Green Fins, Panduan Menyelam Peduli Lingkungan

Bali terkenal dengan pantai dan lautnya.

Berwisata ke Pulau Bali tidak akan lengkap kalau belum mengunjungi pantai dan pesisir bahkan menyelam di kedalaman lautnya yang biru. Bagi beberapa orang, menyelam terdengar seperti aktivitas yang ekstrem dan berbahaya.

Namun, banyak juga yang sangat menikmati keindahan dan kehidupan bawah laut dengan aktivitas menyelam. Saat ini terdapat ratusan operator penyelaman di Pulau Bali.

Sayangnya, jumlah penyelam yang semakin bertambah banyak tidak selalu memperhatikan daya dukung lingkungan. Tidak jarang ditemukan perilaku para penyelam merusak ataupun membahayakan hewan-hewan laut.

Oleh karena itu perlu adanya panduan dan upaya pemantauan aktivitas penyelam di bawah air. Salah satu cara yang efektif adalah bekerja sama dengan para operator selam.

Apa itu Green Fins?

Sejak tahun 2004, sebuah prakarsa di bawah UN Environment Programme (UNEP) bernama Green Fins dicetuskan guna melindungi dan melestarikan terumbu karang melalui panduan ramah lingkungan. Tujuannya agar industri selam dan snorkeling tetap berkelanjutan.

Program ini sudah diadopsi 12 negara di dunia, termasuk di Indonesia yang koordinir Coral Triangle Center (CTC) sejak tahun 2018. Green Fins memberikan panduan terkait hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penyelam maupun snorkeler saat menyelam seperti poster ICONs berikut ini.

Salah satu infografik oleh Green Fins sebagai pedoman untuk menyelam dengan tetap memperhatikan kesehatan lingkungan. Foto : Green Fins

Harapannya, penyelam pemula maupun berpengalaman dapat bertindak secara bijak selama menikmati kekayaan alam bawah laut Bali yang sudah terkenal di mata dunia. Salah satu poin dalam panduan contohnya seperti tidak memberi makan ikan (no fish feeding) selama beraktivitas di laut.

Butterfly Fish (ikan Kupu-Kupu) yang sering ditemukan saat snorkeling maupun diving. Foto: Robert Delfs

Kegiatan memberi makan yang terasa menyenangkan ini ternyata bisa berdampak terhadap tingkah laku (behavior) ikan-ikan di laut yang seharusnya memakan alga. Jika ikan-ikan tersebut secara menerus diberi makan roti atau makanan lainnya oleh manusia, salah satu akibatnya populasi alga akan meningkat. Hal ini dapat mengancam keseimbangan ekosistem laut seperti terumbu karang, karena ikan tidak lagi memakan alga.

Panduan Green Fins juga berlaku untuk snorkeling. Foto : Syahrul/CTC

Green Fins di Bali

Sebagai koordinator program Green Fins di Indonesia, CTC bertugas untuk mensosialisasikan dan melakukan penilaian (assessment) terhadap operator selam. Tujuannya memastikan mereka telah menerapkan praktik-praktik selam yang minim dampaknya terhadap lingkungan.

Daftar anggota Green Fins di Bali dapat dilihat melalui situs resmi Green Fins.

Menurut Marthen Welly, salah satu koordinator program Green Fins sekaligus Penasihat Konservasi Laut CTC, Green Fins percaya bahwa perilaku para penyelam di bawah air sangat bergantung pada dive guidenya. Dalam hal ini adalah operator selam. Itulah mengapa Green Fins lebih cenderung untuk melakukan pendekatan kepada operator selam daripada ke individu penyelamnya langsung.

Marthen menambahkan, jika para penyelam juga diberi pengarahan (briefing) dengan baik, hal itu bisa menjadi edukasi sendiri bagi mereka. Pengarahan itu misalnya terkait lingkungan sebelum masuk ke air. Selama menyelam, perilaku penyelam juga diperhatikan. Saat melakukan kesalahan, penyelam langsung diberitahu.

“Hal ini secara perlahan akan menjadi cara untuk memberikan edukasi dan akan menjadi sebuah kebiasaan bagi para penyelam,” ujar Marthen.

Salah satu anggota Green Fins di Bali. Foto : CTC

Cara menjadi Anggota

Sebelum bergabung menjadi anggota Green Fins, selain mendaftar, masing-masing operator selam harus melalui proses penilaian yang hanya bisa dilakukan oleh assessor resmi dari Green Fins. Selama proses penilaian, semua aktivitas operator selam mulai dari penjemputan tamu sampai selesai menyelam akan dinilai.

Hal ini untuk memastikan operator selam telah mengikuti kode etik atau panduan menyelam yang meminimalisir dampak terhadap lingkungan serta mampu memberikan pemahaman terhadap tamu-tamunya tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menyelam di laut. 

Keanggotaan Green Fins ini bebas biaya (free of charge). Anggota akan mendapatkan sertifikat Green Fins dari UNEP yang berlaku selama satu tahun.  Setiap tahunnya operator selam akan dinilai kembali untuk melihat kemajuan terkait operasional yang ramah lingkungan.

Siap menyelami kedalaman laut Bali?

Keindahan alam bawah laut di Bali. Foto : Robert Delfs

Jika Anda adalah seorang penyelam, inilah salah satu langkah sederhana untuk turut menjaga kelestarian lingkungan laut. Pastikan operator selam yang Anda pilih, dan tentunya diri Anda sendiri selalu memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan baik sebelum, selama dan sesudah kegiatan menyelam.

Pelajari lebih lanjut tentang program Green Fins melalui tautan https://www.greenfins.net/ atau hubungi Indonesia@greenfins.net.

Selamat menikmati keindahan alam bawah laut Pulau Dewata! [b]