• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Dokar di Denpasar Kian Terpinggirkan

Swastinah Atmodjo by Swastinah Atmodjo
9 November 2007
in Budaya, Kabar Baru, Teknologi, Travel
0
1

Sampai kapan dokar bertahan di Denpasar?

Siang itu di perempatan Jalan Kartini, Denpasar, Moh. Kusnan, 65, sedang asyik berbincang dengan dua rekannya Dewa Ngurah dan Wayan Pinen. Ketiganya pemilik sekaligus kusir dokar, moda angkutan tradisional yang ditarik dengan kuda.

Bertiga setengah malas memperbincangkan sepinya penumpang. Saat sekarang, kata Kusnan, penumpang dokar hanyalah sebagian kecil dari pedagang maupun pembeli di pasar-pasar tradisional. ”Sedikit sekali sekarang yang mau memanfaatkan jasa angkutan dokar,” keluhnya.

Dalam sehari Kusnan menarik dokar dari pukul 08.00 – 17.00 Wita, diselingi pulang sebentar untuk istirahat sekaligus memberi makan kuda. Rata-rata ia membawa pulang Rp 30.000- Rp 50.000 saja. Uang tersebut diantaranya untuk membeli bahan makanan kuda, semisal rumput dengan harga Rp 15.000 per karung.

Tarif dokar sangat murah, tergantung jauh dekatnya tujuan. Rp 5.000 – Rp 10.000 saja satu kali jalan. Satu dokar bisa menampung sampai tiga penumpang. Dari Pasar Badung sampai sekitar alun-alun (Lapangan Puputan Badung) atau turut balik ke tempat mangkal hanya Rp 5.000. Sementara sampai ke kawasan Sudirman atau Sanglah cukup dengan kocek Rp 10.000. Terkadang turis asing juga memilih angkutan ini, kata Kusnan, ”Namun jarang sekali.” Para kusir dipesan khusus sehari sebelumnya, oleh pemandu wisatanya. Untuk satu putaran ke lokasi wisata dalam kota, Kusnan memperoleh imbalan Rp 25.000 sampai Rp 50.000.

Ia membandingkan dengan era 1980-an, dimana dokar menjadi angkutan primadona masyarakat Denpasar. Jumlahnya lebih dari 400 unit. Karena perkembangan teknologi, lanjut bapak empat anak ini, dokar kian tersisih karena hadirnya sepeda motor dan mobil. Angkutan umum diambil alih bemo dan ojek. Kawasan Terminal Tegal yang awalnya menjadi tempat mangkal dokar-dokar di Denpasar, kini tiada lagi. Kusnan dan rekan-rekannya yang tidak lebih dari 30 kusir, memilih mangkal di dekat Pasar Badung-Kumbasari atau Pasar Kreneng.

”Kami sekarang mendekat ke pelanggan yakni pedagang dan pembeli di pasar, ada yang disini (Pasar Badung atau Kumbasari) dan sebagian di Kreneng. Jumlahnya antara 20 – 30 dokar saja. Yang lainnya sudah tidak sanggup menggantungkan hidup dari menarik dokar,” urai Kusnan dibenarkan Ngurah dan Pinen. Kalau bukan karena hobi, tambah Pinen, 45, ”Mungkin saya juga sudah cari pekerjaan lain.”

Kusnan juga memprihatinkan tidak adanya generasi penerus kusir dokar di Denpasar. menurutnya, para kusir dokar yang masih aktif sudah berusia tua dan tidak ada satu pun pemuda berminat melanjutkan. ”Termasuk anak saya, tidak ada yang mau.” Bila ini dibiarkan, ia memprediksi 5 -10 tahun lagi dokar tinggal kenangan.

Ni Wayan Rentig, salah seorang warga Denpasar dan biasa belanja ke pasar mengaku lebih senang memilih angkutan dokar. Selain murah, penumpang akan diantarkan kusir sampai depan rumah dan dibantu mengangkat barang belanjaan. ”Kalau naik taksi pasti lebih mahal. Dengan ojek juga susah karena belanjaan saya biasanya banyak. Bila memilih dokar, hanya satu penumpang saja dan tempatnya cukup lapang untuk menaruh barang-barang,” urai Rentig yang hanya cukup membayar Rp 10.000. Rentig berharap dokar akan tetap ada di Denpasar karena cucunya pun sering meminta jalan-jalan naik dokar.

Kabag Humas Pemkot Denpasar Made Erwin Suryadharma Sena pun berharap serupa. ”Memang keberadaan dokar semakin jarang lantaran perkembangan teknologi. Kami cuma bisa membantu untuk pelestariannya semisal dengan mengadakan lomba dokar hias setiap kali perayaan HUT Kota Denpasar. Tentu dengan kompensasi uang karena mereka seharian tidak menarik penumpang,” kata Erwin.

Para awal pengenalan wisata city tour, lanjutnya, Pemkot sempat memberikan pelatihan kepada para kusir dokar. Diantaranya tentang menjaga kedisiplinan di jalan raya, menjaga kebersihan, melayani penumpang dan sebagainya. Bahkan, tegasnya, sebuah perusahaan swasta memberikan baju seragam. ”Memang tidak semua tamu city tour memilih dokar, kami kan tidak bisa memaksa,” tambah Erwin yang menginformasikan akan adanya program di tahun 2008 yang khusus akan mempergunakan angkutan dokar. [b]

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Swastinah Atmodjo

Swastinah Atmodjo

Swastinah Atmodjo. Menulis lepas untuk The Jakarta Post dan pernah bekerja sebagai wartawan tetap di majalah Trust, majalah wanita Lisa, majalah Elite, harian Nusa, dan beberapa media lain. Sekarang jadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan tinggal di Sanglah, Denpasar Barat.

Related Posts

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Next Post

NakNik Community, Merayakan Keberanian dengan Teater

Comments 1

  1. wira says:
    18 years ago

    ini memang dilema, kalau pun nanti dokar tinggal kenangan, kita hanya bisa merelakan..

    *makanya yg blm pernah naik dokar silahkan naik dokar dan poto2 dulu sblm dokar punah

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia