
Urban Social Forum (USF) ke-11 dilaksanakan di Bali pada 30-31 Agustus 2025. Ini adalah pelaksanaan pertama di luar Kota Solo, lokasi organisasi Kota Kita yang menjadi penyelenggaranya. Selama dua hari ada banyak panel diskusi, workshop, acara pertunjukan dan banyak acara lain yang seru, informatif dan kreatif. Salah satu panel diskusinya mendiskusikan tentang perjuangan warga biasa untuk transportasi umum di Bali.
Bersama dengan tiga pembicara. Dyah Rooslina, seorang figur penting dalam kebangkitan kembali Trans Metro Dewata (TMD), Krishna Chandra dan Michael Juan Felix, keduanya mahasiswa pengguna aktif TMD. Mereka bertiga merupakan anggota organisasi Forum Diskusi Transportasi Bali (FDTB). Mereka membicarakan perjuangan rakyat biasa yang berkumpul menjadi suatu komunitas untuk memperjuangkan transportasi publik yang sempat berhenti operasi pada awal tahun 2025 karena penganggaran berakhir dari pemerintah pusat.
Trans Metro Dewata, bus yang sering dianggap sebagai pembuat macet dan menyusahkan pengendara lain di jalan ini diyakini memiliki fungsi bagi kalangan marjinal dan rentan seperti disabilitas, lansia, dan perantau. Sudah seharusnya transportasi publik ini disediakan oleh pemerintah setempat karena itu sudah termasuk sebagai hak rakyat mendapatkan transportasi publik yang berfungsional dan terjangkau sesuai dengan UU No 22 Tahun 2009.
Dyah Rooslina bercerita tentang kejadian yang terjadi tentang kehilangan dan kebangkitan lagi Trans Metro Dewata. Pada akhir Desember tahun 2024 sempat diumumkan penutupan TMD pada tanggal 1 Januari 2025 oleh Kepala Dishub Bali. Setelah pengumuman itu FDT meluncurkan petisi untuk mengumpulkan suara-suara rakyat yang menentang keputusan itu agar Trans Metro Dewata tetap berjalan. Walau petisi itu sudah ditandatangani oleh lebih dari 10.000 orang, TMD tetap dinyatakan berhenti beroperasi di tanggal yang sudah diumumkan. Hal ini membuat orang-orang yang memakai TMD secara rutin menghadapi masalah mobilitas keseharian.
Dyah Rooslina kemudian menceritakan tentang kisah hidup orang-orang yang hidupnya sudah bergantung dengan ketersediaan transportasi publik di Bali. Salah satunya adalah seorang karyawan yang rutin memanfaatkan bus untuk pergi ke tempat kerjanya, karena biasanya ia menghabiskan hampir seluruh gajinya dalam sebulan itu untuk membayar ojol (ojek online).
Ada juga cerita seorang disabilitas terpaksa juga untuk memakai ojol tapi masih kesusahan mendapatkan ojol yang mau mengambil pesanannya karena disabilitasnya. Bahkan ada seorang bapak yang memaksa anaknya untuk pindah sekolah karena ketidakadaan transportasi publik yang sebelumnya bisa mengantar anaknya sekolah. Cerita-cerita inilah yang mungkin tidak terdengar bagi pengendara yang selalu melihat bokong bis Trans Metro Dewata setiap harinya.
Perjuangan petisi berlanjut dengan audiensi. Pada 22 Februari 2025, FDTB beraudiensi dengan anggota DPRD tentang kelanjutan Trans Metro Dewata, dilanjutkan audiensi-audiensi lainnya yang akhirnya menghasilkan kebangkitan kembali TMD pada 18 Apri 2025. Hal ini bisa terjadi dikarenakan rakyat biasa bisa bersatu dan menyuarakan haknya.
Tapi, kembali beroperasinya TMD sekarang masih terancam karena belum ada kepastian dari pemerintah yang bertanggung jawab atas apakah mendapatkan bagian dari anggaran Pemda tahun ini. “Karena itu masih dibutuhkan sosialisasi terkait transportasi publik ke kalangan yang lebih luas agar menjamin alokasi dana yang secara Undang-undang berhak kita dapatkan.,” kata Dyah.
“Apakah kalian sudi melihat orangtua anda yang sudah lansia naik motor sendiri di jalan raya? Apa kalian juga sudi melihat anak-anak kalian yang masih kecil mengalami kecelakaan kendaraan?’” Demikian sejumlah keresahan dalam ruang diskusi di Urban Social Forum hari pertama pada 30 Agustus 2025 di Gedung FT Universitas Warmadewa.
https://www.english.focaravajuce.org/ kampungbet







