Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba


Seorang petani memanen bunga gemitir di Plaga. Foto Anton Muhajir.

Hujan deras turun di Desa Belok Sidan awal bulan lalu.

Langit gelap di kawasan pegunungan berjarak sekitar 60 km utara Denpasar tersebut. Namun, derasnya hujan justru membersihkan desa sejuk di ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut itu.

Begitu hujan selesai, udara desa di Kecamatan Plaga, Kabupaten Badung itu makin terasa segar. Daun-daun makin menghijau. Begitu pula kuning terang bunga gemitir (Tagetes erecta L.) di kebun milik Wayan Jirna. Bunga berbentuk bulat itu mekar kuning terang di antara daun-daun menghijau.

Made Kastika bersama tiga buruh harian lainnya memanen bunga gemitir di lahan seluas 20 are milik Jirna. Menggunakan gunting, dia memotong satu per satu bunga sebesar kira-kira sekepal tangan orang dewasa itu dan memasukkannya ke keranjang.

Ketika keranjang itu sudah penuh, dia akan membawanya ke tempat pengumpulan.

Tidak hanya menjadi sarana sembahyang bagi umat Hindu Bali, bunga gemitir kini juga menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di Bali, seperti halnya Jirna.

Sejak sekitar lima tahun lalu, Jirna dan petani lain di kawasan Plaga mulai menanam bunga gemitir. Bunga ini melengkapi komoditas lain yang sudah ada sebelumnya seperti sayuran, kopi, dan buah-buahan.

“Dulu coba-coba saja pas mulai. Ternyata hasilnya bagus,” kata Jirna.

Dari 1 hektare lahan miliknya, Jirna kini menanam bunga gemitir 20 are. Dia memilih lahan yang di pinggir jalan. Kemudahan untuk terlihat dari jalan raya menjadi salah satu alasannya. Kebun bunga gemitir Jirna ini memang berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan dua kabupaten yaitu Badung dan Bangli.

Dengan warna merah menyala, bunga gemitir menarik mata termasuk bagi serangga. Foto Anton Muhajir.

Kebutuhan Sembahyang

Secara ekonomi, menurut Jirna, hasil budi daya bunga gemitir juga bagus. Petani tidak memerlukan lahan atau bedengan khusus. “Guludannya pakai yang sudah ada. Bisa gantian pula dengan tanaman cabai atau tomat,” kata Kastika.

Ketika berumur 55 hari, bunga pun sudah siap dipanen antara 5 – 10 kali selama satu kali musim tanam. Dalam setahun, petani menanam gemitir 2-3 kali bergantian dengan komoditas lain, seperti cabai atau tomat.

“Kalau bunganya tidak terlalu bagus, lima kali panen sudah dicabut,” ujar Jirna.

Sekali panen, dari 20 are lahan miliknya, Jirna bisa mendapatkan bunga potong, nama lain gemitir, sebanyak 900 kg. Kalau sepi hanya sekitar sepertiganya. Dia kemudian menjual bunga itu langsung ke pasar di Denpasar.

Bunga gemitir saat ini menjadi salah satu kebutuhan di Bali. Umat Hindu Bali menjadikan bunga ini sebagai salah satu perlengkapan banten, sesaji saat sembahyang, sehari-hari. Karena permintaan makin banyak, petani pun makin banyak yang membudidayakannya.

Menurut Jirna harga per kilogram bunga gemitir juga relatif. Tergantung pasar. Ketika permintaan banyak sedangkan persediaan sedikit harganya bisa sampai Rp 100 ribu. “Kalau sekarang suplainya lagi banyak, jadi harganya turun. Paling hanya Rp 10 ribu,” katanya.

Jirna mengatakan bunga gemitir saat ini memang makin banyak ditanam di berbagai tempat. Tidak hanya di kawasan sejuk seperti Plaga, tetapi juga daerah lain termasuk Karangasem. “Sekarang makin menyebar ke mana-mana,” tambahnya. Bunga gemitir memang relatif mudah dibudidayakan.

Menurut Kastika salah satu masalah dalam budidaya bunga gemitir hanya busuk daun dan cacar daun. “Kadang-kadang juga batangnya kering tidak mau berbunga,” ujarnya. Namun, secara umum penyakit semacam itu dengan mudah bisa diatasi.

Petani menyiapkan bunga gemitir untuk dikirimkan ke pasar. Foto Anton Muhajir.

Tempat Selfie

Toh, meskipun harga bunga gemitir sedang turun, petani bisa mendapatkan pemasukan dari cara lain dengan menjadikan kebunnya sebagai lokasi berfoto-foto, seperti milik Jirna. Lokasinya yang berada di samping Jembatan Tukad Bangkung, jembatan tertinggi di Bali, membuatnya menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung.

Dia memasang papan untuk pengunjung: Rp 5.000 per orang.

Sepanjang jalan dari Badung menuju Plaga kebun-kebun semacam ini dengan mudah ditemukan di kanan kiri jalan. Dengan warna kuning mencolok, bunga gemitir langsung menarik mata, termasuk bagi Sri Utami dan teman-temannya.

Siang itu, sepulang dari Kintamani, dia sengaja lewat Plaga meskipun agak memutar. Ketika lewat salah satu kebun di Desa Plaga, dia pun berhenti lalu berfoto-foto. Petani di belakangnya sedang memanen bunga seperti halnya di kebun milik Jirna.

“Bagus buat lokasi selfie,” katanya lalu tertawa.

Menurut Utami, kebun bunga gemitir bisa menjadi pemandangan menarik terutama ketika sudah mekar bunganya. Bunga kuning merekah bisa jadi objek foto yang menarik bagi dia dan teman-temannya.

Made Weti, pemilik kebun mengatakan makin banyak pengunjung datang ke kebun bunga gemitir miliknya. Umumnya mereka anak-anak muda dan berombongan. Kadang ada yang bayar, tetapi tak sedikit yang hanya berfoto lalu pergi begitu saja.

“Tidak apa-apa. Yang penting tidak merusak kebun saya,” ujarnya.

Ketika musim liburan, dalam satu hari bisa 100an orang yang datang untuk berfoto-foto. Namun, ketika sepi seperti saat ini karena musim hujan, dapat 30 tamu saja sudah untung.

Selain pengunjung lokal, menurut Weti, banyak pula tamu asing datang ke kebunnya, terutama dari Cina. Umumnya mereka melakukan foto-foto sebelum menikah (pra wedding) sehingga Weti memberikan harga khusus.

“Lumayanlah buat tambahan pendapatan,” katanya.

Dari semula hanya di Plaga, kebun buga gemitir semacam itu kini makin marak di Bali. Beberapa tempat wisata pun memiliki kebun khusus gemitir di lahannya. Pemandangan seperti itu menambah panjang lokasi-lokasi menarik untuk berwisata alam di Pulau Dewata. [b]

Catatan: tulisan ini juga terbit di Mongabay Indonesia.