• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Karya Tumbuh Lahir dari Singaraja Literary Festival

Mahima by Mahima
6 October 2023
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Oleh Singaraja Literary Festival

Setidaknya 4 karya baru lahir dari Singaraja Literary Festival. Ada 3 karya seni pertunjukan, dan 1 karya musik jazz bernafaskan karakter lokal khas Singaraja.

Sebun bangkung. Foto Saka Widya

Seni pertunjukan yang pertama dan merupakan karya tumbuh adalah karya pertunjukan berasal dari geguritan Sebun Bangkung, karya sastra dari Dang Hyang Nirartha yang bercerita tentang cinta kepada Tuhan. Karya ini digarap oleh Gusti Made Aryana, kerap dipanggil Dalang Sembroli bersama 2 seniman lain yaitu Tini Wahyuni dan Ida Parta yang menulis naskah monolognya sendiri dan memainkan alat musik petik “penting”

Masing-masing menuliskan refleksi atas perjalanan hidupnya yang unik. Gusti Made Aryana mengatakan, karya ini barulah awal memasuki filosofi Sebun Bangkung, dan belum dapat dikatakan karya jadi. Gusti mengatakan bahwa karya ini sangat mungkin beradaptasi kembali setelah dilakukan pembacaan ulang dari penonton dan kritikus lain.

Namun sebagai sebuah karya tumbuh, hal ini sangat diapresiasi oleh ahli lontar Sugi Lanus, yang menurutnya pertunjukan ini berhasil karena kreatornya berani mengambil teks berat dan menjadikannya pertunjukan kaya renungan terutama soal esensi diri yang sesungguhnya. Itu disampaikan Sugi seusai menonton karya ini di penutupan Singaraja Literary Festival, 1 Oktober 2023 di halaman Museum Buleleng.

Seni pertunjukan kedua adalah dramatic reading “Mlancaran ka Sasak” karya Wayan Bhadra, pustakawan pertama Gedong Kirtya, yang disutradrai oleh Putu Ardiyasa. Ardi menggarap karya ini dengan sungguh-sungguh, ia memadukan story telling dengan pembacaan pada teks yang ketat, serta memadukannya dengan seni teater yang menonjolkan koreografi kreatif untuk mendukung latar cerita yang dipentaskan.

Putu mampu menghadirkan suasana masa lalu dengan bahasa yang khas dan memadukannya dengan visual koreografi yang menarik dan storytelling yang kuat. Menurut Kadek Sonia Piscayanti, Direktur Festival, karya ini sangat indah dan menarik dikembangkan.

Tari aksara tubuh dekgeh. Foto Omen

Seni pertunjukan ketiga adalah seni pertunjukan tari kontemporer karya Dek Geh koreografer Buleleng yang mengambil tema aksara dalam tubuh, yang diinterpretasikannya menjadi karya yang penuh kejutan. Diawali dengan gerak yang lambat dilanjutkan dengan gerak dinamis, karya ini menjadi salah satu yang menarik dari sekian tontonan di Singaraja Literary Festival.

Karya awal ini, yang dia pentaskan bersama Wahyudi, seorang aktor muda, kata Dek Geh adalah sebuah pembukaan bagi teks baru yang ingin dia garap lebih jauh yaitu aksara pada tubuh yang terus bergerak mencari rumahnya. Filosofinya adalah tubuh bergerak, aksara juga tumbuh menjadi cerita yang tiada akhirnya. Menurut Dekgeh karya ini akan dia garap lebih serius lagi dan lebih melibatkan banyak orang untuk menerjemahkan gagasannya.

Altisimo – Jazz. Foto Saka Widya

Sementara karya terakhir, adalah karya seni music jazz yang dipersembahkan oleh Indra dan Reza yang bergabung dalam grup Altisimo, sebuah grup musik beraliran jazz di Buleleng. Grup ini menggubah lagu-lagu maestro asal Buleleng Gde Dharna yang melahirkan ratusan lagu yang banyak dikenal secara nasional.

Dari sekian karya Gde Dharna, Indra dan Rezza membawakan lagu “Bhuana Kerta” versi baru dengan aliran jazz yang kental. Lagu ini menjadi sama sekali baru dan berbeda, serta lebih akrab dengan generasi muda. Lagu Gde Dharna yang juga ditampilkan adalah “Anglurah Gusti Panji Sakti” yang mencerminkan kekaguman dan pemujaan kepada sosok pendiri kota Singaraja, I Gusti Anglurah Panji Sakti.

Melihat empat karya yang dilahirkan di Singaraja Literary Festival ini, kiranya festival ini telah berhasil memberi aliran kreativitas kepada kreator asli Buleleng dan menjadikan karya dari teks lama menjadi lebih baru dan memikat. Sesuai namanya Singaraja Literary Festival, festival sastra ini mampu mengubah wajah kota Singaraja menjadi wajah kota sastra yang lebih bergairah dan berwarna.

kampungbet
Tags: festival sastrasiaran perssingaraja literary fest
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Mahima

Mahima

Related Posts

AJI dan AMSI Bali Kecam Intimidasi dan Kekerasan Aparat pada Dua Wartawan Peliput Aksi

Aksi Agustus: Fakta Persidangan Menunjukan Para Terdakwa Tidak Terbukti Melakukan Tindak Pidana

15 January 2026
Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa

Walhi Bali Kritisi Proses Penyusunan Naskah Akademik Pengelolaan Reklamasi Pesisir

30 December 2025
GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

27 December 2025
Aktivis Bali Ditangkap dan Dibawa ke Jakarta

Aktivis Bali Ditangkap dan Dibawa ke Jakarta

23 December 2025
Memperjuangkan Bali Bebas Macet: Catatan Akhir Tahun demi Transportasi Berkelanjutan di Bali

Memperjuangkan Bali Bebas Macet: Catatan Akhir Tahun demi Transportasi Berkelanjutan di Bali

13 December 2025
Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

11 December 2025
Next Post
Panduan Menjadi Pramuwisata Bertanggung Jawab di Bali

Panduan Menjadi Pramuwisata Bertanggung Jawab di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia