• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kamera Analog: antara Nostalgia dan Eforia

Sayu Pawitri by Sayu Pawitri
28 July 2020
in Kabar Baru, Opini, Teknologi
0
0
Suasana jalanan di sekitar Pasar Badung, dipotret dengan kamera analog.

Belakangan ini, kaum remaja urban Indonesia mulai berbondong-bondong menekuni fotografi analog. Seperti namanya, fotografi analog merupakan teknik fotografi dengan  kamera yang dioperasikan secara manual (dikokang). Tren ini kembali muncul karena fotografi analog terkesan menghadirkan nostalgia dengan tone foto jadul yang dihasilkan.

Kamera analog termasuk jenis fotografi dengan teknik manual karena mengandalkan cahaya yang masuk dan ditangkap dengan film yang dikaitkan pada bagian dalam kamera ini. Film adalah sejenis kertas tipis yang peka terhadap cahaya.

Nostalgia dan kecintaan remaja terhadap kamera ini muncul karena berbagai faktor. Pertama karena harga kamera yang cenderung murah dibanding kamera digital. Kedua, hasil foto ala-ala zaman dulu. Ketiga, tantangan saat memotret tanpa bisa melihat hasilnya. Jadi, kita harus menunggu hingga film dicuci (develop) pada lab yang menyediakan jasa cuci film.

Di Indonesia, tren analog dapat ditelusuri melalui akun Instagram @jellyplayground yang sangat progresif dalam merawat dan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak muda terhadap old school photography ini. Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial seperti Instagram menjadi perantara bagi tren fotografi analog di Indonesia.

Tren analog juga muncul di Bali dan dapat dilacak dari kolektif yang dibangun oleh The Film Collective Bali di Instagram, misalnya. Kolektif ini hadir seolah menghidupkan dan mengumpulkan lebih banyak orang yang ingin bernostalgia terhadap fotografi analog. Kegiatan yang dilakukan pun bermacam-macam, seperti hunting foto bersama dan pameran foto analog.

Kamera analog yang teknik penggunaannya cenderung manual, justru menjadi budaya populer yang kini mulai digemari remaja urban. Minat remaja pada fotografi analog ini dapat ditelusuri melalui tagar #indo35mm misalnya, atau maraknya online shop yang menjual kamera analog dengan segala aksesoris pendukungnya.

Kamera analog menjadi tren yang secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi pencinta fotografi dan publik secara luas.

Munculnya tren kamera analog sebenarnya menjadi udara segar bagi pecinta fotografi. Analog menjadi alternative pilihan bagi orang-orang yang ingin merasakan sensasi memotret tanpa melihat hasil, karena kamera ini berbeda dengan kamera digital yang dapat dihapus apabila jepretan yang dihasilkan tidak sesuai keinginan. Banyak hal dapat dirasakan ketika bersentuhan dengan kamera analog. Salah satu contohnya adalah kita dapat menghargai proses memotret hingga proses mencuci film sampai film berubah menjadi foto dalam bentuk digital maupun cetak.

Jika saat ini analog menjadi tren bagi kaum urban Indonesia, tentu banyak kekurangan dan kelebihan yang ditimbulkan. Kelebihan tersebut dapat dilihat dari munculnya komunitas pecinta analog yang menjadi lebih kuat dan tidak kehilangan peminatnya. Namun, hal ini berbarengan pula dengan meningkatnya permintaan yang membuat harga-harga kamera analog second dan film semakin naik. Meningkatnya permintaan terhadap kamera analog tentu membuat sebagian orang harus merogoh kocek lebih banyak lagi.

Maraknya kecintaan orang-orang pada kamera analog juga menjadi validasi bagaimana budaya populer (pop culture) seperti yang dikatakan Andy Warhol, membuat setiap orang mendapatkan panggungnya dalam beberapa menit. Dalam kasus ini, pernyataan tersebut seolah relevan, karena tren yang berkembang terindikasi untuk populer dan meredup secepat kilat. Pernyataan tersebut membuat saya berpikir bahwa tren analog dapat begitu cepat merebut hati kaum remaja, tetapi juga berpotensi besar untuk dilupakan.

Maraknya kecintaan terhadap kamera analog juga menjadi pembuktian bagaimana sebuah tren sebenarnya beralih dengan sangat cepat. Ini menjelaskan bahwa budaya populer bertumbuh dengan begitu dinamis.

Tren analog sebagai budaya populer tentu tidak dapat dipisahkan dari era yang kita lalui hari ini. Melimpahnya informasi dan media yang mumpuni membuat kita dengan mudahnya mengakses dan menemukan jawaban tentang apa itu fotografi analog, bagaimana cara penggunaannya, atau di mana dapat kita temukan kamera-kamera yang istilah jadul ini. Tingginya permintaan terhadap kamera ini tentu akan meningkatkan produksi barang yang beredar di pasaran. Terlebih lagi tersedianya market place membuat konsumsi terhadap suatu barang menjadi lebih cepat.

Di sinilah menurut saya kapitalisme bekerja, Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalisme menjelaskan bahwa dalam era digital ini data personal menjadi komoditas bagi perusahaan digital raksasa. Mereka melakukan pengawasan dan menganalisis apa saja yang sudah kita klik. Dengan kata lain, mereka mengetahui keinginan kita dengan suatu barang melalui jejak digital kita di sebuah media sosial.

Dalam sistem yang demikian, pengawasan bukan saja dilakukan oleh negara melainkan perusahaan-perusahaan besar yang tumbuh dengan motif ekonomi. Dalam menyikapi tren analog (bahkan tren lainnya) kita mestinya cukup bijak dalam melimitasi keinginan kita agar tidak terjebak dalam euphoria yang sifatnya sementara. Dengan begitu, kita harusnya dapat lebih aware pada sebuah tren di tengah sistem yang kapitalistik.

Tren analog menjadi contoh kecil bagaimana budaya populer dalam sistem kapitalisme dipandang sebagai konsumsi semata, dan penikmatnya adalah konsumen. Sehingga, permintaan yang tinggi terhadap kamera analog akan memunculkan produksi-produksi yang menempatkan manusia sebagai pembeli, tak kurang dan tak lebih. Di mata para kapitalis, konsumsi terhadap suatu hal adalah yang terpenting.

Hal tersebut berlaku pada skala konsumsi yang lebih luas, tren analog hanya menjadi contoh kecil bagaimana kita sebagai konsumen sekaligus pecinta kamera analog mestinya lebih bijak dalam melihat sebuah tren yang sedang berkembang. Sebagai pecinta analog, wajib bagi kita untuk merawat nostalgia yang dimunculkan dari kamera ini. Bijak dalam memaknai tren juga penting untuk menampik pertanyaan klasik seperti; apakah tren ini akan bertahan lama atau malah menciptakan euphoria yang sifatnya sementara. [b]

kampungbet
Tags: BaliKamera AnalogKapitalisme
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sayu Pawitri

Sayu Pawitri

Menulis sehari-hari.

Related Posts

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Next Post
“Istirahat” untuk Bumi dan Manusia yang Sehat

Saling Bantu Saat Pandemi?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Aksi Tolak Terminal LNG ke DPRD Bali 

Antisipasi Risiko Proyek Energi Gas di Bali

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia