• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Gadgad Community, Baju Organik Selaras Alam

Gede Apgandhi Pranata by Gede Apgandhi Pranata
23 March 2016
in Gaya Hidup, Kabar Baru
0
0

Komunitas Gadgad membuat kaos organik dengan bahan ramah lingkungan

Akibat keserakahan manusia, luasnya dunia terasa begitu sempit. 

Ketika kepadatan mulai tidak terbendung lagi. Keserakahan dan kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan menjadi sebuah bom waktu yang begitu mengerikan saat ini.

Sungai tercemar. Hutan gundul. Semuanya menjadi cerita usang yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus bagi setiap insan di bumi ini.

Namun, tidak sedikit yang sudah mulai menyadarinya. Tidak sedikit pula yang sudah mulai terjun untuk mewujudkan aksi peduli terhadap lingkungan, mulai dari perorangan hingga komunitas. Kegiatannya mulai dari membersihkan lingkungan sekitar, membersihkan sungai hingga menanam pohon.

Dari sekian banyak yang sudah mewujudkan sikap kepedulian terhadap lingkungan tersebut, ada salah satu komunitas asal Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung. Meski terbilang baru, namun komunitas ini sudah sukses menggaungkan sikap kepedulian terhadap lingkungan hingga ke negeri Gajah Putih, Thailand.

Namanya Gadgad Community.

I Gd Agustinus Darmawan, salah satu penggagas komunitas ini mengatakan sebelum terbentuknya komunitas ini, lebih dahulu pada tahun 2005 membentuk Gadgad Organic. Ketika itu Darmawan dan saudaranya, Wayan Hendra, hendak pergi ke Denpasar untuk mencari keperluan persembahyangan.

“Dalam perjalanan kami melihat sendiri sungai yang tercemar oleh berbagai sampah dan sisa olahan pabrik sekitar sungai tersebut,” katanya.

Pencemaran itu membuat mereka prihatin.

Mereka lalu berpikir untuk melakukan perubahan lingkungan sedikit demi sedikit. Salah satunya dengan memproduksi baju-baju ramah lingkungan. “Kami membentuk Gadgad Organic yang berlanjut dengan Gadgad Community,” ujarnya sembari memperlihatkan hasil karya mereka.

Produk yang mereka buat adalah sablon dan aneka ragam produk daur ulang (recycle). Dari awal, misi mereka adalah Back to Nature. Karena itu, tinta dalam proses penyablonan mereka racik sendiri menggunakan bahan-bahan alami.

Prosesnya panjang. Tidak jadi begitu saja. Bahan yang mereka racik sejak 2005 baru benar-benar tepat formulanya pada 2014 lalu.

Wayan Hendra punya filosofi kenapa mereka hanya menggunakan bahan-bahan alami. “Alam sebenarnya memang sudah menyediakan apa yang kita inginkan, namun kerakusan dan kurang mewujudkan sikap peduli lingkunganlah yang membuat semua seperti saat ini,” ujar Wayan Hendra.

Dalam perjalanannya, Gadgad Organic dibantu salah seorang teman mereka yang hingga kini masih tetap ikut berkecimpung di Gadgad Community yakni I Gd Wijayana.

Komunitas Gadgad memproduksi kaos organik berbahan alam
Foto Gadgad Community.

Dalam menjaga konsekuensi dan komitmennya untuk ikut mewujudkan peduli terhadap lingkungan, mereka memberikan sumbangan kepada alam. Setiap kali produk mereka terjual, mereka akan menggatinya dengan satu pohon, baik konsumen langsung yang akan menanam ataupun akan diserahkan kepada pihaknya untuk menanam.

“Ya kita berusaha terus untuk menjaga komitmen kita. Karena kita ambil dari bahan-bahan di alam, ya tentunya kita akan kembalikan ke alam,” tegas Hendra.

Cara mengembalikannya dengan menanam satu pohon dari setiap produk yang terjual, baik konsumen sendiri yang menanam ataupun menyerahkannya ke kita.

Menurut Hendra, apa yang mereka lakukan tersebut untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Tak hanya menanam pohon, komuntas ini juga melakukan aksi-aksi peduli lingkungan. Pada saat peluncuran produk akhir 2015 lalu, mereka juga mengadakan aksi bersih-bersih sungai, bersihkan sampah di gunung dan sebagainya.

“Itu acara rutin setiap bulan. Cuma kita tidak pernah memiliki hari dan tanggal yang pasti,” Hendra menambahkan.

“Namun biasanya kita selalu update via media social, karena kita sadar masing-masing dari kita dan anggota tentunya memiliki pekerjaan di luar ini,” imbuhnya.

Ketika ditanya tentang berapa banyak anggota mereka, Hendra menjawabnya jika anggota mereka lebih dari 50 orang. Mereka tersebar di beberapa kota besar di Bali bahkan hingga ke kota Gudeg Jogjakarta.

Untuk penjualannya sendiri selain dari door to door, mereka juga menjualnya lewat media social sperti Instagram (@gadgadorganic) dan di Facebook (GadgadOrganic).

Saat ditanya seputar rencana ke depannya, mereka mengatakan akan terus meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli dengan lingkungan. Kepedulian itu dalam wujud nyata, bukan sekadar wacana terlebih hanya mengikuti trand semata.

Selain itu terus mereka juga ingin mengadakan workshop agar lebih banyak orang turut serta menjaga lingkungan. [b]

Tags: BadungBaju OrganikClothingKomunitasKomunitas KreatifLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gede Apgandhi Pranata

Gede Apgandhi Pranata

Saat ini sebagai tukang tulis di sebuah media, suka melamun untuk menghasilkan satu paragraf tulisan. Tinggal di kawasan Denpasar.

Related Posts

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Next Post
Pelatihan Jurnalisme untuk Penyedia Layanan JKN

Pelatihan Jurnalisme untuk Penyedia Layanan JKN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

30 April 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia