• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 24, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Hari Bumi: Tradisi dan Masa Depan Bali

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
25 April 2011
in Berita Utama, Budaya, Opini
0
2

Serakan sampah di antara air dan umat yang sedang melaksanakan melasti. Foto: Wahyu Prayasa.

Selamat Hari Bumi buat kita semua yang masih hidup di muka bumi ini.

Pagi ini, terasa berat meninggalkan bantal dan kasur. Hujan sejak subuh membuat saya ingin lebih lama lelap di atas kasur. Akhirnya panggilan mesra ibu dari anak-anak memaksa menanggalkan malas itu di tempat tidur.

Sudah pukul 8 ternyata! Guyuran air di bak mandi pun terasa segar. Menghalau kantuk dan malas badan. Keluar dari kamar mandi sepiring nasi dengan tempe bumbu goreng tersaji. Wuih enaknya.. Pagi yang segar, mata pun segar. Sementara perut terasa hangat menerima kiriman nasi dan tempe hangat. :)

Ternyata hari ini dirayakan sebagai Hari Bumi. Seorang teman menuliskan itu di statusnya. Saya tidak terlalu paham akan hari bumi. Maklum “nak Bali” sudah terlalu banyak memiliki hari yang harus dirayakan. Kalau untuk mengingatkan pelestarian alam kami sudah punyak Tumpek Wariga.

Mata saya terpaku pada akun FB teman saya, Wahyu Prayasa, sang photographer. Pagi ini dia upload “oleh-oleh” dari kameranya. Sebagian besar tentang Bali dan prosesi ritualnya. Memang dia semakin canggih. Moment-moment tercantik dan menggelitik terekam indah. Komposisi warnanya membuatku semakin takjub akan keindahan tanah kelahiran saya.

Tanpa seizinnya saya download dua buah foto, yang menggelitik hati di hari bumi ini. Dua foto yang sering mengusik hati saya. Orang Bali, termasuk saya di dalamnya, terlalu asik masyuk dalam kemeriahan ritual dan sepertinya, utamanya saya. Terlalu jauh meninggalkan realitas praktis dari makna ritual yang saya (kami) lakukan.

Pertama, foto prosesi melasti. Langit yang biru terpantul indah pada laut. Buih putihnya ombak terasa seimbang dengan putihnya baju para umat. Manusia menyeru kepada alam dan alam menerimanya. Ya.. sebuah prosesi melasti yang terekam.

Melasti adalah sebuah ritual pembersihan. Permohonan kepada Hyang Baruna, penguasa samudra untuk membersihkan segala hal yang kotor, pada kami manusianya, pada alat-alat ritual yang akan kami pakai upacara. Sehingga semua yang terlibat dalam upacara nantinya telah bersih, secara sekala dan niskala.

Foto ini juga seperti mengingatkanku, bahwa yang mengusik hati memang semakin kentara. Serakan sampah di antara air laut dan umat yang sedang melaksanakan prosesi melasti terhampar jelas. Bisa jadi sepanjang pantai ini dipenuhi sampah.

Belumlah sya lupa, kalau sampah di Pantai Kuta telah menghiasi majalah Time dan memberikan julukan baru buat Bali, Tempat liburan Neraka! Ya.. ritual telah terlampau jauh dari realita. :(

Foto kedua: sang penjaga tradisi.

Lihatlah foto ini. Dua remaja Bali, setelah menari Baris. Melepas lelah di antara hijaunya tanaman padi dengan tombak menancap. Wuihh.. benar-benar moment yang cantik. Wahyu memang top.

Foto ini memberi makna simbolik yang kuat. Remaja sebagai generasi penerus, dalam pakian penari memberi kepastian akan keberlanjutan tradisi Bali. Tombak yang tertancap, menunjuk langit dan tugu bedugul (sanggah) bahwa kami (nak Bali) siap menjaga tradisi ini tetap ajeg lestari di muka bumi. Wajah santai dengan senyum.. Ya, kami menjaganya tetap dalam keramahan ala Bali.

Hanya saja, botol mineral yang sedang diminum salah satu penari seperti pengingat bagi saya. Bahwa alam Bali yang indah, juga akan rusak karena kami. Nak Bali yang sibuk menjaga tradisi tetapi tetap dituntut hidup dalam alam modern. Padi yang hijau mungkin tidak kan lama bisa dilihat. Karena banyak tanah yang harus tergadai demi membeli air dalam botol kemasan.

Air-air yang mengaliri parit dan sungai di Bali akan dihentikan oleh tumpukan plastik yang kami beli dengan menggadaikan tanah. Maka akhirnya harga diripun akan tergadai (lihatlah gelungan penari yang nangkring di atas pagar tugu itu. Semoga itu masih lama… [b]

Catatan: tulisan iseng ini dibuat karena pesona fotonya Wahyu dan juga ngga ada acara di liburan paskah kali ini.

Santi Selalu Sahabat…

Tags: BaliBudayaLingkunganOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Next Post
Kelas Menulis dan Blogging Episode 7, nih

Kelas Menulis dan Blogging Episode 7, nih

Comments 2

  1. Luh De Suriyani says:
    15 years ago

    kayanya perlu ada yg memberikan masterplan wajah bali 10, 20, atau 50 tahun ke depan. biar ga mengawang2… mungkin dari arsitek atau desainer yg mau berkolaborasi membuat maket bali masa depan, baik atau buruk…

    Reply
  2. rare angon says:
    15 years ago

    Hari Bumi, padahal diBali setiap hari hari Bumi, mecaru atau BhutaYadnya … tapi melihat hasil jepretan Bli Prayasa …. kangen sama kampung halaman… suksma

    link http://rare-angon.blogspot.com

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kamisan Bali ke-66: Refleksi dari Pembunuhan Munir dan Marsinah

Aksi Kamisan Bali ke-66: Refleksi dari Pembunuhan Munir dan Marsinah

22 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Membangkitkan Lima Lapisan Kesadaran Diri

21 May 2026
Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

20 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia