• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Krisis Air dan Sampah Bali di Festival Sastra UWRF

Diah Dharmapatni by Diah Dharmapatni
21 November 2017
in Kabar Baru, Lingkungan
0
1
Sesi Stressing the Source di UWRF17

Forum Sastra Ubud Writers and Readers 2017 juga mendiskusikan isu lingkungan di Bali.

Hujan gerimis mengiringi perjalanan saya ke Ubud. Rencananya ingin mengikuti salah satu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2017 (UWRF17) yang baru mulai hari ini, Kamis, 26 Oktober 2017.

Saya agak kesal, malas hujan-hujanan. Tapi kini sudah setengah jalan. Jika kembali ke Denpasar, waktu 30 menit ini terbuang sia-sia. Kalaupun melanjutkan perjalanan, rasanya kok malas.

Setelah perdebatan dalam hati beberapa menit, akhirnya saya memutuskan berhenti sejenak dan memakai jas hujan. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Ubud, sambil berharap hujan reda sesampainya di lokasi acara.

Saya tidak memiliki rencana akan hadir pada sesi yang mana di UWRF17. Bukannya saya tak tertarik. Tapi, justru karena saking banyaknya sesi menarik yang jadwalnya bersamaan. Akhirnya saya memilih sesi Stressing the Source di Museum Neka.

Sesi ini menekankan pada isu penyelamatan sumber daya alam yang semakin berkurang akibat perubahan iklim. Para pembicara yang hadir ialah Asana Viebeke Lengkong (pendiri komunitas filantropi I’m an Angel) dan Robert Crocker (sejarawan yang tertarik pada bidang lingkungan). Dene Mullen, Editor in Chief of Southeast Asia Globe magazine menjadi pemandu diskusi ini.

Jika berbicara tentang sumber daya alam, tentu tidak akan pernah habis. Tapi, sesi ini sejak awal telah mengerucut pada penyelamatan air dan pengelolaan plastik. Sebuah video dokumenter bertajuk Water, I’m With You menjadi pembuka. Video berdurasi sekitar tiga menit ini menampilkan pandangan seniman, aktivis dan warga tentang krisis air bersih di Bali.

“Bali sedang menghadapi krisis air, salah satunya karena gempuran pariwisata massal,” ungkap Viebeke.

Viebeke menyebutkan hotel dan sarana pariwisata yang banyak mengonsumsi air secara besar-besaran. Pernyataan Viebeke ini didukung oleh hasil penelitian Stroma Cole, peneliti dari University of the West of England. Pada hotel dengan harga kamar 400 USD, turis mengonsumsi rata-rata 2000 liter perhari.

Foto oleh Wirasathya Darmaja

Viebeke menambahkan, pariwisata pula yang mengenalkan plastik kepada masyarakat Bali. Sebelumnya, hanya daun pisang sebagai sarana pembungkus sesuatu, terutama makanan. Semenjak masyarakat Bali mengenal plastik, apapun terbungkus plastik.

Penyebabnya beragam. Plastik bukanlah barang mahal, bahkan mudah didapatkan secara gratis ketika berbelanja di warung hingga supermarket. Plastik dapat melindungi barang atau makanan dari kotoran atau air hujan. Plastik makin digemari karena menjadi suatu barang terlihat baru. Plastik adalah penemuan terbesar yang pernah ada.

“Saya sedang tidak mengajak Anda menghentikan penggunaan plastik. Kita harus mengelola penggunaannya,” jelas Viebeke.

Penggunaan plastik secara masif di Bali belum diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Sampah plastik masih menjadi masalah umum yang terjadi di mana-mana. Bahkan di desa terpencil pun ada plastik. Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah ini?

Viebeke menceritakan proyek perdana pengelolaan plastik yang pernah ia lakukan di sebuah desa, di Tabanan. Ia memberdayakan anak-anak untuk mengumpulkan plastik. Setiap 1 kilogram plastik, maka akan dibayar Rp 1.000 oleh perangkat desa dan ditambah lagi Rp 1.000 oleh I’m an Angel. Pada awalnya, semua anak bersemangat. Namun, energi mereka tak selamanya berkobar. Lalu, apa lagi caranya?

“Saya belajar dari pengalaman ini bahwa yang mereka butuhkan adalah edukasi (tentang plastik),” tutur Viebeke.

Edukasi yang dimaksud bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Robert Crocker menanggapi cerita Viebeke sembari menawarkan solusi. Robert mengungkapkan bahwa barang gratisan memang tidak memiliki nilai. Begitu pula dengan plastik. Menurutnya, masalah plastik harus diselesaikan bersama.

“Ada tiga komponen, pemerintah, regulasi dan ekonomi atau perusahaan. Ketiganya perlu bekerja sama untuk mengelola penggunaan plastik,” kata Robert.

Pernyataan Robert ini pun langsung ditanggapi Viebeke dengan sinis. Baginya, menggabungkan ketiga komponen itu masih sulit dilakukan. Berdasarkan pengamatannya selama ini, ada sebelas institusi yang terkait dengan bidang lingkungan tapi tak sekalipun pernah duduk bersama.

“Izin AMDAL (baca: Analisis mengenai dampak lingkungan) saja bisa dibeli,” tandas Viebeke.

Meski sulit menemukan solusi, selalu ada upaya dari mereka yang peduli. Inilah yang disampaikan oleh Robert sambil mengakhiri diskusi ini.

“Harus ada orang-orang yang tepat seperti Anda (sambil menunjuk Viebeke), untuk turut andil dalam menyelesaikan masalah ini,” tutur Robert.

Robert pun menyebutnya dengan istilah waste system atau sistem pengelolaan sampah. Jika memang ketiga komponen itu sulit bekerja sama, maka sistem ini boleh jadi solusi alternatif. Dalam sistem yang digagas Robert, dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu anggaran dan ahli yang mengelola sampah plastik. Solusi ini masih dapat dilakukan secara mandiri, maupun melibatkan pemerintah. Kini, persoalan berikutnya: mau atau tidak?

Sesi ini akhirnya mengingatkan saya pada krisis air, juga masalah plastik di Bali. Saya justru bersyukur atas hujan yang mengguyur Bali hari ini. Saya pun masih menggunakan jas hujan berbahan dasar plastik.

 

Tags: krisis air di balimasalah lingkungan di baliUWRF 2017
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Diah Dharmapatni

Diah Dharmapatni

Bekerja di bidang sains dan teknologi.

Related Posts

Krisis Air Bersih dari Kacamata Anak Muda

Krisis Air Bersih dari Kacamata Anak Muda

16 July 2025
Membangun Keadilan Gender melalui Akses Air dan Hukum

Membangun Keadilan Gender melalui Akses Air dan Hukum

27 February 2025
Visi Lingkungan Bali Manis di Regulasi

Visi Lingkungan Bali Manis di Regulasi

4 September 2024
Memahat Tebing Cadas, Upaya Leluhur Melindungi Daerah Aliran Sungai

Memahat Tebing Cadas, Upaya Leluhur Melindungi Daerah Aliran Sungai

3 April 2023
UWRF Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra Seluruh Dunia

UWRF Berhasil Mempersatukan Pencinta Sastra Seluruh Dunia

16 November 2017
UWRF 2017 Berikan Penghargaan untuk NH Dini

UWRF 2017 Berikan Penghargaan untuk NH Dini

26 October 2017
Next Post
Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga

Gunung Agung Meletus Tipe Freatik, Ini Rekomendasi untuk Warga

Comments 1

  1. El siregar says:
    8 years ago

    Banyak orang banyak sampah dan kemana perginya?
    Dibakar, buang ke sungai atau tinggalkan di tempat pembuangan yang sudah penuh. Dulu sungai banyak ikan dan orang berenang.
    Kini banyak sampah dan sarang penyakit. Mungkin sampah bisa digunakan untuk yang lain.
    Reuse. Reduce. Recycle dan re apalagi?

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia