• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, December 16, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Memupuk Kesadaran Diri, Merintis Usaha Produk Berkelanjutan

Gita Andari by Gita Andari
4 November 2025
in Kabar Baru, Lingkungan
0 0
0

Mendukung produk berkelanjutan bukan hanya soal memilih label tertentu di kantong belanja, tetapi menjadi bagian dari perubahan budaya yang jauh lebih besar. Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa, namun tanpa cara produksi yang bertanggung jawab, eksploitasi menjadi jurang masa depan.

Pria duduk di tangan mereka, memegang bibit di tanah kering dan melihat ke langit. (jcomp/freepik)

Perjalanan menuju brand berkelanjutan memang tidak murah. Boemi Botanicals merupakan sebuah brand lokal Bali yang berangkat dari kegelisahan pendirinya karena melihat kerasnya pekerjaan yang banyak digeluti perempuan Bali, terutama di sektor-sektor yang secara fisik cukup berat.

Boemi kemudian dikembangkan sebagai simbol “Ibu Bumi” yang merepresentasikan gagasan tentang perempuan dan alam sebagai dua elemen yang sama-sama perlu dipelihara. Awalnya, brand ini hendak bergerak di bidang fesyen. Namun setelah banyak diskusi, fokusnya mengerucut pada produk-produk alami yang dekat dengan keseharian, khususnya produk perawatan diri. Boemi mencoba menawarkan alternatif yang bermakna dengan produk natural dengan bahan-bahan lokal yang aman. 

“Ini sebenarnya salah satu cara kecil dari kami untuk memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Dengan menggunakan bahan-bahan natural, limbah yang dihasilkan juga jauh lebih aman,” ujar Ribka Anastasia selaku Manager Boemi Botanicals.

Selain fokus pada bahan natural, Boemi juga mencoba mendorong perubahan praktik konsumsi. Salah satu langkahnya adalah menyediakan produk isi ulang (refill). Pengalaman personal menjadi pemicu, karena keprihatinan terhadap betapa banyaknya kemasan kosong yang terbuang setiap kali seseorang membeli produk perawatan diri.

Kisah lain juga hadir dari Dian Sonnerstedt, seorang content creator, ecopreneur & founder Bodega Ubud. Ia menjelaskan bahwa seorang ecopreneur adalah pelaku usaha yang menjalankan bisnis dengan pendekatan eco-conscious, yang berarti kesadaran untuk melihat dampak setiap keputusan bisnis terhadap bumi.

Sebagai contoh, Dian menyebut bahwa di kafenya, ia sama sekali tidak menjual air mineral dalam kemasan. Ia juga berusaha mengolah sampah organik sendiri. Selain itu, Dian menyoroti tantangan dari sebuah perusahaan pengolah sampah organik di Ubud yang dikelola oleh anak-anak muda lulusan biologi. Saat ini mereka tengah kesulitan menjalankan bisnisnya karena masalah lahan. Kedepan Dian berharap pemerintah memiliki kapasitas lebih besar untuk mendukung para pelaku usaha di sektor persampahan. “Saya punya harapan bahwa pemerintah punya kemampuan untuk mensupport pelaku bisnis di bidang sampah,” jelas Dian. 

Sebagai seorang yang rutin membuat konten untuk publik, Dian memahami betul bagaimana pengaruh dapat bekerja. Menurut Dian, cara terbaik mengajak masyarakat beralih ke produk dan praktik berkelanjutan adalah melalui contoh nyata. Bukan dengan sekadar kampanye atau ajakan kosong, melainkan dengan menunjukkan konsistensi dalam perilaku sehari-hari. “Oke, gimana caranya meng-influence orang untuk menggunakan produk kita? Sebenarnya ya kasih contoh dulu. Kalau kita teriak ke mana-mana tapi kita sendiri tidak melakukannya, itu ibarat tong kosong nyaring bunyinya,” ujarnya.

Kisah-kisah dari pelaku usaha seperti Boemi Botanicals dan Dian Sonnerstedt menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan keberanian. Namun langkah individu tidak cukup tanpa dukungan sistemik, dari pemerintah, pelaku usaha, hingga konsumen. Di tengah krisis iklim dan tekanan terhadap alam, pilihan-pilihan yang kita buat hari ini akan menentukan seperti apa bumi, dan negeri ini dihuni generasi berikutnya.

Indonesia tak salah disebut negeri kaya akan hasil alam. Beberapa komoditas bernilai tinggi yang tumbuh luas dan punya potensi berkelanjutan seperti kelapa sawit (palm oil), kakao, kopi, karet alam, dan kayu (timber/hasil hutan) tumbuh subur di negeri Khatulistiwa. 

Komoditas-komoditas tersebut penting dalam neraca ekspor nasional. Namun, di balik angka-angka itu, sering muncul cerita eksploitasi lahan, penggusuran hutan, dan konflik sosial yang mengiris. Studi dari Stockholm Environment Institute (SEI) menunjukkan menunjukkan bahwa ekspansi perkebunan sawit di Indonesia telah menjadi salah satu penyebab utama deforestasi sejak dua dekade terakhir, di mana sekitar 3 juta hektar hutan alam tua hilang karena konversi lahan ke perkebunan sawit. Selain itu produksi sawit juga berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca (GHG), terutama dari pengeringan lahan gambut serta kebakaran lahan/pengeringan. 

Kemudian temuan dari Forest Watch Indonesia (FWI) menunjukkan bahwa konflik agraria akibat perkebunan sawit meningkat tajam, dengan 67% dari total konflik agraria di Indonesia pada 2024 disebabkan oleh ekspansi sawit, yang berdampak pada 127.281 hektare lahan dan 14.696 keluarga, serta memicu kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani.

Mengapa Penting Mendukung Produk Berkelanjutan?

Sederhana saja, produk berkelanjutan sebetulnya berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap alam dan manusia sambil menjaga produktivitas jangka panjang. Untuk komoditas tani, ini berarti praktik yang menghormati siklus alami, dan memastikan hak-hak pekerja serta masyarakat adat dihormati. 

Saat kita bicara soal keberlanjutan, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti apa yang kita makan, apa yang kita pakai, dan bagaimana industri memproduksi barang-barang yang kita konsumsi. Kenyataannya, hampir semua sektor industri bergantung pada bahan baku yang berasal dari alam.

Mulai dari minyak goreng, produk kecantikan seperti sabun, sampo, furnitur kayu di ruang tamu, hingga makanan dan minuman yang kita beli di supermarket, semua itu bahan awalnya dari komoditas alam. Selama industrialisasi terus berjalan, selama populasi dunia terus bertambah, konsumsi pun ikut melonjak. Artinya, cara kita mengambil, mengolah, dan menggunakan komoditas alam akan sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, ekosistem, dan kualitas hidup manusia. 

Seperti yang diutarakan oleh Samuel Pablo dari WWF (World Wide Fund for Nature), pergeseran menuju komoditas berkelanjutan terjadi karena masyarakat, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain, semakin menyadari bahwa seluruh aktivitas industri membutuhkan bahan baku yang pada dasarnya berasal dari alam. “Maka apa yang kita konsumsi, bagaimana industri dan ekonomi kita bergerak sehari-hari, itu akan sangat berpengaruh kepada upaya untuk menyelamatkan aneka ragam hayati, spesies-spesies langkan dan satwa yang ada di darat maupun di laut,” jelasnya (30/11).

Menurut Pablo, “berkelanjutan” berarti suatu komoditas diproduksi dengan cara yang menghargai dan melindungi alam. Produksi tersebut tidak merusak lingkungan, baik hutan, lahan gambut, maupun ekosistem darat lainnya, serta tidak menyebabkan deforestasi. Dalam konteks perikanan, keberlanjutan berarti hasil laut tidak diambil dengan metode penangkapan yang merusak atau mengancam kelestarian ekosistem laut.

Bagaimana Mengenali Produk Berkelanjutan? 

Dukungan pasar untuk produk berkelanjutan juga memengaruhi insentif, ketika konsumen memilih produk yang bersertifikat, industri punya alasan ekonomi untuk menerapkan praktik lebih ramah lingkungan. Dengan sinyal tersebut, pasar dapat mengalami tekanan dan berupaya mengurangi praktik yang mengambil dari alam dengan serampangan, serta mulai melakukan produksi jangka panjang.

Eko-label (ecolabel) adalah tanda atau logo pada produk yang menunjukkan kepatuhan pada standar lingkungan atau sosial tertentu, mulai dari penggunaan bahan baku yang bertanggung jawab, proses produksi ramah lingkungan, hingga jaminan hak tenaga kerja. Eko-label membantu konsumen melacak klaim keberlanjutan, bukan sekedar hijau di kemasan, tetapi bukti audit dan verifikasi dari pihak ketiga. Ada banyak jenis eko-label dengan fokus dan kriteria berbeda, dari aspek hutan, pertanian, hingga etika perdagangan.

Beberapa eko-label dan sertifikasi yang umum di komoditas berkelanjutan seperti:

  • RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil): merupakan label yang dicantumkan pada produk-produk dari minyak sawit yang berkelanjutan, seperti pada minyak goreng, sabun, hingga snack/makanan.
  • ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil): sama seperti RSPO, ISPO merupakan sertifikasi yang diinisiasi oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa semua pihak pengusaha kelapa sawit memenuhi standar pertanian yang diizinkan.
  • FSC (Forest Stewardship Council) dan Rainforest Alliance: label yang fokus pada praktik pertanian yang melindungi hutan dan kesejahteraan petani dan sering muncul pada produk kayu, produk kopi, kakao, dan teh.
  • SVLK (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu): sistem pelacakan untuk memastikan produk kayu yang beredar di Indonesia berasal dari sumber yang sah dan legal. Dibuat oleh pemerintah Indonesia. Yang artinya semua produk kayu yang diekspor dari Indonesia ke luar negeri harus bersertifikasi FSC.
  • Fairtrade: merupakan suatu eko label yang fokus eh lebih kepada bagaimana perusahaan perkebunan tersebut menghormati hak-hak masyarakat adat di tempatnya beroperasi, lalu juga menghargai hak-hak pekerja di di dalam seluruh rantai pasokannya.
  • ASC (Aquaculture Stewardship Council) dan MSC (Marine Stewardship Council): merupakan dua sertifikasi eko label untuk produk perikanan. MSC fokus pada perikanan tangkap, yang diambil langsung di laut. Sementara sertifikasi ASC adalah untuk perikanan yang dibudidayakan.

Mengutip laman IESR (Institute for Esential Service Reform), pada tahun 2024, baru terdapat 44 perusahaan dari 19 komoditas yang sudah ditetapkan memperoleh sertifikat industri hijau sebagai implikasi dari upaya penurunan emisi pada proses industri. Angka ini menunjukkan bahwa adopsi praktik industri berkelanjutan masih berada pada tahap awal. Karena itu, mendorong perluasan dan percepatan pertumbuhan industri hijau menjadi langkah yang penting, baik untuk memenuhi target penurunan emisi nasional maupun memastikan bahwa proses produksi komoditas tidak lagi bergantung pada praktik yang merusak lingkungan dan memicu konflik sosial.

Kisah-kisah Pengusaha Berkelanjutan Lokal
Talkshow Walk the Talk with WWF-Indonesia, Denpasar (30/11/2025)

Tags: responsible productusaha berkelanjutan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gita Andari

Gita Andari

Related Posts

No Content Available
Next Post
Resensi Buku: Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan

Resensi Buku: Disabilitas dan Narasi Ketidaksetaraan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia