• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 15, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Kolonialisme di Mata Lensa Jean Demenni

Anton Muhajir by Anton Muhajir
27 May 2014
in Agenda, Budaya, Kabar Baru
0 0
0

 

jean-demenni

Tak ada yang abadi selain kenangan. Dan foto mengabadikan kenangan itu.

Kenangan tersebut kini datang dari foto-foto karya Jean Demenni, fotografer pada masa kolonial Belanda. Karya-karya Jean dipamerkan di Rumah Topeng dan Wayang Setiadarma, Ubud.

Pembukaan pameran akan dilaksanakan pada Senin, 26 Mei 2014 pukul 5 sore. Pameran bertema Portrait of Life: Moves and Works, a collective memory of the past ini digelar hingga 26 Juni 2014 nanti.

Penyelenggara pameran adalah Kartini Collection. Sebelumnya, mereka telah memamerkan karya Jean Demenni melalui pameran Through Eyes of the Past pada Januari – Februari 2008 lalu di Jakarta. Jika pada pameran pertama fokus pada Jean, maka pameran kali ini lebih banyak menampilkan karya-karyanya.

Jean Demenni fotografer kelahiran Padang Panjang, Sumateri Barat pada akhir 1866. Ayahnya, Henri Demenni, warga Perancis yang bekerja untuk militer Belanda pada zaman itu.

Sejak menjadi fotografer pada 1894, setelah bergabung sebagai tentara, Jean bergabung dengan kelompok ilmuwan yang menjelajah Kalimantan. Karyanya hingga Perang Dunia II berakhir telah dipublikasikan di jurnal-jurnal ataupun buku pariwisata yang terbit di Belanda.

Jean menikah dengan Mas Sarinah, perempuan dari Desa Jamar, dekat Solo, Jawa Tengah. Dia meninggal di Bogor pada 1939, setahun setelah Peran Dunia Kedua mulai.

Sebagai orang Eropa yang lahir, besar, dan bahkan meninggal di Indonesia, Jean tak hanya melihat tapi juga memahami negeri ini dengan lensanya. Jean tak cuma ahli memotret tapi juga merekam wajah manusia, gerakan, dan ekspresi mereka.

Semua bisa dilihat dari 70 karya foto Jean yang dipamerkan di Rumah Topeng dan Wayang Setiadarma di Tegal Bingin, Ubud hingga sebulan ke depan.

Mona Lohanda, sejarawan dan kurator pameran, mengatakan pameran ini tak hanya untuk mengingatkan kehidupan ketika Indonesia masih menjadi negara jajahan tapi juga merevitalisasi banyak hal yang sekarang sudah telantar.

Secara tema, karya-karya hitam putih ini dibagi dalam tujuh tema yaitu The Sites, The Moves, The Works, The Artisans, The Schools, The Aristocrats and Colonial Bureaucracy, dan The Peopole and Faith. Masing-masing tema mencerminkan isi foto yang dipamerkan.

Dengan warna hitam putih, kesan tempo doeloe pada foto-foto ini langsung terasa. Tapi, yang lebih kuat justru pesan dalam tiap foto itu sendiri. Sangat menarik.

 

jakarta-bahuela
Jakarta Tua di daerah Pecinan antara 1890-an karya Jean Demenni. Sumber Katalog Pameran.

Good Lesson
Mari lihat pada bagian bertema The Sites. Ada 12 foto dari berbagai lokasi di Indonesia termasuk Kupang, Makassar, Kalimantan, Sumba, Jakarta, dan lain-lain. Tak melulu kota tapi juga desa-desa, misalnya di Garut, Jawa Barat atau Gunung Ijen, Jawa Timur.

Salah satu foto menarik pada bagian ini adalah suasana Kota Tua Jakarta. Foto ini memerlihatkan sungai di tengah kota dengan perahu-perahu melintas di airnya. Sungai terlihat hidup sebagai jalur transportasi lalu lintas pada masa itu.

Maka, benar apa yang disampaikan Mona Lohanda dalam kurasinya, “The past is a good lesson of wisdom and understanding.”

Pada masa lalu, kita bisa belajar bahwa dulunya, sungai menjadi jalur lalu lintas. Karena itu, sungai menjadi sesuatu yang ada di depan mata. Diperhatikan. Beda sekali dengan saat ini, di mana semua moda transportasi kota hanya berada di jalan raya. Sungai dilupakan, diabaikan, dan parahnya bahkan dicemarkan.

Melihat foto-foto Jean, kita juga bisa melihat kepedulian pemerintah kolonial pada kekayaan alam Indonesia saat itu, meskipun motifnya tentu saja untuk memperkaya para kompeni. Irigasi untuk pertanian dikelola dengan serius; penanaman pohon karet, kina, kopi, dan kakao dilaksanakan di pelosok desa; dan begitu pula dengan pengolahannya.

Semua mengingatkan tentang kekayaan negeri ini yang justru saat ini makin lama makin dilupakan.

Padahal, sejak zaman bahuela, orang-orang di pedalaman negeri ini pun telah memiliki teknologi sendiri. Ada, misalnya dalam bagian The Artisans, orang-orang sedang menenun di pedalaman Jawa Barat, membuat topi untuk pasar Eropa, ataupun orang-orang Aceh sedang bekerja sebagai tukang besi.

Gambaran masa lalu Indonesia juga bisa dilihat pada anak-anak yang belajar membaca Al-Quran, tari topeng du Istana Kutai, Kalimantan, pengadilan di Yogyakarta, warga menghadap raja di Bali, umat Kristen bersembahyang di gereja, dan lain-lain.

Semua foto Jean dalam pameran ini memperlihatkan Indonesia pada zaman kolonial dengan gambaran kurang lebih sama seperti sekarang: diberkati oleh kekayaan alam, keuletan manusia, serta keberagaman identitas warganya.

Jean, melalui foto-fotonya mengingatkan, sejak dulu kala negeri ini kaya. Namun, banyak yang tak menyadarinya.

Bali
Dalam karya-karya yang dipamerkan, terdapat pula beberapa foto tentang Bali meski cuma dua. Foto

Satu foto masuk dalam bagian The Aristocrats and Colonial Bureaucracy. Dalam foto ini, Jean memotret kepala daerah yang akan menghadap raja. Si kepala daerah ini dikawal empat orang, dua membawa senjata, satu membawa payung, dan satu lagi membawa semacam upeti.

Tidak jelas lokasi foto ini di mana. Begitu pula tahunnya.

Foto tentang Bali yang kedua menggambarkan pintu depan sebuah pura yang penuh ukiran. Terlihat pintu masuk pura, dari bentuk dan ukiran, kemungkinan besar pintu masuk utama mandala. Lagi-lagi tanpa tanggal dan lokasi pasti foto.

Inilah mungkin yang jadi catatan. Sebagian foto Jean dibiarkan tanpa lokasi dan tanggal yang jelas. Padahal, menarik juga kalau ada lokasi persisnya. Jadi, siapa tahu kapan-kapan saya bisa iseng main ke sana untuk membandingkan suasana saat itu dengan kondisi saat ini.

Biar tahu bagaimana perubahan terjadi selama ini, termasuk di Bali. [b]

Tags: AgendaFotografiSejarah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Ruang Baca di Tengah Menjamurnya Konsep Book Cafe

Menyelami Masa Lalu Melalui Fiksi Sejarah

25 October 2025
Anak Muda dan Peristiwa 65: Tidak Seperti di Buku Pelajaran dan Study Tour

Anak Muda dan Peristiwa 65: Tidak Seperti di Buku Pelajaran dan Study Tour

19 March 2025
Sang Gunung Menyerahkan Jejaknya ke Laut, Alternatif Pengarsipan Sejarah

Sang Gunung Menyerahkan Jejaknya ke Laut, Alternatif Pengarsipan Sejarah

22 August 2023
Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

29 April 2021
Next Post

HIPMI Bali Audiensi ke Wali Kota Denpasar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia