• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Mencegah Pandemi dengan Mengurangi Laju Deforestasi

Tude Guna Suara by Tude Guna Suara
19 September 2020
in Kabar Baru, Opini
0
0
Sumber Foto : Amman/CDC

Mari bicara bagaimana mengurangi deforestasi dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pandemi di kemudian hari.

Luas hutan di seluruh dunia mencapai 3,999 miliar hektar (ha), menutupi sekitar 30,6 persen daratan di Bumi. Dalam setahun, dunia kehilangan 3,3 miliar ha hutan. Lebih dari seperempat (27 persen) dari total hutan yang hilang tersebut disebabkan oleh deforestasi untuk kegiatan produksi komoditas manusia. Bumi kini hanya memiliki sekitar 40 persen hutan yang berkondisi baik.

Di tengah perluasan teknologi yang sangat masif, di sisi lain hutan kita makin menyempit dan memburuk kondisinya. Deforestasi nampaknya memegang peranan penting akan fenomena ini.

Deforestasi sederhananya adalah penebangan hutan. Definisi deforestasi juga tercantum dalam  Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P.30/Menhut II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD) yang dengan tegas menyebutkan bahwa deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Deforestasi terjadi ketika areal hutan ditebang habis dan diganti dengan bentuk penggunaan lahan lainnya. Istilah lain deforestasi adalah penggundulan hutan yang biasanya dilakukan untuk mengubah fungsi lahan menjadi fungsi lain, seperti pertanian, peternakan, atau permukiman.

Deforestasi besar-besaran dapat menghasilkan lahan yang luas untuk produksi komoditi manusia, pun menyebabkan dampak buruk yang besar-besaran juga pada kehidupan manusia. Dampak deforestasi pada alam mengarahkan kita pada pemanasan global dan bencana-bencana alam lainnya seperti banjir, kekeringan, punahnya hewan beserta tumbuhan dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan suatu wabah penyakit yang mendunia (pandemi).

Satu hal yang menjadi perhatian banyak peneliti beberapa tahun terakhir ini adalah hubungan deforestasi dengan pandemi. Di tengah pandemi COVID19 ini, tidak sedikit ilmuwan yang mencoba menjelaskan bahwa deforestasi merupakan faktor risiko terjadinya pandemi di kemudian hari.

Berdasarkan penyebab penularannya, penyakit dibagi menjadi beberapa jenis, dan salah satunya adalah penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis sederhananya adalah penyakit yang ditularkan hewan pada manusia. Sekitar 60% dari penyakit menular yang menjangkiti manusia adalah penyakit yang berjenis zoonosis.

SARS dan MERS yang sebelumnya pernah mewabah adalah contoh penyakit zoonosis. Bahkan virus SARS-CoV-2 yang menimbulkan penyakit Covid-19 juga diduga kuat  ditularkan dari hewan ke manusia.

Deforestasi akan menghancurkan habitat asli dari hewan-hewan liar yang sebelumnya hidup di dalam hutan dan mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati. Keaadan ini seringkali menyebabkan terjadinya perpindahan pathogen penyakit dari spesies yang punah ke spesies lainnya.

Perlu diketahui bahwa pathogen penyakit ada dalam dan di sekitar kita. Begitupun pada hewan-hewan yang ada di hutan sana. Meningkatnya interaksi manusia dengan hewan liar dapat meningkatkan risiko terjadinya perpindahan pathogen penyakit dan menimbulkan penyakit zoonosis.

Saat manusia mulai tertular penyakit zoonosis sampai pada penyakit tersebut mampu beradaptasi dan nantinya dapat menular dari manusia ke manusia. Kondisi inilah yang kita patut waspadai bersama. Walaupun tidak semua penyakit zoonosis nantinya dapat menjadi pandemi, tapi apa salahnya untuk memperkecil kemungkinan terjadinya pandemi dengan mengurangi deforestasi?

Langkah-langkah strategis seperti meregulasi dengan baik tentang pemanfaatan lahan hutan, mengurangi deforestasi, memonitoring perdagangan hewan liar dan mengurangi konsumsi daging hewan liar sangat disarankan oleh ilmuwan.

Langkah pencegahan ini sempat diulas oleh studi yang di publikasikan sciencemag dengan judul “Ecology and economics for pandemic prevention” menyatakan bahwa lebih sedikit biaya yang dikeluarkan ketika mencegah pandemic daripada saat menanggulanginya, studi kasus yang digunakan adalah pandemi Covid-19.

Deforestasi dan pandemi awalnya nampak masih sedikit abu-abu. Kini peneliti-peneliti diseluruh dunia tengah mencoba menerangkan keabu-abuan ini dan menyarankan suatu langkah pencegahan, bagaimana mencegah pandemi dengan mengurangi deforestasi. [b]

kampungbet
Tags: COVID-19DeforestasihealthLingkunganPandemi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Tude Guna Suara

Tude Guna Suara

Pemula dalam epidemiologi

Related Posts

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Sorrow dan Kelindan Teks yang Melingkupinya

Sorrow dan Kelindan Teks yang Melingkupinya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia