• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kalender Bali, Wujud Kesadaran Ruang dan Waktu

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
8 January 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Teknologi
0
0

kalender-dinding-bali-2013

Bagi orang Bali, belum lengkap jika belum punya kalender Bali.

Tiap pergantian tahun, kalender Bali pun diburu meskipun warga sudah punya kalender umum. Nyaris semua toko buku di Bali menyediakan kalender yang yang mengombiansikan penanggalan umum dan pustaka wariga Hindu ini.

Kalender Bali merupakan inti sari dari pustaka wariga mempunyai tiga aspek. Pertama, perhitungan waktu, aspek ramalan tentang baik buruknya melakukan kegiatan tertentu, dan hari-hari peringatan upacara besar. Hari-hari peringatan ini, misalnya, untuk menentukan hari pernikahan, ngaben, ramalan sesuai waktu lahir penanggalan Bali, dan lainnya.

Bagi orang Bali, terutama yang bergama Hindu, kalender ini juga menjadi panduan jika mereka ingin melakukan kegiatan adat atau sembahyang. Maka, ketika ada kalender yang tak sama, maka hal tersebut akan jadi masalah besar.

I Made Suatjana, peneliti wariga di Bali mengatakan, beberapa tahun lalu ketika ada perbedaan susunan sasih beberapa kalender Bali yang beredar, masyarakat Bali Hindu pun resah.

Menurut Suatjana perbedaan itu terjadi karena aspek perhitungan waktu. “Kita memakai sistem perhitungan waktu dalam wariga yaitu system pawukon dan waktu saka Bali,” jelasnya.

Perhitungan waktu pewukon adalah sistem asli nusantara atau Jawa. Tapi, belum diketahui siklus alam apa yang mendasari pawukon itu. Sistem pawukon mulai dikenal di Bali sejak raja Bali Udayana Warmadewa menikah dengan putri Raja Jawa.

Sementara sistem perhitungan saka dikenal di Bali sejak abad ke-9, berdasar prasasti yang ditemukan. Sistem perhitungannya memakai siklus peredaran bulan terhadap bumi (lunar) dan siklus bumi terhadap matahari (solar) sebagai dasar perhitungannya. Siklus peredaran bulan terhadap bumi melahirkan sasih dengan tilem, purnama, penanggal, dan panglong yang umum terjadi dalam kalender Bali. Siklus peredaran bumi terhadap matahari menghasilkan sasih-sasih dan tahun-tahun.

Amunisi
Satu siklus bulan secara astronomi adalah 29,53 hari. Selain Bali juga Budha di Thailan, China, Korea, Jepang, Tibet dan lainnya memakai perhitungan bulan. Juga Islam dan Yahudi. Tiap kalender memiliki cara tersendiri menghitung panjang siklus bulan tersebut. Sasih mengikuti siklus peredaran bumi bumi mengelilingi matahari panjangnya 365, 24 hari. Sementara panjang sasih perhitungan saka Bali adalah 29,53 hari.

Sasih dalam penanggalan saka Bali dibuat beberapa patokan. Misalnya untuk menentukan jatuhnya Tilem Kasangan atau sehari sebelum tahun baru saka harus jatuh antara 3 dan 31 Maret.

“Orang Bali sangat sadar dengan ruang dan waktu ini,” kata Suatjana, salah satu pembuat kalender Bali ini.

Penyusun kalender terkenal di Bali adalah Bambang Gde Rawi dan Babang Gde Wisma. Selain versi cetak, kini sudah ada secara online di kalenderbali.org.

Salah satu yang harus dikuasai calon diksita dari pedanda nabenya adalah tentang wariga. Wariga terbagi dalam empat sub grup yakni wariga gemet, wariga batak, janantaka, dan panchakanda. Wariga dianggap penting karena dasar dari semua bahan-bahan bidang pelajara calon pendeta atau pemimpin spiritual Hindu di Bali. Sumber wariga adalah sejumlah lontar-lontar.

Anak Agung Kusuma Wardana, tokoh masayarakat Puri Kesiman mengatakan, salah satu amunisi Bali menghadapi globalisasi adalah kearifan-kearifan lokalnya. “Harta kekayaan terakhir yang kita punya dan harus diwariskan untuk menghadapi globalisasi adalah karya-karya lokal yang sudah teruji pemanfaatannya,” ujarnya.

Selain kalender Bali, ada juga aksara Bali, dan sistem subak. Mereka semua teknologi ala Bali yang masih terus berjalan hingga saat ini. [b]

Foto dari Mahameru Bali.

Tags: BaliTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Next Post
Angin Kencang di Bali pun Memakan Korban

Angin Kencang di Bali pun Memakan Korban

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia