• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Geliat Sineas Muda Pulau Dewata

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
12 August 2015
in Berita Utama, Gaya Hidup
0
0

indonesiaraja2015_film-pendek

Lima film pendek dari Bali berkeliling di tujuh kota Indonesia. 

Film-film ini terpilih dari puluhan film yang dikurasi. Mereka terpilih karena memiliki pesan beragam tentang keseharian dan inisiatif sineasnya yang berkarya secara independen. Siapa saja mereka dan apa karya-karyanya?

Dwitra J. Ariana, sineas muda dari Bangli, terpilih dengan film durasi 18 menit berjudul “Pakeling”. Film dengan tema serius ini tentang seorang petani organik yang keberadaannya semakin tercekik di antara serbuan promotor input kimiawi. Namun, dia dikemas satire dan lucu, berlokasi di kawasan tempat tinggalnya.

Jika sedang di rumahnya di Jeruk Mancingan, pria ini mengurus kebun dan ternaknya. Film ini dalam bahasa Bali, disertai teks bahasa Indonesia.

Ada juga film berjudul “Besok Saya Tidak Masuk Sekolah” karya Oka Sudarsana dari Denpasar. Film bergenre drama ini durasinya 16 menit. Berkisah tentang Ginar, anak SD yang mengerjakan PR hingga larut malam dan menempuh perjalanan berat menuju sekolah.

Lainnya adalah film animasi berjudul “How The World Teaches Happiness To People” dan film horror “Tok Tok Tok”, keduanya karya Agung Yuda, sineas dan musisi muda yang sangat produktif berkarya.

Trakhir ada “Kresek” karya Putu Satriya dari Buleleng yang bergenre drama berdurasi 15 menit. Ini juga dalam bahasa Bali, dilengkapi teks bahasa Indonesia dan Inggris. Berkisah tentang anak-anak dan sampah plastik.

Film ini akan saling berkeliling dengan sineas dan karya lain dari Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Purbalingga, Surabaya, dan Medan. Di tiap kota dikelola oleh komunitas filmnya seperti Komunitas Rufi, Sinema Kopi Hitam, Cinema Lovers Community, dan lainnya.

Fransiska Prihadi, pengelola Minikino, komunitas film di Bali, mengatakan Indonesia Raja adalah kolaborasi regional antar daerah di Indonesia. Kolaborasi inig akan dihelat tiap tahun dalam bentuk pertukaran program film pendek. Termasuk screening dan diskusi oleh para filmmaker dan kurator.

Indonesia Raja yang dimulai tahun ini diharapkan bisa menjadi gambaran pencapaian kegiatan sinema di masing-masing wilayah.

Nama Indonesia Raja diambil dari judul VCD kompilasi film pendek “Minikino Shorts 2: Indonesia Raja” yang dirilis tahun 2003, berisikan 7 film pendek dari 7 filmmaker Indonesia.

Minikino dimulai sebagai sebuah bioskop-bioskopan kecil, yang memutar film pendek dengan layar TV 21 inci di sebuah hall mini di Denpasar pada September 2002. Pendukungnya Griya Musik Irama Indah, sebuah toko alat musik di Denpasar.

Para penonton berasal dari para seniman, pembuat film, dan teman-teman mereka, yang bergantian mempresentasikan karya mereka.

Setelah beberapa kali pertemuan dan diskusi intens, Minikino menyatakan komitmennya untuk menjadi “healthy dose of short films”.

Tak Diam
Masuknya sineas-sineas muda Bali dalam Indonesia Raja 2015 membuktikan geliat mereka tak sekadar di Bali.

Programmer I Made Suarbawa mengatakan produksi film pendek di Bali makin menggeliat, karena arus informasi dan teknologi yang makin mudah dan murah. Juga dipicu berbagai kegiatan perfilman yang dilakukan penggiat film serta pemerintah berupa pelatihan, pemutaran, diskusi dan kompetisi.

Sineasnya datang dari berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, pekerja, pegawai, dan seniman dengan rentang usia muda hingga tua yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali.

Tujuan mereka membuat film juga beragam, mulai hanya sebagai tugas sekolah atau kuliah, untuk mengikuti kompetisi tertentu, hingga yang membuat film sebagai media ekspresi dan pengungkapan kegelisahan terhadap sebuah isu atau situasi lingkungannya.

Menurutnya, film dari Bali di Indonesia Raja 2015 melakukan eksplorasi yang cukup luas, baik dari teknis, genre dan tema film. Mulai film animasi yang kontemplatif, film horror yang menghibur, serta kepedulian pada isu sampah, pertanian, serta pendidikan.

“Pesan dari Bali cukup kuat dan diungkapkan secara lugas,” ujarnya.

Agung Yudha, sineas yang berhasil meloloskan 2 filmnya, menyebut kreativitas bisa menular jika terus ada apresiasi. “Pergerakan film di Bali tak pesat tapi tak diam. Ini mengubah paradigma Bali hanya jadi penonton,” serunya.

Di Bali, pemutaran film-film yang masuk Indonesia Raja dimulai Agustus ini di sejumlah lokasi seperti pusat belajar bahasa Perancis Alliance Française, Minikino, dan lainnya yang berminat melayarkannya. [b]

Tags: BaliDenpasarFilmKomunitas
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Next Post
Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Undiksha

Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Undiksha

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

19 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia