• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Memimpikan Ruang Publik Ramah Warga

Anton Muhajir by Anton Muhajir
21 May 2010
in Agenda, Budaya, Kabar Baru, Sosial
0
0
Ruang Publik di Denpasar Bali

Teks dan Foto Ilustrasi Anton Muhajir

Di titik nol Denpasar, warga kota ini memimpikan ruang publik ramah warga.

Duduk di trotoar, sekitar 30 orang mendiskusikan perlunya ruang publik di Denpasar Kamis malam kemarin. Suara dua pembicara, kartunis Kadek Jango Paramartha dan kolumnis Made Sudira bersaing dengan ratusan kendaraan yang melewati kawasan Catur Muka Denpasar, tempat kegiatan diadakan.

Ketika saya sampai di lokasi, dua pembicara utama sudah selesaikan menyampaikan pikiran masing-masing. Jadi saya tidak bisa menemukan apa yang disampaikan dua pembicara itu. Tapi diskusi masih berlangsung dengan tanya jawab antara peserta dengan dua pembicara itu. Sayang karena suara mereka kalah dengan deru kendaraan lewat di Jalan Gajah Mada itu, saya tidak bisa mendengar apa pun perkataan mereka.

Setelah diskusi resmi selesai, sekitar pukul 9 malam, saya baru bisa tanya ke Saichu Anwar, Pengurus Yayasan Manikaya Kauci (YMK) yang menggagas diskusi tersebut.

Menurut Saichu, yang juga mantan aktivis mahasiswa angkatan 1998 ini, diskusi malam itu adalah awalan untuk menggagas adanya ruang publik yang bersahabat bagi warga. Meski sudah banyak ruang publik di Denpasar seperti alun-alun dan lapangan, menurut Saichu, ruang publik itu belum memenuhi kriteria ruang publik yang ideal.

Mengutip filsuf Jurgen Habermas, Saichu mengatakan bahwa ruang publik yang ideal adalah ruang publik yang tak hanya jadi tempat untuk bertemu tapi juga tempat beriteraksi antara warga dan pejabat. Idealnya, ruang publik itu tempat di mana warga bisa mendiskusikan masalah sehari-hari langsung dengan pejabat pemerintah.

Denpasar sendiri punya beberapa ruang publik seperti itu. Misalnya, Lapangan Puputan Badung, yang juga titik nol Denpasar. Di lapangan di depan Markas Kodam IX Udayana dan rumah jabatan Gubernur Bali ini warga bisa mengadakan kegiatan sehari-hari dari kegiatan pribadi sampai kegiatan bersama. “Tapi kan warga belum memilikinya. Ruang publik seperti Lapangan Puputan Badung masih dikuasai negara,” kata Saichu.

Dia memberikan contoh. Kalau warga Denpasar mau mengadakan kegiatan, misalnya, warga harus minta izin dari Pemerintah Kota Denpasar yang sering kali berbelit-belit urusannya. Itu terjadi karena pemerintah merasa menguasai lapangan tersebut.

Kegiatan yang dilaksanakan pun, tambah Saichu, masih terbatas kegiatan tertentu seperti pertunjukan seni tradisional. Bentuk kesenian kontemporer atau kegiatan selain seni budaya masih sulit mendapat izin.

Ruang publik lain yang bisa digunakan di Denpasar adalah Taman Kota Denpasar di lapangan Lumintang, Denpasar Utara. Lapangan ini sebenarnya bagus. Luas. Tapi belum banyak warga yang menggunakannya untuk keperluan selain olah raga.

Padahal ruang publik seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan apa saja tak hanya olah raga. Paling penting, di sana ada interaksi antara pejabat dengan warga. Jadi tak hanya digunakan saat kampanye ketika pejabat mencari simpati dan mengobral janji pada warga.

Tags: DenpasarDiskusiLingkunganNGOSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Next Post
Enaknya Layanan Kereta Api di Bali, eh, Belanda

Enaknya Layanan Kereta Api di Bali, eh, Belanda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Hindari Penggunaan Bahan Ini dalam Banten

8 June 2026
Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

7 June 2026

Menepi Sejenak di Serayu Pottery Ubud 

6 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia