Chaos Non Musica X Maternal Disaster Menguji Skena Musik Eksperimental di Bali

Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok (Thailand) dan Denpasar (Indonesia).

Inilah gerilya Pisitakun dan Wuttipong (Thailand), dan lainnya di Chaos Non Musica X Maternal Disaster.

Meskipun terus berjalan paralel dengan aliran arus utama, musik eksperimental di Asia terutama Asia Tenggara selalu mempunyai tawaran menarik: akar budaya, ketidak-mapanan teknologi, dan kondisi politik. Juga sempitnya pandangan tentang apa itu musik antara definisi dan masifnya konsumsi gempita pop di sekitarnya.

Bergerilya di antara sekian banyak talenta dan sedikitnya venue yang menerima. Kolektif-kolektif musik eksperimental Asia Tenggara memakai strategi primal ala Punk atau Hardcore; berjejaring, mengambil semua kesempatan, dan mencoba terus merangkul lewat semua improvisasi. Secara ketersediaan piranti bunyi, instrumen, tema, serta konsep yang ditawarkan.

Uniknya, secara organik, penggiat eksperimental di Bali merayap masuk melalui tawaran bebunyian analog dan digitalnya elektronik musik. Terinspirasi oleh awamnya musik klub dan dansa dan konteks pariwisata, Bali memberikan warna tersendiri di khazanah eksperimental musik indonesia. Berangkat dari lingkaran musik cadas seperti metal dan punk yang banyak terjadi tanah jawa, ataupun improvisasi bebas di ranah Jazz atau proyek-proyek kesenian berbasis bunyi di provinsi lainnya.

Ohoi Records, Grintabachan & Sooncrazy adalah penggiat utama Noise/Harsh Noise, Glibly Ninja menawarkan kegelapan analog Post-punk EBM, Diwagraya & Gumatat-gumitit Gospel menawarkan suasana ambient dan Jagajaga & Gabber Modus Operandi memberikan oktan tinggi dan definisi lain musik dansa lewat BPM cepat brutalitas bunyi mereka. Angkatan baru ini yang kemudian menjadi pengisi rutin malam experimental Chaos Non Musica paling tidak di 3 tahun terakhir.

Juga afiliasi antara kota semisal acara Tur Thailand-nya Grintabachan, Jagajaga di Jogja Noise Bombing dan juga Gabber Modus Operandi di CTM Festival Berlin 2019. Boleh dikata, Bali Selatan sudah punya taring sehingga penggiat garda depan seperti Yes No Klub Yogjakarta, afiliasi praktis dari Yesnowave sebagai salah satu dapur rekaman pemicu. Musisi yang juga berpengaruh di ranah eksperimental musik Indonesia sedari awal tahun 2000 melakukan kolaborasi mewadahi kerabat Asia Tenggara kami adalah:

Pisitakun (Thailand)

Seniman seni rupa yang berevolusi menjadi musisi experimental ini sarat akan makna. Antara afiliasi politik dan simbol-simbol budaya, komposisi elektroniknya merepresentasikan kengerian, curiga dan agresi primal. Dengan balutan alat tiup tradisional Thailand yang dirangkum menarik di Black Country dirilis dapur rekaman Chinabot, salah satu label Elektronik Pan-Asia yang paling diperhitungkan saat ini.

Sebagai aktivis, Pisitakun mencoba menarik garis abu antara manifesto politik dan budaya yang menjadi satu kesatuan akrobat bunyi. Tanpa semantik-semantik yang bias, dan presentasi menarik untuk definisi lanjut dari apa itu aksi politik.

Wuttipong (Thailand)

Projek pribadi dari gitaris legendaris ranah Indie Thailand; Desktop Error ini akan menawarkan soundscape dan Post Rock enigmatik. Sesuai kualitasnya sebagai salah komposer musik untuk film dan advertising Thailand yang berkualitas tinggi, Wuttipong akan mempresentasikan jeda dan spasi antara bunyi.

Bekerjasama dengan Maternal Disaster, merek produk lokal Indonesia yang sudah lebih dari satu dekade malang melintang dalam mendukung pergerakan mandiri musik-musik lokal dan internasional. Chaos Non Musica kali ini berusaha menyajikan pengalaman lintas budaya antara skena musik eksperimental Bangkok dan Denpasar. Acara ini akan diadakan di Grandpa Kitchen and Bar, Canggu, pada Selasa, 9 April 2019.

Dengan diadakannya acara seperti ini, harapannya publik akan semakin terbuka dengan berbagai macam musik yang dianggap kurang konvensional. Yang nantinya mudah-mudahan akan menjadi penyemangat untuk penggiat-penggiat industri kreatif. Khususnya di ranah musik lokal agar semakin beragam dalam menyajikan acara dan akan menjadi tongkat penyambung untuk regenerasi talenta-talenta baru.

Oleh: Aditya Surya Taruna & Tyara Pradini