• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ironi Mewahnya Vila-vila dan Kondisi Sekolah Negeri di Bali

I Dewa Gede Putra by I Dewa Gede Putra
17 February 2026
in Kabar Baru, Opini, Pendidikan
0
0

Ilustrasi foto sekolah saat banjir.


Bangku sekolah negeri adalah tempat pertama bagi banyak anak Indonesia untuk membaca negara. Bukan melalui buku undang-undang atau pidato pejabat, melainkan melalui ruang kelas tempat mereka duduk setiap hari—melalui atap yang bocor atau kokoh, lantai yang terawat atau rusak, ruang yang sejuk atau pengap. Di sanalah negara hadir secara konkret, atau justru terasa jauh dan absen.

Sekolah negeri merupakan ruang publik paling awal dan paling intens yang mempertemukan anak dengan negara. Di ruang inilah anak belajar bukan hanya membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menyerap pesan simbolik tentang bagaimana negara memperlakukan warganya. Ketika ruang belajar dibiarkan dalam kondisi minimal, pesan yang diterima anak-anak menjadi jelas: pendidikan bukan prioritas utama.

Masalah sarana dan prasarana sekolah negeri sering direduksi sebagai persoalan teknis—rehabilitasi bangunan, laporan aset, atau proyek fisik tahunan. Padahal, kondisi ruang sekolah adalah hasil langsung dari keputusan kebijakan dan politik anggaran. Ia mencerminkan keberpihakan: sektor mana yang dirancang dengan serius dan sektor mana yang sekadar dipelihara agar tetap berjalan.

Sebagai orangtua, saya memandang sekolah sebagai sebuah ekosistem pendidikan. Ruang kelas, halaman sekolah, koridor, ruang guru, perpustakaan, dan fasilitas pendukung lainnya membentuk pengalaman belajar yang utuh. Ruang yang buruk tidak hanya mengganggu konsentrasi dan kesehatan, tetapi juga menggerus rasa dihargai, baik bagi murid maupun guru.

Dalam tiga tahun terakhir, sekolah negeri di Bali menghadapi persoalan yang berulang.
Ruang kelas rusak ringan hingga berat, sanitasi tidak memadai, fasilitas pembelajaran terbatas, serta bangunan yang tidak dirancang menghadapi iklim tropis dan cuaca ekstrem. Setiap musim hujan lebat, kegiatan belajar mengajar terganggu. Situasi ini menunjukkan bahwa sekolah masih diperlakukan sebagai bangunan fungsional minimum, bukan sebagai infrastruktur publik strategis.

Persoalan ruang semakin kompleks ketika dikaitkan dengan kondisi guru.
Guru dituntut profesional, adaptif, dan inovatif, tetapi bekerja dalam ruang yang tidak mendukung kerja pedagogis. Di Bali, persoalan kekurangan guru, distribusi yang tidak merata, dan kesejahteraan yang belum sepenuhnya memadai masih menjadi tantangan.
Negara menuntut hasil, tetapi sering mengabaikan prasyarat.

Ironi ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan arah pembangunan Bali secara keseluruhan. Pulau ini dibangun dengan standar tinggi untuk pariwisata—hotel, vila, bandara, dan kawasan komersial dirancang secara serius dan detail. Sementara itu, banyak sekolah negeri tetap berada pada standar minimum. Ketimpangan ini bukan persoalan kemampuan teknis, melainkan pilihan kebijakan.

Kritik ini tidak lahir dari sikap pesimis terhadap sekolah negeri. Saya masih percaya—dan memilih untuk percaya—bahwa sekolah negeri memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang pendidikan yang bermutu dan adil. Keyakinan ini, juga merupakan keputusan personal. Anak-anak saya sendiri saya percayakan untuk bersekolah di sekolah negeri. Tentunya dengan tambahan berbagai kegiatan diluar sekolah.

Masalahnya dari negara, bukan semata ketiadaan dana, melainkan ketiadaan keberanian politik. Selama pendidikan dipuji sebagai prioritas tetapi ruang belajarnya dibiarkan tertinggal, ketimpangan akan terus berulang. Bangku sekolah akan terus menjadi tempat anak-anak membaca negara—dan menemukan bahwa negara belum sepenuhnya hadir.

Sekolah negeri adalah etalase paling jujur dari komitmen negara. Jika negara ingin dihormati, perbaikannya harus dimulai dari ruang kelas. Dari bangku sekolah itulah legitimasi negara dibangun, atau justru dipertanyakan.


—

I Dewa Gede Putra, warga Bali, orangtua dari anak yg bersekolah negeri.

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet situs toto situs toto gimbal4d gimbal4d cerutu4d cerutu4d
Tags: Opinisekolah di Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Dewa Gede Putra

I Dewa Gede Putra

Related Posts

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Next Post
Monkey Millennial, Simbol Konsumerisme Hari Ini

Berhati-hati dengan Rekayasa Genetika

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Merawat Ingatan, Tubuh, dan Perspektif Perempuan lewat Ruang Aman Menulis

Merawat Ingatan, Tubuh, dan Perspektif Perempuan lewat Ruang Aman Menulis

19 February 2026
Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

18 February 2026
Ubud yang Tenang Berubah Bising dan Macet

Menelusuri Ekspatriat di Bali, Pemegang Izin Tinggal Meningkat Dua Kali Lipat

17 February 2026
Monkey Millennial, Simbol Konsumerisme Hari Ini

Berhati-hati dengan Rekayasa Genetika

17 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia