman yang baru saja mendapatkan BBM. Kita ingin mengetahui SPBU mana yang masih memiliki stok, bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan juga untuk merencanakan aktivitas sehari-hari.

NfCC juga berkaitan dengan kecenderungan seseorang untuk segera memperoleh jawaban dan mempertahankan kesimpulan yang sudah terbentuk. Dalam literatur, kedua proses ini dikenal sebagai seizing dan freezing (Kruglanski & Webster, 1996). Seizing adalah kecenderungan untuk segera memperoleh atau membentuk jawaban yang dianggap memadai ketika menghadapi ketidakpastian (Roets et al., 2015). Dalam situasi kelangkaan BBM, misalnya, seseorang mendengar kabar bahwa stok di SPBU dekat rumahnya sudah habis. Karena ingin segera menentukan langkah berikutnya, ia langsung menjadikan kabar tersebut sebagai dasar untuk mencari SPBU alternatif, meskipun belum mengetahui apakah informasi itu masih akurat atau apakah ada informasi lain yang perlu dipertimbangkan.

Sementara itu, freezing adalah kecenderungan untuk mempertahankan kesimpulan yang telah terbentuk, sehingga seseorang menjadi kurang terbuka terhadap informasi baru yang dapat mengubah pandangannya (Roets et al., 2015). Misalnya, seseorang yang sebelumnya meyakini bahwa BBM akan semakin langka mungkin tetap berpegang pada keyakinan tersebut meskipun kemudian menerima informasi mengenai pemulihan pasokan. Ia bisa saja meragukan informasi baru itu atau menganggapnya belum cukup meyakinkan untuk mengubah pandangannya.

Tentu saja, keputusan untuk segera mencari SPBU lain tidak otomatis menunjukkan mekanisme seizing, sebagaimana sikap berhati-hati terhadap kabar pemulihan pasokan tidak otomatis menunjukkan mekanisme freezing. Keduanya merupakan contoh untuk membantu memahami konsep, bukan cara untuk menilai kondisi psikologis seseorang. Tidak setiap pencarian informasi menunjukkan tingginya NfCC. Seseorang yang mencari lokasi SPBU alternatif, misalnya, mungkin hanya sedang memenuhi kebutuhan praktis. Bagaimanapun, keputusan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keadaan pasokan yang sebenarnya, pengalaman sebelumnya, kebutuhan sehari-hari, dan keandalan informasi yang diterima.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan di tengah situasi seperti ini?

Informasi yang jelas dan konsisten menjadi penting. Masyarakat perlu mengetahui kondisi pasokan BBM, perkembangan distribusi, serta lokasi yang masih memiliki stok apabila informasi tersebut tersedia. Jika memungkinkan, pembaruan juga perlu disertai perkiraan waktu pemulihan yang realistis. Ketika informasi tidak tersedia atau berubah-ubah, masyarakat akan lebih sulit menentukan langkah yang perlu diambil. Sebaliknya, informasi yang akurat dan disampaikan secara konsisten dapat membantu masyarakat merencanakan aktivitas dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Informasi saja tentu tidak akan menyelesaikan persoalan apabila kendala distribusi masih berlangsung. Namun, masyarakat setidaknya membutuhkan informasi yang dapat dipercaya untuk memahami situasi yang sedang dihadapi. Kita mungkin tidak selalu bisa memperoleh kepastian tentang kapan keadaan akan kembali normal, tetapi kita tetap membutuhkan penjelasan yang jujur mengenai apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang diupayakan.

Sementara itu, masalah BBM ini sedikit demi sedikit mulai mengubah kebiasaan teman-teman saya. Salah satu teman di komunitas mulai memikirkan bagaimana mengambil pakaian dari laundry sekaligus pergi potong rambut ketika kedua tempat tersebut tidak searah. Ada pula yang meminta tumpangan untuk mengikuti turnamen dan disanggupi oleh teman lainnya, tetapi ia tidak bersedia mengebut. Nanti boros bensin, katanya. Bahkan, ada yang berkelakar ingin membeli kuda supaya tidak harus mengantre di SPBU. Cerita-cerita ini memang anekdotal. Saya tidak bisa menggunakannya untuk menyimpulkan bagaimana seluruh masyarakat Bali merespons situasi ini. Namun, cerita tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan BBM dapat merembet ke keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang bagaimana kita berusaha menghemat BBM di kendaraan masing-masing. Kita juga tengah menyesuaikan diri dengan keadaan yang belum sepenuhnya bisa diprediksi. Meskipun kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi, kita berhak memperoleh informasi yang akurat dan konsisten agar dapat memahami situasi dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Referensi

CNN Indonesia. (2026, 14 Oktober). Fakta-fakta antrean BBM di SPBU Bali. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20261014101218-85-1415097/fakta-fakta-antrean-bbm-di-spbu-bali

Kruglanski, A. W., & Webster, D. M. (1996). Motivated closing of the mind: “Seizing” and “freezing.” Psychological Review, 103(2), 263–283. https://doi.org/10.1037/0033-295X.103.2.263

Rinanda, H. M. (2026, 16 Oktober). Panjangnya antrean warga berburu Pertalite langka di Jatim. detikJatim. https://www.detik.com/jatim/bisnis/d-8709154/panjangnya-antrean-warga-berburu-pertalite-langka-di-jatim

Roets, A., Kruglanski, A. W., Kossowska, M., Pierro, A., & Hong, Y.-Y. (2015). The motivated gatekeeper of our minds: New directions in need for closure theory and research. In J. M. Olson & M. P. Zanna (Eds.), Advances in Experimental Social Psychology (Vol. 52, pp. 221–283). Academic Press. https://doi.org/10.1016/bs.aesp.2015.01.001

Violleta, P. T., & Prayu, M. C. G. (2026, 14 Oktober). Bahlil sebut antrean BBM di Bali karena distribusi. ANTARA News Bali. https://bali.antaranews.com/berita/415593/bahlil-sebut-antrean-bbm-di-bali-karena-distribusi

Profil penulis

Tuningsih Haryati adalah lulusan Magister Ilmu Psikologi peminatan Psikologi Sosial Universitas Indonesia. Saat ini sedang sibuk bermain Trading Card Game sambil mengamati situasi sosial di Bali dan Indonesia.

Tags: antrean BBM baliBBM di bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Tuningsih Haryati

Tuningsih Haryati

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pemerintah Lalai, Bali Digerakkan Daily Worker dan Kini Harus Begadang Massal untuk BBM

Mencari Kepastian di Tengah Antrean BBM

19 October 2026
Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

18 October 2026
Menyatu di Titik Nadir: Catatan dari Aksi Kamisan Bali ke-73 

Menyatu di Titik Nadir: Catatan dari Aksi Kamisan Bali ke-73 

17 October 2026
Transisi ke Kendaraan Listrik adalah Wacana Kapitalistik ?

Pulau Wisata dengan Pasokan Rapuh: Analisis Kapitalisme atas Kelangkaan BBM di Bali

16 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia