Mematangkan Bali sebagai Destinasi Kreatif

Insan kreatif Bali yang tergabung dalam Bali Creative Community (BCC) akan kembali saling berinteraksi dan berkolaborasi dalam perhelatan tiga hari Bali Creative Festival (BCF) 2011. Kegiatan tiga hari ini akan diadakan di kawasan Inna Grand Bali Beach Sanur, Denpasar pada 25-27 November nanti.

Mengambil tema A (journey to) Bali Creative Destination (ABCD), BCF tahun ini bertujuan untuk semakin mematangkan Bali sebagai destinasi kreatif di Indonesia. Tema ini tergambar dalam tiga panggung utama selama festival, yaitu Panggung Kreatif, Display Kreatif dan Bincang Kreatif. Tiga panggung utama ini akan diisi oleh insan-insan kreatif yang terbagi lagi dalam tiga kategori, yaitu talenta masa depan atau pendatang baru, ikon yang sedang naik daun atau diminati, serta maestro atau senior.

Komunitas-komunitas kreatif dan seni juga mendapat prioritas menjadi peserta pada BCF 2011. Beberapa ikon kreatif nasional diajak mendorong BCF 2011, demikian pula beberapa insan kreatif mancanegara diundang menjadi nara sumber workshop, talkshow ataupun seminar yang memiliki dimensi pengkayaan terhadap penciptaan kreativitas berkelanjutan yang dicita-citakan.

Menurut Rudolf Dethu, Wakil Ketua Panitia, BCF 2011 akan menekankan pada terbentuknya kolaborasi dan jejaring kreatif di Bali serta pemberdayaan karya kreatif mereka. “Kolaborasi ini penting untuk tak hanya mendorong munculnya produk-produk kreatif baru buatan Indonesia tapi sekaligus meningkatkan inovasi dan kualitas sehingga memiliki nilai dan daya saing tinggi,” ujar Dethu.

Dethu menambahkan, Tugas BCF adalah memaksa kreativitas menjadi nilai berkelanjutan dan ekonomi melalui penciptaan wahana pembelajaran, jaringan dan dialog, memupuk minat dan bakat, mendukung kolaborasi serta mengampanyekan penciptaan produk fungsional, berkualitas dan memiliki estetika (design for value). Dengan demikian, Bali tak hanya akan dikenal sebagai destinasi pariwisata tapi juga destinasi kreatif.

Eksploitasi
Kondisi aktual, saat ini Bali tengah dirongrong eksploitasi fisik nyaris tanpa batas. Namun, Bali mulai menuai akumulasi degradasi lingkungan hidup. Denpasar dan Badung seperti dipaksa menjadi metropolis namun infrastruktur perkotaannya masih dengan identitas “Bali sebagai desa besar”.

Menurut Dethu, daya tampung Pulau Bali jelas terbatas sementara kepungan pengembangan fisik mengabaikan itu. Bila sebelumnya komoditas Bali adalah produk seni, kini telah tergeser posisinya oleh properti. “Insan kreatif Bali terutama yang bersinggungan dengan industri turisme harus menyadari penghambaan pada eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan,” ujarnya.

BCF menjadi ajakan untuk mencari cara alternatif membuat kehidupan lebih baik. Caranya dengan memaksimalkan pengembangan potensi manusia, seni, budaya dan alam. “Intinya adalah mengeksplorasi, bukan lagi mengeksploitasi,” tambah mantan manajer band punk asal Bali Superman is Dead ini.

Konsep dan tema BCF 2011 ini akan digambarkan dalam penataan ruangan yang sedemikian rupa agar terlihat menarik. Lokasi di Lapangan Bola Inna Grand Bali Beach kawasan Sanur dan sekitarnya adalah kombinasi ruang terbuka dan tertutup yang dikeliling pepohonan. Lokasi ini memerlukan space management yang baik dengan mengintegrasikan sequence antar-zona dan membuatnya menjadi alur yang dinamis bagi pengunjung festival.

Desainer Yoka Sara dan tim menerjemahkan tema “journey” menjadi spirit yang mengantar pengunjung memasuki wilayah-wilayah pembangunan emosi dimulai dari area kedatangan yang menggambarkan kekosongan hingga memasuki lorong panjang sebagai sebuah proses untuk mencapai puncak kreasi di area bagian dalam.

Pengintegrasian dengan menggunakan art/graphic installation atau penciptaan ruang display yang mengantar pengunjung pada zona berikutnya. Selanjutnya para pengunjung dapat memilih zona yang ada yaitu panggung utama, ruang pameran atau ruang komunitas yang menggambarkan ruang proses yang dinamis. [b]