“Kasihan ya Orang Bali”

Siang itu saya kedatangan tamu seorang teman di kantor tempat saya kerja di Semarang.

Ia seorang penulis aktif di kolom Surat Pembaca harian terbesar di Semarang. Namanya Suprayitno. Kami biasa memanggilnya Pak Supra. Dia sekretaris Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP).

Jangan tanya soal kekritisannya melihat semua persoalan bangsa. Tulisannya di kolom surat pembaca juga cukup tajam, berani dan tanpa tedeng aling-aling. Pak Supra sekarang sedang menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Hukum sebuah universitas di Semarang. Saya tak tahu persis usianya, tapi jelas lebih senior dari saya. Tapi semangatnya untuk menempuh pendidikan tinggi boleh juga.

Siang itu ia bercerita kepada saya soal pengalamannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Bali awal Juni lalu. “Ini baru pertama kalinya saya ke Bali, Mas Win,” katanya membuka cerita.

Saya berharap mendengar cerita yang baik tentang Bali. Begitulah biasanya yang keluar dari mereka yang pertama kali datang ke Bali. “Benar kata orang, kalau pulau Bali itu seperti surga,” katanya melanjutkan. “Tetapi…,” katanya agak terhenti dan dan membuat saya menjadi bertanya-tanya. Ada apa gerangan?? Adakah yang salah pada Bali??

“Kenapa memangnya, Pak Supra?” tanya saya mencari tahu.

“Ketika saya berjalan-jalan di Kuta dan Tanjung Benoa, benar-benar keduanya adalah kampung internasional. Isinya orang asing. Dengan fasilitas pariwisata yang ada di sana, jelas konsumennya bukan untuk orang lokal,” katanya lagi.

Saya jawab memang seperti itulah kondisinya. Pak Supra kembali melanjutkan ceritanya. Baginya, tidak hanya konsumennya orang asing, tetapi pemilik fasilitas wisata di Kuta, Tanjung Benoa dan Nusa Dua, pastilah bukan orang lokal atau orang Bali.

Saya juga menjawab, begitulah kondisinya. “Kasihan orang Bali ya, Mas Win,” katanya kemudian.

Kata-katanya Pak Supra ini membuat saya teperenyak. “Kasihan kenapa Pak?” tanya saya balik.

Tersisih
Mengalirlah cerita darinya. Bagaimana soal posisi masyarakat Bali yang semakin tersisih. Hanya menjadi pelengkap saja dalam industri besar pariwisata. Bahkan pada sektor ketenagakerjaan industri pariwisata, posisi orang Bali juga pasti termajinalkan. “Pariwisata Bali bukanlah untuk orang Bali melainkan dari dan untuk orang asing,” kata Pak Supra.

Bagaimana tidak, semua fasilitas wisata dimodali oleh orang asing. Yang menikmati juga orang asing. Orang Bali mungkin cuma jadi babu. Bahkan bisa jadi cuma penonton.

Sementara itu, tanah Bali sudah banyak beralih kepemilikan. Lingkungan alam Bali juga semakin hari semakin rusak. Nyaris tidak ada manfaat yang cukup dan pantas yang dirasakan orang Bali. Hanya mengais dari sisa-sisa atau remahan kue pariwisata, sementara hak-haknya semakin hari semakin jauh berkurang. “Harusnya orang Bali bisa bersikap tegas,” kata Pak Supra lagi. Bersikap tegas untuk berani menolak segala sesuatu yang dimaksudkan untuk mengambil manfaat dari pariwisata tetapi kemudian menafikan keberadaan orang Bali sendiri.

Menurut Pak Supra, tidak perlu Bali terpancing membangun segala fasilitas pariwisata yang mewah. Biarkan saja orang Bali menyediakan fasilitas yang bisa disediakan dengan modal-modal orang lokal. Jadi tidak perlu mengundang investor raksasa. Kalau orang Bali modalnya cuma mampu buat hotel melati, ya biarkan saja yang tersedia di Bali hanya hotel kelas melati. Di samping menjamin kepastian bahwa modal akan menjadi milik orang Bali, wisatwan yang datang juga akan lebih terseleksi.

“Saya juga prihatin dengan kondisi generasi muda Bali yang kini tak lagi mau menjadi petani,” katanya melanjutkan. Padahal jelas basis kehidupan dan bahkan pariwisata orang Bali adalah pertanian. Dari cerita yang didengarnya dari para guide lokal ketika KKL itu petani di Bali kini banyak datang dari Jawa. Hilangnya petani, kemungkinan juga akan memposisikan pariwisata Bali tidak lagi menarik bagi wisatawan.

Saya tak banyak bisa berkomentar mendengar cerita Pak Supra. Meski hanya beberapa hari di Bali, ia sudah dapat menangkap apa sebenarnya yang saya gelisahkan ketika melihat perkembangan Bali. Menjadi semakin mengkhawatirkan bagi saya, ketika seorang yang sebenarnya bukan orang Bali bisa menangkap nuansa apa yang terjadi pada Bali dengan pariwisatanya.

Ini berarti, masalah di pulau Bali bukan lagi masalah tersembunyi, melainkan sudah menganga di depan mata. Masalah Bali dan pariwisatanya bukan lagi masalah yang bersemayam di bawah sadar manusia Bali, melainkan sudah menjelma menjadi sesuatu yang kasat mata.

Pertanyaan besar saya adalah, “Akan ke mana dan menjadi apakah Bali di masa depan?” Ketika tanah-tanah di Bali sudah tak lagi milik orang Bali. Ketika pertanian sudah menjadi hanya tinggal cerita pengantar tidur. Ketika para turis tak lagi mau berkunjunga ke Bali karena alam dan tradisinya yang sudah rusak?

Kata-kata “Kasihan ya Orang Bali” kembali terngiang-ngiang di telinga saya. [b]