
Angin musim semi di Berlin masih menyisakan dingin yang menusuk tulang ketika I Gede Yogi Sukawiadnyana dan I Gusti Nyoman Barga Sastrawadi mendarat di Eropa pada Mei 2024. Dua pemuda milenial dari pinggiran Bali ini tidak membawa oleh-oleh turis biasa; koper mereka penuh dengan perangkat elektronik rakitan, sementara di kargo pesawat, bilah-bilah bambu Jegog dari Jembrana dan lempengan perunggu Gendèr dari Karangasem berdesakan menanti giliran untuk “berbicara”.
Mereka datang bukan sebagai duta budaya yang manis, melainkan sebagai alkemis suara untuk sebuah eksperimen radikal bertajuk “Ocean Cage”. Di sinilah odisea panjang Kadapat dimulai—sebuah perjalanan yang akan menyeret mereka dari keriuhan distopia klub malam Eropa hingga keheningan meditatif panggung teater klasik Asia.
Pusaran Awal: Bau Amis dan Badai di Berlin
Babak pertama perjalanan ini dibuka dengan sebuah ledakan indrawi di HAU Hebbel am Ufer, Berlin. Di bawah arahan sutradara Tianzhuo Chen dan koreografer Siko Setyanto, panggung tidak lagi menjadi tempat yang berjarak. Kadapat menciptakan “pusaran sonik” di tengah ruangan yang diselimuti kabut asap dan lampu strobo yang menyilaukan.

Malam itu, penonton Berlin tidak duduk manis. Mereka berdiri, terombang-ambing dalam narasi tentang Lamalera—desa pemburu paus di Nusa Tenggara Timur. Yogi dan Barga menghajar gendang telinga dengan loop gamelan yang dicacah dan distorsi synth yang bengkok, sementara bau ikan yang digoreng langsung di atas panggung menyeruak, memaksa audiens menghirup aroma amis kehidupan nelayan yang keras. Itu adalah sebuah “interogasi ruang”; sebuah pernyataan bahwa tradisi tidak selalu anggun, terkadang ia berdarah dan berkeringat.
Namun, layaknya sebuah perjalanan laut, tidak semua pelabuhan ramah. Setahun kemudian, pada Maret 2025, kapal imajiner ini berlabuh di Bergen, Norwegia, untuk Borealis Festival. Di tengah cuaca Skandinavia yang membeku, “Ocean Cage” menghadapi ujian terberatnya.
Di venue Bergen Kjøtt, ritual yang liar itu berbenturan dengan dinding ekspektasi audiens Utara yang dingin. Upaya Kadapat memicu trance seolah tertahan oleh kursi-kursi penonton yang kaku. Kritikus setempat meradang, menyebut pertunjukan itu “membuat frustrasi” dan mempertanyakan batas tipis antara ritual otentik dan tontonan eksotis, terutama ketika sang penari meludah ke arah penonton. Itu adalah momen yang menyadarkan: mantra besi dan bambu mereka memiliki daya ledak, namun penerjemahannya ke dalam budaya asing adalah pertaruhan yang berisiko.
Mei 2025 menjadi titik balik. Seperti paus yang menyelam ke kedalaman untuk mencari ketenangan, Kadapat dan tim produksi melakukan metamorfosis saat tiba di Brussels untuk Kunstenfestivaldesarts.
Di kota ini, “Ocean Cage” menanggalkan kulit lamanya yang kacau dan lahir kembali sebagai “Moyang & Seaman”. Tidak ada lagi pusaran badai visual. Terinspirasi oleh teater Noh Jepang, panggung kini menjadi frontal dan hening. Yogi dan Barga, yang biasanya memacu adrenalin dengan dentuman industrial, kini menahan diri. Mereka menenun bunyi yang lebih introspektif, membiarkan ruang kosong di antara denting Gendèr berbicara lebih lantang daripada kebisingan. Di sinilah kedewasaan musikal mereka teruji; mereka membuktikan bahwa “ramé” (keramaian khas Bali) bisa bertransformasi menjadi sunya (kesunyian) tanpa kehilangan magisnya.
Dengan format baru yang lebih kontemplatif ini, paruh kedua tahun 2025 menjadi musim panen bagi Kadapat. Angin membawa mereka ke Lisbon pada bulan September, membuka BoCA Biennial di negara yang, seperti Lamalera, memiliki jiwa yang terikat pada laut. Narasi tentang perburuan dan leluhur menemukan resonansi puitisnya di tepian Atlantik.
Oktober menjadi bulan maraton. Dari Lisbon, mereka terbang ke Timur, mendarat di Shanghai—tanah kelahiran sang sutradara—sebelum kembali membelah langit menuju Munich dan kembali ke Berlin. Di HAU, tempat segalanya bermula setahun sebelumnya, mereka kembali bukan sebagai eksperimen yang meledak-ledak, melainkan sebagai pertunjukan yang matang dan meditatif.

Dermaga Terakhir: Penasbihan di Utrecht.
Odisea ini mencapai puncaknya di Utrecht, Belanda, pada November 2025. Di festival Le Guess Who? yang dikenal sebagai kiblat musik eksperimental dunia, Kadapat tidak lagi sekadar “pengiring”. Di hadapan ribuan pasang mata, bambu dari Jembrana dan besi dari Karangasem berdiri sejajar dengan avante-garde global.
Perjalanan Kadapat dengan “Ocean Cage” adalah sebuah bukti bahwa identitas hibrida anak muda Bali—yang fasih membaca lontar sekaligus merakit synthesizer—mampu menaklukkan samudra. Dari bau amis ikan di Berlin hingga keheningan Noh di Brussels, Yogi dan Barga telah menunjukkan bahwa tradisi bukanlah jangkar yang menahan mereka di masa lalu, melainkan layar yang membawa mereka mengarungi masa depan. Akankah tahun ini mereka menyempatkan diri untuk menepi kembali tampil di Denpasar?
sangkarbet sangkarbet gimbal4d gimbal4d






