• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Gaya Petani Muda Bali Masa Kini

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
24 February 2025
in Kabar Baru, Pertanian
0
0
Marianti sedang mencabut bibit bunga pacar

Pertanian merupakan kegiatan pemanfaatan sumber hayati untuk menghasilkan bahan baku pangan hingga bahan baku industri. Bukan hanya padi dan gandum, Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 18 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani menyebutkan bahwa kawasan pertanian terdiri dari komoditas sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.

Seiring waktu, usaha pertanian semakin beragam. Pertanian di masa kini tidak hanya mengandalkan sawah, tetapi juga bisa menggunakan lahan pribadi. BaleBengong mewawancarai tiga petani di Bali untuk mengetahui bidang pertanian yang mereka tekuni. Berikut lima usaha pertanian yang dikelola anak muda di Bali.

Edible Flower

Edible flower milik Suamba

Komoditas pertanian edible flower atau bunga yang bisa dimakan hanya ada satu di Bali. Pertanian ini ditekuni oleh I Wayan Suamba, petani muda asal Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Ia mengembangkan edible flower pada tahun 2023.

Suamba mengaku pertanian ini terinspirasi dari sentra flora, Bina Usaha Flora (BUF) di Cipanas, Jawa Barat. “BUF itu banyak kirimannya ke Bali. Kirim-kirim bunga buat dekorasi gitu. Nah dari sana dah kenapa potensi ini kita garap, kita coba kembangin di wilayah Bali,” ungkap Suamba ketika ditemui di kediamannya.

Tanaman edible flower dapat tumbuh di tanah yang diberi pupuk, tanpa media tanam. Jika ditanam di dataran tinggi seperti di Payangan, tanaman bunga ini tidak perlu terlalu sering disiram. Meski begitu, bunganya akan tumbuh setiap hari karena selalu ada kuncup bunga yang muncul. Sayangnya, benih edible flower tidak ada di Indonesia. Suamba sendiri membeli benih tersebut dari Thailand.

Masyarakat Bali masih asing mengonsumsi edible flower. Maka dari itu, Suamba hanya menyalurkan hasil panennya ke restoran, hotel, dan villa untuk dijadikan garnish atau hiasan pada makanan. Sebelum disalurkan ke hotel, villa, dan restoran, bunga yang telah dipanen akan dikemas dalam kemasan makanan atau thinwall. Edible flower paling banyak dipesan ketika pariwisata sedang high season atau sedang ramai. Memasuki bulan Desember, permintaan bisa mencapai 200 kemasan hingga 300 kemasan.

Bibit Sayur

Bibit sayur di lahan milik Suamba

Pertanian bibit sayur saat ini semakin dikenal. Usaha pertanian ini juga sudah ditekuni oleh Suamba sejak tahun 2015. Selama sepuluh tahun, Suamba mengembangkan tanaman sayur semusim. Sayuran semusim memiliki siklus kehidupan antara dua bulan sampai tiga bulan. “Habis itu mati dia. Jadi satu kali panen,” terang Suamba.

Beragam tanaman sayur dikembangkan oleh Suamba, mulai dari terong, cabe, pokcoy, hingga selada. Selain sayuran, ada pula buah-buahan, seperti pepaya dan alpukat. 

Terdapat dua metode semai yang digunakan oleh Suamba, yaitu metode cabutan dan potray. Hasil pembibitan metode cabutan biasanya disalurkan ke petani-petani sekitar, sedangkan bibit metode potray disalurkan ke luar kabupaten, seperti Buleleng, Karangasem, dan Badung.

Usaha pertanian ini menghasilkan keuntungan yang menjanjikan jika terus ditekuni. “Anggaplah modal benih per saset Rp30.000. Kita semai benihnya bisa mendapat keuntungan kurang lebih Rp200.000. Modal Rp30.000, keuntungannya bisa sampai Rp200.000 satu sasetnya,” ungkap Suamba.

Meramban

Bayam yang tumbuh liar

Meramban adalah aktivitas pertanian yang membudidayakan tanaman liar. Metode ini akrab dilakukan oleh orang tua, yaitu memanfaatkan tanaman liar untuk makanan, seperti daun kayu manis dan daun sirih bumi.

Meramban ditekuni oleh Made Masak, seorang konsultan makanan di Bali. Made Masak telah menekuni pertanian ini dari tahun 2017. Keinginannya adalah mengenali kembali tanaman-tanaman yang mulai dilupakan dan menjadikannya bahan makanan sehari-hari.

Made Masak juga mengenalkan metode ini kepada beberapa petani di Bali. “Kemudian membantu petani untuk mengurangi penggunaan pestisida, mengurangi petani untuk membeli pupuk-pupuk, maupun itu pupuk organik karena kita harus beli kan sekarang. Artinya tidak terlalu lah harus membeli. Hanya menggunakan apa yang ada di dekat kebun,” ujar Made Masak.

Sebagai konsultan makanan, Made Masak menggunakan profesinya untuk memperkenalkan tanaman meramban dalam masakannya. Dalam pembuatan menu, sebisa mungkin produk yang ia gunakan datang dan tumbuh di Bali, serta menggunakan produk impor yang sedikit. “Dari situ saya bisa mengkoneksikan itu dengan petani juga. Saya bekerja sama dengan petani sekitar,” ungkap Made Masak.

Selain menjadi usaha pertanian, meramban juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan masakan-masakan tradisional Bali yang sudah dilupakan kepada orang luar. Tanaman dari hasil meramban juga dapat digunakan untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

Bunga untuk Upacara Keagamaan

Bunga gemitir milik Marianti

Upacara keagamaan di Bali tidak lepas dari kebutuhan terhadap tanaman bunga. Usaha pertanian bunga banyak ditemui di Kabupaten Badung. Salah satu petani muda yang menekuni usaha pertanian ini adalah Ni Ketut Marianti, petani muda di Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Ia baru menekuni pertanian sejak tahun 2022.  

Marianti menanam beberapa jenis tanaman di lahan sawah yang ia sewa, yaitu bunga pacar, bunga gemitir, dan bunga ratna. Ketiga bunga ini menjadi sarana upacara keagamaan di Bali.

Menanam bunga pacar membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Pasalnya, dari penanaman benih hingga berbunga membutuhkan waktu berbulan-bulan. Belum lagi perawatan dengan pestisida harus dilakukan secara berkala agar tanaman tumbuh dengan baik. Ketika panen pun belum tentu harga bunga mahal, bisa jadi hanya Rp2.000 per kg. Petani bunga harus mengamati harga di pasaran, biasanya harga paling tinggi terjadi ketika hari raya, seperti Galungan, Kuningan, Nyepi, dan Saraswati.

Ternak Babi

Babi di peternakan babi Marianti

Selain menjadi petani bunga, Marianti juga menekuni peternakan babi. Di belakang rumahnya, ia memiliki kandang babi yang diisi sekitar 10 anak babi dan 1 induknya. Dalam satu hari babi hanya perlu diberi makan dua kali. Pakan babi dapat dicampur dengan sisa makanan untuk mengurangi biaya pemeliharaan.

Ketika memberikan makanan, Marianti biasanya membersihkan kandang babi agar tidak banyak kotoran yang menumpuk. Kotoran itu ia buang ke tanaman untuk nanti diolah menjadi pupuk kompos.

Sama seperti penjualan bunga, menjual babi juga mengandalkan keuntungan. Harga babi bisa saja melonjak tinggi, tetapi tidak dipungkiri harganya bisa jatuh rendah.

Selain lima usaha pertanian di atas, masih banyak usaha pertanian lainnya yang dapat dicoba oleh anak muda. Usaha pertanian tidak melulu susah dan rumit, yang terpenting adalah ketekunan dan keuletan dalam menjalaninya.

kampungbet
Tags: alih fungsi lahan balipertanian balipetani muda bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Gaya Petani Muda Bali Masa Kini

Perjuangan Petani Muda Bali Masa Kini

26 February 2025
Pentingnya Bioteknologi Pertanian untuk Ketahanan Pangan

Pentingnya Bioteknologi Pertanian untuk Ketahanan Pangan

6 September 2021
Asa dan Elegi dalam Secangkir Kopi Kintamani

Asa dan Elegi dalam Secangkir Kopi Kintamani

20 August 2021
Next Post
Petani TWA Batur Kirimkan Banding Administrasi kepada Presiden dan Menteri Kehutanan

Petani TWA Batur Kirimkan Banding Administrasi kepada Presiden dan Menteri Kehutanan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia